Ilmuwan Bikin Vaksin Coronavirus Penyebab Penyakit Misterius di China

National Institutes of Health (NIH) menyatakan tengah mengembangkan vaksin untuk melawan coronavirus jenis baru asal Wuhan, China, yang telah menginfeksi lebih dari 200 orang, serta menewaskan empat korban jiwa. NIH merupakan lembaga milik pemerintah Amerika Serikat yang menangani riset biomedis dan layanan kesehatan masyarakat.
“NIH sedang dalam proses mengambil langkah pertama menuju pengembangan vaksin,” ujar Dr. Anthony Fauci, Direktur National Institutes of Allergy and Infectious Diseases, dikutip CNN, Selasa (21/1).
Menurut Fauci, butuh waktu beberapa bulan sampai fase pertama uji klinis bisa dilakukan dan lebih dari setahun sampai produk final vaksin tersedia. Petugas kesehatan akan menjadi kelompok pertama yang menerima vaksin coronavirus, karena profesi mereka berisiko tinggi terpapar infeksi dari pasien.
Selain periset dari NIH, tim ilmuwan di Texas, New York, dan China juga tengah mengupayakan vaksin serupa.
“Pelajaran yang kami terima adalah infeksi coronavirus (sifatnya) serius dan salah satu ancaman kesehatan global terbaru dan terbesar,” ujar Dr. Peter Hotez, seorang ilmuwan vaksin di Baylor College of Medicine di Houston, Texas, AS.
Hotez menambahkan, pengembangan vaksin coronavirus tidak semenantang vaksin penangkal HIV dan influenza. Menurutnya, pembuatan vaksin untuk virus ini masih relatif mudah. Ia juga menyebut, langkah serentak para ilmuwan dalam merespons wabah coronavirus sangat luar biasa, mengingat kasus pertama teridentifikasi kurang dari 2 bulan lalu.
Seorang warga Wuhan pertama kali dilaporkan terinfeksi virus pada 12 Desember 2019. Virus kemudian menjalar ke puluhan warga lainnya. Penyebarannya terhitung cepat. Sebab tak sampai sebulan, WHO mengonfirmasi kasus lain muncul di Thailand pada 8 Januari 2020. Seminggu kemudian, giliran Jepang melaporkan penyebaran coronavirus juga telah sampai di negara mereka.
Sejauh ini, laporan terkait jumlah warga yang terjangkit virus melonjak drastis. Hingga Senin (20/1), jumlah warga yang terduga terinfeksi mencapai 223 orang, mayoritas berdomisili di Wuhan yang menjadi pusat wabah. Beberapa pasien juga berasal dari Beijing dan Shanghai.
Berdasarkan laporan Komisi Kesehatan Nasional China, dua warga di Provinsi Guangdong tertular coronavirus akibat kontak dengan orang yang terinfeksi. Ini sekaligus menjadi kasus pertama penularan dari manusia ke manusia. Perpindahan coronavirus antarmanusia bisa dikatakan jarang terjadi, karena 80 persen virus yang masih satu keluarga dengan SARS ini biasa ditularkan dari binatang ke manusia atau zoonosis.
Kendati begitu, asal usul penularan wabah di Wuhan masih ditelusuri. Dugaan sementara, virus ditularkan dari hewan ke manusia karena pusat wabah diyakini berasal dari pasar ikan setempat yang kini ditutup untuk desinfeksi.
Pakar kesehatan mengaitkan wabah dengan penyakit pneumonia berat. Pneumonia sendiri merupakan infeksi atau peradangan akut di jaringan paru yang disebabkan oleh berbagai mikroorganisme, seperti bakteri, virus, parasit, jamur, paparan bahan kimia, atau kerusakan fisik baru.
