Peneliti Ungkap Rahasia di Balik Ketangguhan Makhluk Terkuat Bumi

Para peneliti akhirnya berhasil mengungkap rahasia di balik ketangguhan tardigrada, hewan mikroskopik yang disebut-sebut sebagai makhluk terkuat di Bumi. Menurut tim peneliti, ada sebuah protein khusus yang membantu tardigrada bisa bertahan hidup di kondisi ekstrem.
Temuan ini diungkap tim peneliti dari University of California San Diego. Hasil detail temuan mereka telah dipublikasikan di jurnal eLife pada 1 Oktober 2019.
Makhluk mikroskopis ini memiliki panjang sekitar 0,012 hingga 0,020 inci. Dia bisa hidup dalam suhu hingga 151 derajat Celsius, dan dapat hidup dalam keadaan beku.
Tardigrada ada di seluruh sudut Bumi. Bahkan, gara-gara Israel gagal mendarat dengan mulus di Bulan, diduga ada ribuan tardigrada di Bulan.
Dalam riset ini, tim peneliti UC San Diego menginvestigasi mekanisme biologis di balik kemampuan bertahan hidup yang tardigrada miliki.
Sebelumnya, ada peneliti yang mengidentifikasi sebuah protein yang hanya ditemukan pada tardigrada. Protein ini disebut Dsup (Damage suppression protein) dan diketahui membantu melindungi tardigrada dari sinar X berbahaya. Meski begitu, tidak diketahui pasti bagaimana protein itu bisa memberikan perlindungan dari radiasi tersebut.
Untuk menemukan hal itu, tim peneliti menggunakan analisis biokimia untuk menyelidiki Dsup. Mereka menemukan bahwa Dsup mengikat chromatin, senyawa yang mengandung DNA dan protein yang biasanya ditemukan pada kromosom di dalam sel.
Menurut riset, ketika Dsup mengikat chromatin, ada sebuah "awan pelindung" yang terbentuk. Awan itu melindungi sel dari efek merusak molekul yang sangat reaktif, yaitu hydroxyl radikal. Molekul itu bisa terbentuk akibat paparan sinar X.
"Kita sekarang memiliki penjelasan molekuler atas bagaimana Dsup melindungi sel dari paparan sinar X," ujar anggota tim peneliti, James T Kadonaga, kepada Newsweek.
"Kami menemukan bahwa itu memiliki dua bagian, satu bagian mengikat chromatin dan sisanya membentuk semacam awan pelindung DNA dari hydroxyl radikal," lanjut dia.
Menurut tim peneliti, temuan ini tidak hanya meningkatkan pemahaman kita terhadap makhluk terkuat di Bumi itu. Temuan ini juga membantu peneliti untuk mengembangkan sel hewan yang bisa hidup lebih lama di kondisi ekstrem.
"Teorinya, adalah suatu hal yang sangat mungkin untuk mendesain Dsup versi optimal untuk perlindungan bagi DNA dari berbagai jenis sel berbeda," papar Kadonaga.
"Dsup mungkin bisa dimanfaatkan dalam sejumlah hal, seperti terapi berbasis sel dan alat diagnostik, yang dalam hal ini peningkatan kelangsungan hidup sel tentu adalah hal yang bermanfaat (untuk bidang tersebut)," imbuh dia.
