Gerhana Matahari di Langit Jakarta Hanya Terlihat 72 Persen

Gerhana Matahari Cincin melewati sebagian wilayah di Indonesia. Dari pantauan kumparanSAINS di Jakarta, piringan Bulan sudah mulai mendekati piringan Matahari, tapi hanya sebagian kecil saja pada pukul 10.52 WIB. Sementara puncak gerhana terjadi pada pukul 12.36 WIB.
Cecep Nurwendya dari Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama RI, menjelaskan, kawasan Jakarta memang hanya bisa mengamati Gerhana Matahari Parsial. Karena, daerah yang dilewati Gerhana Matahari Cincin hanya dalam radius 118 kilometer, mulai dari Arab Saudi, India, Sumatera, sampai Kalimantan.
“Di luar radius itu tidak mendapatkan bayang-bayang utama tapi bayang-bayang samar, penumbra. Nah, di tempat itu akan melihat Gerhana Matahari Sebagian, termasuk Jakarta. Kita bisa melihat, tapi tidak cincin, hanya 72 persen,” ujar Cecep di Planetarium Jakarta, Kamis (26/12).
Fenomena Gerhana Matahari Cincin membentuk wujud matahari persis seperti cincin ketika dilihat dari Bumi. Penyebabnya, posisi Matahari, Bulan, dan Bumi, tepat berada dalam satu garis dan pada saat itu, piringan Bulan yang teramati dari Bumi lebih kecil daripada piringan Matahari.
Gerhana Matahari Cincin dapat disaksikan di Aceh mulai pukul 10.03, dan puncaknya terjadi pada 11.49 WIB.
Cecep mengimbau masyarakat yang ingin melihat fenomena ini untuk tetap memperhatikan keselamatan mata. Perangkat bantuan yang digunakan, seperti teleskop dan kacamata khusus, tetap harus dilengkapi tambahan filter.
“Hati-hati kalau menggunakan teleskop atau kamera, kenapa? Itu sangat berbahaya kalau tidak pakai filter matahari,” ujarnya.
Kendati begitu, ia memperingatkan melihat gerhana dengan kacamata khusus tidak disarankan lebih dari satu menit.
Untuk menyaksikan fenomena langka ini, Planetarium Jakarta menyediakan 16 teleskop bagi masyarakat yang ingin memantau gerhana. Salah satu teleskop yang disediakan merupakan tipe Barride Optics BN-900EQ IV-S Unit A.
