Kumparan Logo

Begini Tahapan Riset Tanaman Bajakah Sebelum Bisa Disebut Obat Kanker

kumparanSAINSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tanaman bajakah yang diklaim sebagai obat kanker. Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Tanaman bajakah yang diklaim sebagai obat kanker. Foto: Dok. Istimewa

Berkat prestasi tiga pelajar SMAN 2 Palangkaraya, tanaman bajakah mendadak viral. Hasil riset Yazid Rafly Akbar, Aysa Aurelya Maharani, dan Anggina Rafitri mengenai manfaat ekstrak tumbuhan bajakah membuat mereka memenangi medali emas di ajang World Invention Creativity (WICO) di Korea Selatan pada Juli 2019.

Riset mereka itu menyebutkan, ekstrak bajakah bisa membunuh sel kanker di tubuh tikus. Ini diramaikan berbagai media di Indonesia dengan klaim bahwa mereka telah menemukan obat kanker.

Medali emas dari ajang WICO. Foto: Dok. Istimewa

Menanggapi itu, Dr. dr. Andhika Rachman, SpPD, KHOM, dokter spesialis penyakit dalam RSCM mengatakan, sebaiknya masyarakat tidak buru-buru mengambil kesimpulan. Sebab, ada sejumlah tahapan riset yang harus dilalui sebelum suatu tanaman atau zat lain bisa dibilang obat kanker.

"Kita tidak semudah itu untuk bisa mengklaim sesuatu itu obat kanker atau tidak. Karena untuk sampai pada kesimpulan bahwa ini, obat kanker atau tidak, dia harus melalui pemeriksaan dan penelitian," tutur Andhika saat dihubungi kumparanSAINS, Jumat (16/8).

Riset penelitian ini, kata Andhika, bisa berjalan hingga bertahun-tahun demi memastikan tanaman atau obat itu aman dikonsumsi.

Adapun riset tahap pertama adalah uji laboratorium. Di tahap ini, efek ekstrak tanaman terhadap sel kanker dipelajari di dalam suatu cawan petri. Jika penelitian itu hasilnya bagus, maka para periset bisa melaporkannya di sebuah jurnal ilmiah.

embed from external kumparan

Setelahnya, peneliti bisa meningkatkan jenis pengujian pada obat. Para ilmuwan bisa mulai menguji ekstrak pada tikus dan hasilnya bisa dipublikasikan di jurnal.

"Baru berikutnya bisa dilakukan percobaan pada manusia dengan dosis berbeda-beda. Lalu kita lihat apakah ada efek samping yang muncul," kata Andhika.

5 Fase Uji Klinis

Percobaan pada manusia itu disebut uji klinis. Menurut American Cancer Society, ada lima fase uji klinis sebelum obat kanker bisa digunakan masyarkat luas.

Fase 0

Ini adalah fase paling awal dalam uji klinis. Tujuannya adalah untuk mempercepat proses perizinan obat. Fase 0 ini membantu peneliti menemukan apakah obat bekerja sebagaimana yang diharapkan atau tidak.

Biasanya, responden dalam fase 0 ini jumlahnya sedikit dan obat yang diberikan juga dalam dosis sangat rendah.

Dalam fase ini, periset akan mempelajari reaksi obat saat bertemu tumor, bagaimana obat bekerja di dalam tubuh manusia, dan bagaimana sel kanker di tubuh manusia merespons obat. Akibatnya, responden fase 0 ini harus menjalani biopsi, pemeriksaan sinar X, CT scan, dan pemeriksaan darah yang lebih sering.

Ilustrasi petugas laboratorium meneliti spesimen di laboratorium. Foto: REUTERS / Amir Cohen

Fase 1

Fase 1 ini dilakukan untuk memastikan tidak ada efek samping yang muncul pada manusia saat digunakan. Dalam fase ini, para peneliti juga mempelajari cara terbaik pemberian obat.

Fokus utama dalam fase 1 adalah untuk melihat apa yang obat lakukan pada tubuh dan sebaliknya. Biasanya, peserta riset yang dipelajari pada fase ini memiliki jenis kanker berbeda. Pada fase ini, periset menggunakan dosis berbeda-beda.

Fase 2

Jika berdasarkan uji klinis fase 1 obat itu dianggap aman, maka obat akan memasuki fase 2. Pada fase ini, jumlah responden semakin banyak dan mereka adalah pasien dari satu jenis kanker yang sama.

Dalam fase ini, para peneliti ingin mengetahui kemanjuran obat. Jika periset menemukan banyak pasien mendapat manfaat dari obat ini dan efek samping tidak begitu bermasalah, obat akan masuk ke fase 3.

Ilustrasi obat. Foto: Brett_Hondow via Pixabay.

Fase 3

Di fase ini, peneliti membandingkan keamanan dan keefektifan obat baru dengan pengobatan yang sudah ada. Pada fase 3 biasanya jumlah responden bisa mencapai ratusan orang.

Fase 4

Ini adalah fase pengawasan dampak jangka panjang dari obat baru. Biasanya, obat yang masuk ke fase 4 adalah obat yang telah mendapat izin dari otoritas obat-obatan.

Obat ini sudah bisa dokter berikan kepada pasiennya dengan menggunakan resep. Fase ini juga melihat aspek lain dari obat baru, seperti dampaknya pada kualitas hidup pasien kanker atau biayanya.

Ilustrasi kanker payudara. Foto: Waldryano/Pixabay