Gara-gara Wabah, Peternak di China Kembangkan Babi Raksasa 500 Kg

China sedang terkena wabah demam babi Afrika yang berbahaya. Wabah itu telah membunuh sepertiga babi di China yang menyebabkan semakin mahalnya harga babi sehat di sana.
Akibatnya, banyak peternak di China yang mengembangbiakkan babi berukuran besar. Menurut laporan Bloomberg, di Provinsi Guangxi ada babi yang beratnya mencapai 500 kilogram. Jika dijual, harga babi itu diperkirakan bisa mencapai 10.000 yuan atau sekitar Rp 19 juta.
China adalah konsumen babi terbesar di dunia. Warga China mengonsumsi setengah dari seluruh babi yang dimakan di seluruh dunia. Tapi, karena wabah demam babi Afrika, industri babi di sana jadi terancam.
Karena itu, para peternak babi di China berusaha mencari solusi untuk mengatasinya. Para peternak berusaha meningkatkan profit dengan memperbesar ukuran babi yang mereka jual. Sebab, harga satuan bayi babi untuk mereka pelihara telah semakin mahal dan munculnya kekhawatiran adanya kemungkinan infeksi demam babi Afrika pada ternak baru mereka.
Sebenarnya, ukuran babi yang para peternak di China pelihara tidak terlalu ekstrem. IFL Science melansir bahwa biasanya babi yang akan dipotong memiliki berat sekitar 110 kilogram. Sekarang, standar itu naik jadi 140 kilogram.
Di Provinsi Jilin, di mana babi potong biasanya memiliki berat 125 kilogram, para peternak berusaha untuk memotong babi yang beratnya mencapai 200 kilogram.
Sejak pertama kali kasus demam babi Afrika dilaporkan pada Agustus 2018, China telah kehilangan setidaknya 100 juta babi. Demam babi Afrika adalah virus agresif yang secara alami menginfeksi babi liar dan babi ternak.
Virus ini mematikan bagi para babi. Virus bisa membunuh babi yang terinfeksi dalam hitungan hari. Wabah virus ini sering disebut sebagai "Ebola babi" karena sifatnya yang mematikan. Virus ini telah menyebar ke negara-negara sekitar China, seperti Korea Selatan, Mongolia, hingga Vietnam.
