Es di Kutub Mencair, Waspada Virus Ini Bangkit dari Tidur Panjang

3 Agustus 2021 9:32 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Runtuhnya Gletser Perito Moreno Foto: REUTERS/Andres Arce
zoom-in-whitePerbesar
Runtuhnya Gletser Perito Moreno Foto: REUTERS/Andres Arce
ADVERTISEMENT
Perubahan iklim perlahan mencairkan permafrost (tanah beku) yang telah membeku selama ribuan tahun di Kutub. Dan saat mencair, mereka dapat melepaskan dan membangunkan virus dan bakteri purba tertidur di dalam es.
ADVERTISEMENT
Hal ini tentu akan memunculkan penyakit baru (dan lama) menyebar di tempat-tempat yang dulu dianggap aman. Berikut beberapa penyakit yang dapat berkembang karena mencairnya es di Kutub.

Antraks

Dilansir Live Science, pada akhir Juli 2016, wabah antraks melanda kawanan rusa kutub di Siberia dan menewaskan lebih dari 2.000 orang. Beberapa orang juga dilaporkan jatuh sakit.
Pelakunya? Menurut pejabat setempat adalah bangkai rusa dari 80 tahun lalu yang tetap terkunci di lapisan es sampai musim panas mencairkan mereka.
Menurut ahli bakteriologi medis di Universitas Missouri Amerika Serikat, antraks terkenal kuat. Bentuk spora yang menular dikelilingi oleh cangkang protein yang dapat membuatnya tetapi aman dalam keadaan mati suri bahkan selama berabad-abad berada di tanah.
ADVERTISEMENT
Para peneliti juga telah memperingatkan selama bertahun-tahun bahwa jika tanah Siberia mencair, kuburan sapi dan rusa kutub yang terserang antraks dapat memicu epidemi baru.

Phocine Distemper Virus (PDV)

Virus ini sebelumnya hanya ada di Samudra Atlantik. Namun setelah tahun 2004, wabah ini menjangkiti berang-berang laut di negara bagian Alaska, AS, yang berbatasan dengan Samudra Pasifik.
Mencairnya es telah membuka jalur yang sebelumnya terhalang Lingkar Arktika. Jalur yang terbuka kemudian memungkinkan hewan yang terjangkit PDV bisa dengan mudah menyebarkan virus tersebut dari Atlantik Utara menuju wilayah Pasifik Utara.
PDV menyebar melalui cairan pernapasan ketika hewan berada melakukan kontak di darat atau di laut. Banyak spesies anjing laut dan berang-berang rentan terhadap virus ini, meskipun dalam derajat yang berbeda-beda.
Anjing laut leopard. Foto: jodeng via pixabay

Penyakit Zombie

Antraks bukan satu-satunya patogen yang berpotensi menunggu waktunya untuk mencair di lapisan es. Pada 2015, para peneliti mengumumkan virus raksasa yang mereka temukan di permafrost Siberia masih menular bahkan setelah 30.000 tahun
ADVERTISEMENT
Untungnya, virus ini hanya menginfeksi amuba dan tidak berbahaya bagi manusia. Tetapi keberadaannya masih menimbulkan kekhawatiran bahwa patogen yang lebih mematikan seperti cacar atau virus yang tak dikenal sekalipun mungkin bersembunyi di dalam es.
Meskipun bakteri-bakteri ini bisa disembuhkan dengan antibiotik, atau bakteri resisten, atau virus, risiko yang ditimbulkan tak boleh diabaikan apalagi jika patogen tersebut sudah lama tidak berkontak dengan manusia karena dapat mengakibatkan sistem kekebalan tubuh yang tidak siap.