kumparan
15 Januari 2020 8:42

Ilmuwan Temukan Kelemahan Makhluk Terkuat di Muka Bumi

Tardigrada, makhluk mikroskopis tekuat di Bumi.
Tardigrada, makhluk mikroskopis tekuat di Bumi. Foto: commons.wikimedia.org
Tardigrada! Namanya mungkin masih terdengar cukup asing. Ia adalah salah satu organisme mikroskopik yang juga makhluk terkuat di muka Bumi.
ADVERTISEMENT
Makhluk yang memiliki julukan sebagai water bear atau beruang air itu kebal terhadap radiasi kosmik. Saking kuatnya, tardigrada masih bisa bertahan hidup di ruang hampa udara.
Beberapa kondisi ekstrem seperti suhu beku, nol oksigen, hingga tekanan tinggi, juga tak akan berhasil membunuh tardigrada. Itulah mengapa para ilmuwan menyebutnya sebagai makhluk terkuat yang bisa bertahan hidup bahkan hingga kiamat nanti.
Dalam sejarahnya, tardigrada bahkan pernah lolos dari lima kepunahan massal yang pernah terjadi di Bumi.
Tardigrada, makhluk tekuat di Bumi.
Tardigrada, makhluk mikroskopis tekuat di Bumi. Foto: flickr/widomirama
Saat ini, ada sekitar 1.300 spesies tradigrada yang hidup di Bumi. Mereka memilih tinggal di lingkungan yang basah seperti air tawar. Tradigada gemar hidup bersama organisme lain seperti lumut dan alga.
Meski berukuran kecil, tubuh tradigrada gempal dengan delapan kaki kecil yang kekar. Jika dilihat-lihat, makhluk ini sebenarnya cukup menggemaskan.
ADVERTISEMENT
Di balik julukannya sebagai makhluk terkuat Bumi, bukan berarti tradigrada tak bisa dilenyapkan. Sebab sebuah riset teranyar yang terbit dalam jurnal Scientific Reports, mengungkapkan letak kelemahan dari organisme mungil berukuran antara 0,3 hingga 0,5 milimeter itu.
Kunci kelemahan makhluk ini, menurut riset, terletak pada paparan suhu tinggi dalam jangka waktu yang lama. Semakin lama suhu dipertahankan, semakin rendah pula peluang tardigrada untuk bertahan hidup.
"Kami mengevaluasi efek paparan terhadap suhu tinggi pada tardigrada aktif dan kering, dan kami juga menyelidiki efek periode aklimasi singkat pada hewan aktif," papar ahli biologi, Ricardo Neves dari University of Copenhagen, Denmark, yang terlibat dalam penelitian ini.
Untuk tardigrada aktif yang belum terbiasa hidup dengan suhu yang lebih tinggi, tingkat kematian populasinya mencapai 50 persen setelah menghabiskan waktu selama 24 jam dalam suhu 37,1 derajat Celcius.
ADVERTISEMENT
"Dari penelitian ini, kita dapat menyimpulkan bahwa tardigrada aktif rentan terhadap suhu tinggi, meskipun tampaknya makhluk ini akan dapat menyesuaikan diri dengan peningkatan suhu di habitat alami mereka," ujar Neves, dikutip dari Science Alert.
Dari riset ini, peneliti mengungkapkan tentang pentingnya memahami dampak kenaikan suhu global yang ditimbulkan perubahan iklim antropogenik pada semua makhluk yang hidup di Bumi. Sebab, ternyata, perubahan iklim bisa membuat makhluk-makhluk misterius sekelas tardigrada justru merasa kesulitan untuk bertahan hidup.
Dalam sebuah studi yang dipublikasikan tahun 2017 lalu juga disebutkan, bahwa satu-satunya cara untuk memusnahkan tardigrada adalah dengan mendidihkan seluruh lautan di permukaan Bumi.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan