Fenomena Ekuinoks Vernal Sambangi Indonesia Hari Ini, Apa Itu?

21 Maret 2023 13:45
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Wisatawan menyaksikan matahari tenggelam saat berwisata gurun pasir di Dubai, Uni Emirat Arab, Kamis (15/12/2022). Foto: Wahyu Putro A/Antara Foto
zoom-in-whitePerbesar
Wisatawan menyaksikan matahari tenggelam saat berwisata gurun pasir di Dubai, Uni Emirat Arab, Kamis (15/12/2022). Foto: Wahyu Putro A/Antara Foto
Fenomena Ekuinoks vernal jatuh pada hari ini, Selasa (21/3). Sebagian wilayah Indonesia akan mengalami kulminasi, atau hari tanpa bayangan. Momen ini berdekatan dengan Ramadhan, yang artinya durasi puasa hampir merata di seluruh bagian Bumi.
Ekuinoks adalah momen di mana gerak semu Matahari berada di atas garis khatulistiwa. Ekuinoks terjadi dua kali dalam satu tahun, pada Maret dan September. Lawan ekuinoks adalah solstis, atau titik balik Matahari, yang terjadi setiap Juni dan Desember.
Ekuinoks pada Maret bernama ekuinoks vernal. Dan ekuinoks pada September kadang disebut ekuinoks musim gugur.
Bumi mengitari Matahari dengan kemiringan 23,5 derajat di porosnya. Kemiringan ini membuat proyeksi Matahari di permukaan bumi berosilasi ke atas dan ke bawah. Siklus ini bertanggung jawab atas terbentuknya musim.
Ekuinoks vernal sendiri adalah gerakan semu Matahari dari selatan menuju utara Bumi.
Seiring Matahari bergerak, beberapa wilayah yang disapu akan mengalami kulminasi. Ketika tengah hari, Matahari akan berada berada persis di atas, menciptakan momen tanpa bayangan.
Karena Indonesia membentang dari 6 derajat LU hingga 11 derajat LS, Indonesia dapat jatah 44 hari kulminasi, baik untuk ekuinoks vernal atau musim gugur.
Warga berjalan saat matahari tepat berada di titik zenith di Jalan Cikini, Jakarta, Rabu (4/3).
 Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Warga berjalan saat matahari tepat berada di titik zenith di Jalan Cikini, Jakarta, Rabu (4/3). Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan
Di hari ekuinoks vernal, wilayah yang mendapat kulminasi adalah wilayah khatulistiwa. Ada 11 kota Indonesia yang dilalui garis ini, yakni Pasaman Barat, Koto Alam, dan Bonjol (Sumatra Barat), Pangkalan Lesung (Riau), Lipat Kain (Riau), Tanjung Teludas (Kepulauan Riau), Pontianak (Kalimantan Barat), Santan Hulu (Kalimantan Timur), Tinombo Selatan (Sulawesi Tengah), Kayoa (Maluku Utara) dan Raja Ampat (Papua Barat Daya).
Sementara itu, wilayah Indonesia lain sisi utara khatulistiwa akan dapat jatah setelah hari ini, hingga 5 April 2023. Dan wilayah di selatan sudah dapat kulminasi duluan sejak 20 Februari 2023 kemarin.
"Ekuinoks juga menjadi bagian dari Kulminasi Indonesia, karena Indonesia juga dilalui garis khatulistiwa," kata Andi Pangerang, Pusat Riset Antariksa BRIN, di situs Edusainsa BRIN.
Kulminasi juga terjadi pada ekuinoks musim gugur.
Ekuinoks September terjadi pada 23 September 2023, dan kulminasi wilayah Indonesia akan terjadi secara bergiliran 8 September hingga 22 Oktober 2023.

Durasi puasa yang seragam

Posisi semu Matahari memengaruhi musim, yang kemudian juga mempengaruhi panjang siang dan malam di bagian bumi tertentu.
Ekuinoks saat ini bertepatan beberapa hari menjelang Ramadhan 1444H.
Dampaknya, baik belahan bumi utara maupun selatan kebagian durasi puasa yang hampir sama, yakni sekitar 12 jam, dengan margin 1 hingga 2 jam.
Ini berbeda jika Ramadhan jatuh ketika belahan bumi utara atau selatan sedang menjalani musim, misal bulan Juni ketika belahan bumi utara sedang musim panas.
Jika puasa jatuh ketika titik balik Matahari (solstis) maka belahan bumi yang sedang musim panas akan dapat jatah durasi puasa paling lama. Ambil contoh Rusia ketika musim panas, jarak dari dari Matahari terbenam hingga tenggelam bisa mencapai 17 jam.