kumparan
31 Juli 2019 17:28

Dokter Jelaskan Bagaimana Polusi Udara Bisa Sebabkan Kanker Paru

KONTEN SPESIAL, Polusi Udara Jakarta
Cover Story Konten Spesial: Polusi Udara Jakarta. Foto: Indra Fauzi/kumparan
Kanker paru merupakan satu dari tiga jenis kanker yang paling banyak diidap masyarakat Indonesia. Jenis penyakit ini pula yang membuat Sutopo Purwo Nugroho mengembuskan napas terakhirnya. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat BNPB itu berpulang pada 7 Juli lalu setelah berjuang melawan sel-sel kanker ganas yang bersarang di paru-parunya.
ADVERTISEMENT
Kanker paru memang merupakan jenis kanker yang ganas. Satu dari lima kematian pasien seluruh jenis kanker disebabkan oleh kanker paru. Angka kematian yang disebabkan jenis penyakit ini bahkan bertengger di urutan tertinggi di antara jenis kanker lain. Sebanyak 1,7 juta orang meninggal setiap tahunnya karena kanker paru. Di Indonesia, kanker paru lebih banyak diderita oleh kaum Adam.
Selama ini kanker paru identik dengan perokok. Namun begitu, kanker paru sebenarnya juga bisa terjadi pada perokok pasif serta orang yang kerap terpapar zat kimia di lingkungan kerjanya.
Selain itu, polusi udara ternyata juga turut memicu timbulnya penyakit kanker paru. Polusi udara, yang terdiri atas campuran partikel kompleks dan gas yang mengalami modifikasi secara kimia di atmosfer, jika dihirup manusia bisa menyebabkan gangguan pada paru-paru.
Ilustrasi paru-paru
Ilustrasi paru-paru Foto: bykst
Sita Laksmi Andarini, dokter spesialis paru yang juga merupakan pengurus pusat Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), menjelaskan bagaimana polusi udara berpotensi menyebabkan kanker paru. Sita menjelaskan polutan yang bersifat karsinogen mampu mengubah sel normal menjadi sel kanker.
ADVERTISEMENT
Karena itulah, zat karsinogen tersebut, menurut penuturan Sita, berpotensi menimbulkan kanker secara langsung. Zat-zat karsinogen yang dimaksud misalnya adalah silika dan asbes.
“Kalau bahannya bersifat karsinogen, dia bisa mengubah sel normal menjadi sel kanker,” ujar Sita saat menjadi salah satu pembicara di acara Konferensi Pers yang diadakan PDPI dalam rangka memperingati Hari Kanker Paru Sedunia di Jakarta Timur, Rabu (31/7).
Dr.Sita L. Andarini, Doktor Spesialis Paru Rs Persahabatan.
dr. Sita Laksmi Andarini, Sp.P (K), Ph.D, dokter spesialis paru di MRCCC Siloam Hospitals Semanggi dan pengurus pusat Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI). Foto: Farida Yulistiana/kumparan
Sita memaparkan, sebenarnya sistem pernapasan manusia sangat rentan terhadap zat-zat kimia beracun, baik itu dalam bentuk gas maupun partikel padat yang halus. Namun untungnya, sistem pernapasan kita memiliki silia-silia yang berfungsi menyaring dan mengusir racun yang terkandung di dalam udara yang kita hirup.
Akan tetapi, zat kimia beracun dengan kadar tertentu di dalam polusi udara bisa merusak silia-silia tersebut. “Polusi masuk ke saluran napas dan merusak silia (yang berfungsi) untuk mengeluarkan racun. Dia dirusak oleh zat kimia kemudian masuk partikelnya (partikel karsinogen dari polusi udara) ke dalam paru,” jelas Sita.
ADVERTISEMENT
“Begitu masuk ke dalam sel (paru), (sel itu) tumbuhnya akan bertambah dan bentuknya (berubah) menjadi bentuk sel kanker,” ujar Sita lagi.
Penjelasan bahwa polusi udara bisa menyebabkan kanker paru ini tidak bisa lagi dianggap remeh terutama terutama oleh mereka yang tinggal di kota-kota dengan tingkat polusi udara tinggi, misalnya Jakarta. Hasil riset dari FKUI dan RSUP Persahabatan pada tahun 2012-2013 pernah menemukan, dari 300 pasien kanker paru di RSUP Persahabatan Jakarta, 12 orang atau 4 persennya terkait dengan risiko dari polusi udara.
Infografik Yang Rentan Terdampak Polusi Udara Jakarta.
Infografik Yang Rentan Terdampak Polusi Udara Jakarta. Foto: Putri Sarah Arifira/kumparan
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan