Banyak Sungai di Alaska Berubah Warna Jadi Oranye, Ikan Terpapar Logam Racun
ยทwaktu baca 3 menit

Gejala aneh perubahan iklim terjadi di wilayah terpencil Alaska utara. Sungai-sungai di wilayah tersebut berubah warna menjadi jingga yang tidak alami.
Fenomena ini menggambarkan kekhawatiran bagi daerah aliran sungai di seluruh Arktik yang kini dihadapkan pada pelepasan logam beracun akibat mencairnya lapisan es abadi.
Sebuah studi yang diterbitkan dalam Jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences menunjukkan, sungai-sungai berwarna oranye mungkin mulai menjadi pemandangan yang familiar di Arktik, seiring dengan pemanasan global.
Perubahan warna ini menimbulkan sejumlah masalah bagi ekosistem seperti di sepanjang Brooks Range, pegunungan yang membentang dari Alaska utara hingga Teritori Yukon di Kanada
Sungai Berubah Menjadi Oranye
Ketika air di sungai atau aliran air tampak berwarna oranye, biasanya hal itu merupakan hasil sampingan dari aktivitas penambangan. Seringkali, mineral sulfide di dalam tambang yang terbengkalai terpapar Udara an air, sehingga menyebabkannya teroksidasi.
Proses ini disebut drainase tambang asam (AMD) yang menghasilkan besi terlarut yang mengubah warna aliran sungai saat mengendap dan membentuk sedimen merah, oranye, atau kuning di dasar sungai.
AMD juga memasukkan asam sulfat ke dalam aliran sungai yang melarutkan logam berat lainnya seperti tembaga, timbal, dan merkuri ke dalam air.
Aliran sungai berwarna karat dan sangat asam sering ditemukan di tempat penambangan batu bara, penambangan ini sebagian besar terjadi di Appalachia Tengah dan Dataran Besar.
Namun, di bagian utara, sungai yang berwarna oranye di Pegunungan Brooks tidak ada hubungannya dengan AMD. Penyebab perubahan warna tersebut justru mencairnya lapisan es.
"Beginilah penampakan drainase asam tambang. Tapi di sini (Pegunungan Brooks) tidak ada tambang, permafrost mencair dan mengubah komposisi Kimia lanskap," kata Tim Lyons, ahli biogeokimia di University of California, mengutip Discover Magazine.
Ancaman Beracun Bagi Ikan
Studi baru menunjukkan bagaimana pencairan lapisan es abadi pemanasan global memungkinkan air dan oksigen mencapai mineral sulfide yang telah terkurung di bawah tanah selama ribuan tahun.
Pelapukan batuan kaya sulfida, kini membawa besi dan logam lainnya ke sungai yang mengubahnya menjadi warna jingga seperti yang terjadi pada AMD.
Studi baru ini berpusat di sekitar Sungai Salmon, yang memiliki air jernih hingga musim panas 2019, Ketika air tersebut mulai menunjukkan tanda-tanda perubahan warna yang masih bertahan hingga saat ini.
Setelah tiga kali pengambilan sampel antara Agustus 2022 dan Agustus 2023, para peneliti menemukan bahwa kadar logam di perairan sungai melebihi ambang batas toksisitas EPA bagi kehidupan akuatik.
Yang paling mengkhawatirkan adalah konsentrasi kadmium terlarut yang terdeteksi di Sungai Salmon. Logam ini, biasanya langka di ekosistem perairan dan sangat beracun bagi organisme perairan.
Kadmium dapat terakumulasi pada jaringan ikan dan memicu efek neurotoksik, yang menyebabkan perilaku tidak menentu yang berkontribusi pada kematian. Beruang dan mamalia lain yang memakan ikan dengan kadar kadmium tinggi juga dapat mengalami stress oksidatif dan kerusakan DNA.
Para peneliti mengatakan bahwa konsentrasi logam saat ini dalam jaringan ikan yang dapat dimakan tidak dianggap berbahaya bagi manusia, meskipun dampaknya pada beberapa spesies mungkin memiliki konsekuensi tidak langsung.
Pencairan Lapisan ES di Kutub Utara
Daerah aliran sungai Arktik telah merasakan dampak pencairan lapisan es. Sebuah studi pada tahun 2024, menemukan bahwa 75 aliran sungai di Pegunungan Brooks baru-baru ini berubah menjadi oranye dan keruh akibat melimpahnya zat besi dan logam beracun.
Dengan begitu banyak sumber kontaminasi potensial dan tidak adanya infrastruktur yang tersedia untuk menghentikan proses ini. Pola pencairan lapisan es yang berkelanjutan kemungkinan akan menyebar ke lebih banyak sungai di seluruh Arktik.
"Hanya sedikit tempat di Bumi yang masih belum tersentuh seperti sungai-sungai ini. Namun, bahkan di sini, jauh dari kota dan lana raya, jejak pemanasan global masih terlihat jelas. Tidak ada tempat yang luput dari dampaknya," Ujar Lyons.
