Banyak Orang Korea Selatan Pilih Tak Punya Anak, Ini Alasannya
·waktu baca 4 menit

Tak semua manusia ingin memiliki keturunan, apalagi di era modern seperti sekarang ini. Faktor finansial menjadi salah satu dari sekian banyak alasan orang memilih untuk tidak punya anak.
Mereka yang memilih hidup tanpa anak setelah menikah disebut sebagai child free, dan tren ini tampaknya sudah mulai dilakukan oleh sebagian besar rakyat Korea Selatan.
Di Korea Selatan, hanya sedikit wanita yang memiliki anak, bahkan mereka memilih untuk tidak buru-buru punya keturunan. Tingginya biaya hidup dan mahalnya biaya pendidikan membuat sebagian besar rakyat Korsel khawatir akan keamanan finansial.
Lim Eun-young, misalnya, seorang pegawai negeri berusia 34 tahun yang mengaku belum siap untuk memulai mahligai rumah tangga karena baru pacaran beberapa bulan lalu. Tapi, dia juga punya kekhawatiran akan kesuburannya, sehingga memilih untuk membekukan sel telurnya.
Lim hanya satu dari 1.200 wanita lajang Korsel yang belum menikah dan menjalani prosedur pembekukan sel telur di CHA Medical Center. CHA adalah klinik kesuburan terbesar di Korea Selatan dengan 30 persen pasar fertilisasi in vitro (in vitro fertilization/IVF) atau bayi tabung.
“Sangat melegakan sekali dan membuat saya tenang setelah mengetahui bahwa saya punya telur sehat yang dibekukan di sini,” kata Lim sebagaimana dikutip Reuters.
Membekukan sel telur untuk bisa hamil di lain waktu adalah pilihan yang semakin populer di kalangan wanita di seluruh dunia. Tapi di Korea Selatan, sebagai salah satu negara dengan tingkat kesuburan terendah di dunia, lonjakan pengguna layanan CHA ini justru mengarah pada keputusan untuk tidak memiliki anak sama sekali.
Tingkat kesuburan–jumlah rata-rata anak yang lahir dari wanita selama masa reproduksi– di Korea Selatan hanya 0,81 pada 2021. Sementara negara-negara OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) tingkat rata-ratanya 1,59 pada 2020.
Padahal, pemerintah Korsel telah menggelontorkan dana yang sangat besar untuk mensubsidi dan memberi tunjangan pada setiap keluarga dan anak-anaknya. Tahun lalu, pemerintah Korsel menganggarkan 46,7 triliun won untuk mendanai kebijakan yang bertujuan mengatasi tingkat kelahiran rendah di negaranya.
Alasan rakyat Korea Selatan untuk tidak punya anak karena sistem pendidikan yang sangat kompetitif dan mahal sehingga anak-anak tidak cukup untuk belajar di sekolah saja, tapi juga harus les privat. Faktor lainnya adalah biaya sewa rumah yang juga terus meroket.
Saya mendengar dari pasangan kekasih yang sudah menikah di acara TV tentang mahalnya membesarkan anak, seperti biaya pendidikan dan lainnya. Semua kekhawatiran ini membuat tingkat pernikahan dan memiliki bayi semakin rendah,”
- Lim Eun-young -
Sama dengan Lim, Cho So-Young, perawat berusia 32 tahun juga berencana untuk membekukan telurnya Juli 2022 mendatang. Alasan dia belum menikah dan punya anak karena ingin baik secara finansial terlebih dahulu.
“Jika saya menikah sekarang dan melahirkan, saya tak ingin membiarkan anak saya hidup di lingkungan seperti yang saya miliki sekarang. Saya ingin perumahan yang lebih baik, lingkungan lebih baik, makanan yang baik untuk dimakan,” katanya.
Bukan hanya biaya hidup mahal yang membuat banyak rakyat Korea Selatan menunda pernikahan, dalam budaya mereka nikah dipandang sebagai prasyarat punya anak. Hanya 2 persen kelahiran di Korea Selatan terjadi di luar nikah ketimbang rata-rata negara-negara OECD yang mencapai rata-rata 41 persen.
Selain itu, wanita lajang Korea Selatan tidak bisa mendonorkan sperma dan penanaman embrio untuk punya keturunan. Syarat mutlaknya adalah mereka harus menikah. Menurut Jung Jae-hoon, seorang profesor studi kesejahteraan sosial di Seoul Women’s University, hal ini harus diubah jika Korsel ingin meningkatkan jumlah kelahiran dan pernikahan.
Jae-hoon mengatakan, pernikahan di Korea Selatan turun ke rekor yang paling rendah pada 2021, hanya 192.500. Jumlah itu turun sekitar 40 persen dari satu dekade sebelumnya.
“Setidaknya yang bisa dilakukan pemerintah adalah tidak menghalangi orang-orang di luar sana yang bersedia menanggung beban keuangan untuk memiliki bayi,” katanya.
Menurut survei Kementerian dan Keluarga Korsel pada 2020, yang lebih mengkhawatirkan adalah penurunan tajam statistik keinginan untuk memiliki anak. Sekitar 52 persen orang Korea Selatan berusia 20-an berencana untuk tidak memiliki anak ketika mereka menikah. Ini meningkat 29 persen dari tahun 2015.
