Kumparan Logo

Cumi-cumi Raksasa Tertangkap Jaring Nelayan, Ungkap Perilaku Kawin Misterius

kumparanSAINSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Cumi-cumi raksasa yang tertangkap oleh jaring nelayan di Kyoto, Jepang.  Foto: Miyazu Energy Aquarium
zoom-in-whitePerbesar
Cumi-cumi raksasa yang tertangkap oleh jaring nelayan di Kyoto, Jepang. Foto: Miyazu Energy Aquarium

Seekor cumi-cumi betina terbesar di dunia yang dijuluki kraken alias monster laut dalam mitologi Yunani berhasil ditangkap di lepas pantai Jepang. Hasil analisis menunjukkan, cumi-cumi raksasa itu tampaknya menganut sistem monogami atau dengan kata lain kawin dengan satu jantan sekali seumur hidupnya.

Cumi-cumi betina itu diduga mengumpulkan sperma di dalam tubuhnya dari satu cumi-cumi jantan. Awalnya, para ilmuwan berpikir bahwa mereka mengumpulkan sperma dari banyak pejantan dari waktu ke waktu. Ini tak lain karena cumi-cumi dianggap sebagai hewan soliter.

Adapun cumi-cumi raksasa yang ditemukan kali ini berukuran panjang 1,6 meter. Ia kehilangan sepasang tentakel dan satu mata dengan berat mencapai 116,6 kilogram. Cumi-cumi itu tertangkap jaring nelayan di Kyoto dan ditampilkan di Miyazu Energy Aquarium sebelum akhirnya dibedah.

Perkawinan misterius

Dilaporkan Live Science, Noritaka Hirohashi, ahli biologi di Shimane University, Jepang, bersama rekannya mempelajari reproduksi dan biologi sperma pada beberapa spesies cumi-cumi. Yang paling misterius dari beberapa spesies cumi yang diteliti adalah Architeuthis dux, yakni cumi-cumi raksasa.

Spermatangia atau paket sperma tertanam di lapisan otot cumi-cumi betina. Foto: Miyazu Energy Aquarium

Kehidupan A. dux sangat jarang terlihat. Mereka memiliki siklus hidup yang diselimuti misteri laut dalam. Selama ini, hanya ada dua video yang pernah mengabadikan cumi-cumi raksasa berhasil ditangkap di habitatnya.

Satu-satunya hal yang ilmuwan ketahui ihwal perilaku kawin dari makhluk misterius ini adalah betina terkadang ditemukan dengan paket sperma besar yang dikenal sebagai spermatangia yang tertanam di otot mereka. Dalam sebuah makalah yang diterbitkan di jurnal Nature pada 1997 para peneliti menulis bahwa cumi-cumi raksasa jantan kemungkinan menggunakan penis memanjang untuk menyuntikkan paket sperma ke betina.

Namun, bagaimana sperma bertemu dengan sel telur tidak dijelaskan secara rinci. Ada kemungkinan betina melepaskan zat kimia untuk mengaktifkan sperma ketika dia siap untuk bertelur. Cumi-cumi betina punya organ di dekat mulut yang disebut wadah mani, tempat beberapa spesies menanam sperma dan mungkin saja pada spesies A. dux sperma yang tertanam dapat bergerak melalui kulit ke wadah mani.

Hasil analisis A. dux

Ketika Hirohashi dan tim memeriksa mayat cumi-cumi raksasa betina, mereka menemukan bahwa hewan itu baru saja mencapai fase kedewasaan dan memiliki spermatangia sepanjang 10 centimeter yang tertanam di lima lokasi terpisah--tiga berada di mantel cumi-cumi, satu di dekat lengan dan satu lagi di kepala.

Cumi-cumi raksasa di Selandia Baru. Foto: Brit Finucci/National Institute of Water and Atmospheric Research Ltd (NIWA)

Setiap lokasi menampung 10 spermatangia. Beberapa di antaranya berada di dekat luka yang mungkin disebabkan oleh paruh jantan saat ia kawin. Yang mengejutkan, analisis genetik spermatangia mengungkapkan bahwa setiap sperma berasal dari jantan yang sama. Spermatangia telah ditemukan pada betina yang belum dewasa, mungkin sebagai cara bagi jantan untuk membuat sperma mereka tersedia setelah betina matang.

Kendati begitu, penelitian Hirohashi hanya mengambil dari satu sampel cumi-cumi raksasa. Artinya, dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk memastikan monogami adalah hal yang lazim dilakukan di antara cumi-cumi raksasa betina. Sebab, mungkin saja cumi-cumi itu tak sempat bertemu dengan jantan lain karena terlebih dahulu terjerat jaring, atau mungkin memang mereka melakukan perkawinan monogami.

Luka yang ada di tubuh cumi-cumi betina kemungkinan adalah strategi jantan agar betina tidak kawin dengan jantan lain. Atau agresi dan luka bisa memicu betina untuk mempercepat proses bertelur sehingga cepat dibuahi. Semua itu bisa terjawab dengan penelitian lebih lanjut dengan sampel lebih banyak.