Kumparan Logo

Dulu Nyaris Punah, Bagaimana Manusia Bisa Bertahan Hidup?

kumparanSAINSverified-green

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Jasad manusia yang terkena awan panas saat letusan Gunung Berapi. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Jasad manusia yang terkena awan panas saat letusan Gunung Berapi. Foto: Shutter Stock

Sekitar 75 ribu tahun yang lalu, spesies manusia pernah berada di ambang kepunahan. Sebab, ada ledakan dahsyat dari supervolcano atau gunung berapi super yang terletak di Pulau Sumatra, Indonesia.

Gunung api super itu memuntahkan sekitar 2.800 kilometer kubik magma dan batu ke udara. Semburan abu vulkaniknya mengguyur sejumlah kawasan dan mengendap di Samudra Hindia, Laut Cina Selatan bahkan jauh sampai ke Danau Malawi di Afrika. Masa-masa mencekam itu juga menyebabkan menurunnya suhu global hingga di titik 18 derajat Celsius selama beberapa tahun pascaletusan.

Ilustrasi gunung meletus. Foto: ANTARA FOTO/Adwit B Pramono

Gunung api raksasa itu adalah Kaldera Toba. Kini, ia bersemayam di bawah Danau Toba yang mengelilingi Pulau Samosir. Saat dulu gunung api super itu meletus, efek ledakan yang ditimbulkannya disebut mencapai seratus kali lebih besar dari letusan Gunung Tambora, NTB, yang terjadi pada tahun 1815 silam. Padahal, dalam laporan Real Clear Science, letusan Gunung Tambora itu saja sampai menyebabkan “Tahun Tanpa Musim Panas”.

Ilustrasi Danau Toba. Foto: Dok. Kementerian Pariwisata

Namun ternyata dampak letusan dari Kaldera Toba lebih dahsyat. Selain mampu mengubah iklim bumi, efek ledakannya juga nyaris membuat manusia hanya tinggal sejarah.

Real Clear Science dalam laporannya mengutip sebuah buku bertajuk End Times: A Brief Guide to End of The World karya jurnalis sains Bryan Walsh. Dalam buku itu, Walsh mengajak kita untuk kilas balik puluhan ribu tahun silam.

Dalam buku tersebut, Walsh mengisahkan amukan gunung api raksasa Toba pernah menyebabkan curah hujan kala itu menurun hingga 45 persen. Dampaknya, jumlah vegetasi menyusut secara dramatis. Pohon-pohon berdaun lebar seperti cemara nyaris lenyap dari muka bumi.

Nah, kondisi tersebut lantas mengancam populasi Homo sapiens alias manusia. Sebagian besar dari mereka, sebut Walsh, kala itu masih menghuni kawasan Afrika dan Asia Selatan.

Lantas apa yang membuat mereka tetap bertahan hidup kala itu? Stanley Ambrose, antropolog dari University of Illinois mencoba menguak rahasia tersebut melalui sebuah hipotesisnya. Seperti yang dilaporkan Real Clear Science, Ambrose berasumsi bahwa budaya kolektif berhasil menyelamatkan manusia dari kepunahan akibat ledakan dahsyat supervolcano Toba.

kumparan post embed