Belasan Anjing Mabuk Ganja Usai Makan Tinja Manusia
·waktu baca 4 menit

Belasan anjing di Australia mabuk ganja setelah makan tinja manusia, menurut laporan studi baru yang terbit di Australian Veterinary Journal. Temuan ini mengindikasikan bahwa anjing dapat keracunan dari feses manusia yang mengandung zat ganja.
Temuan riset tersebut didasarkan pada laporan rumah sakit hewan yang ada di wilayah Melbourne, Australia sejak 2011 hingga 2020. Dalam periode tersebut, setidaknya ada 15 anjing yang dilaporkan masuk ke perawatan gawat darurat karena keracunan ganja.
Seri kasus retrospektif ini menjelaskan sumber baru dan tak terduga untuk toksikosis ganja pada anjing; diduga menelan kotoran manusia yang mengandung tetrahydrocannabinol (THC).
- C. A. Lauinger dan R. Peacock, Australian Veterinary Journal, 2021 -
“Tes skrining obat urin dilakukan untuk delapan anjing dan semuanya positif THC," kata para peneliti dalam laporannya.
THC, atau tetrahydrocannabinol, merupakan bahan kimia yang bertanggung jawab atas sebagian besar efek psikologis ganja. Zat ini bertindak seperti bahan kimia cannabinoid yang dibuat secara alami oleh tubuh, menurut National Institute on Drug Abuse (NIDA) di AS. Ia muncul di tinja orang yang memakai ganja.
Para peneliti Australia menjelaskan, selain lewat pengujian urin, kasus keracunan ganja pada anjing di Melbourne juga dikonfirmasi oleh pengakuan 7 pemilik bahwa hewan peliharaan mereka telah memakan tinja manusia. Selain itu, ada pula 8 sampel muntahan anjing yang terkonfirmasi merupakan tinja manusia yang mengandung THC.
Sekarang, kamu mungkin bertanya-tanya, bagaimana bisa anjing makan kotoran manusia dan mengapa mereka melakukan itu?
Perlu dipahami, anjing memang merupakan hewan yang suka makan tinja, tindakan yang secara ilmiah disebut sebagai coprophagy.
Berdasarkan survei para peneliti lain di jurnal Veterinary Medicine and Science pada 2018 lalu, setidaknya 16 persen dari 3.000 pemilik anjing di AS dan Kanada melaporkan bahwa mereka pernah melihat hewan peliharaannya makan tinja lebih dari 6 kali—kriteria survei untuk didefinisikan sebagai pemakan kotoran.
Pemilik juga mencatat bahwa anjing mereka memakan kotoran spesies lain seperti kucing, sapi, kuda, burung liar, babi, domba, kambing, dan hewan piaraan lainnya. Di antara anjing pemakan tinja, 38 persen makan kotoran setiap minggu, dan 62 persen anjing makan kotoran setiap hari. Sebanyak 85 persen anjing pemakan tinja lebih suka makan kotoran segar yang berumur kurang dari 2 hari.
Hingga kini, alasan di balik tabiat anjing senang makan tinja masih belum dapat dipahami seutuhnya. Para peneliti menduga bahwa tabiat tersebut dapat ditelusuri dari leluhurnya: serigala.
“Sebuah hipotesis ditawarkan bahwa coprophagy mencerminkan kecenderungan yang diwarisi dari nenek moyang serigala untuk menjaga area sarang bebas dari parasit usus yang terbawa tinja yang mungkin disimpan di area istirahat sarang dan biasanya memiliki telur parasit yang awalnya tidak infektif, tetapi dapat berkembang larva infektif setelah 2 hari,” jelas peneliti.
Kembali ke kasus anjing keracunan ganja di Australia, para pemiliknya mengaku bahwa mereka melihat anjingnya makan tinja manusia di berbagai tempat. Sebanyak 10 anjing makan tinja manusia berzat ganja di taman lokal. Beberapa pemilik yang lain melihat anjingnya makan tinja manusia di pantai, perkemahan, dan jalan setapak.
Para peneliti tidak menjelaskan bagaimana bisa ada tinja manusia di tempat yang tidak seharusnya tersebut. Bagaimanapun, terkadang memang ada orang yang suka buang hajat sembarangan. Yang jelas, ketika orang buang hajat sembarangan dan tinjanya berisi zat ganja, ternyata punya dampak buruk bagi anjing-anjing di sekitar mereka.
Keracunan ganja membuat anjing-anjing tersebut mengalami masalah buang air kecil, muntah, kurang keseimbangan, tidak suka cahaya dan pupil melebar, kata para peneliti. Kasus yang serius bahkan dapat menyebabkan kematian. Untungnya, tidak ada anjing yang dilaporkan tewas akibat keracunan ganja dari tinja manusia.
Berdasarkan temuan ini, para peneliti mewanti-wanti agar pemilik anjing terus mengawasi kebersihan peliharaan mereka. Temuan ini juga menambah informasi baru bagi para tenaga kesehatan hewan atau pemilik anjing. Jika gejala seperti yang disebutkan di atas muncul, mungkin anjing tersebut sudah memakan tinja mengandung ganja.
"Kesadaran ini sebagai kemungkinan sumber paparan penting karena ada pertimbangan kesehatan dan keselamatan untuk anjing, pemiliknya, dan staf dokter hewan," kata studi tersebut menyimpulkan.
