Ilmuwan Temukan Kuburan Paus Terbesar Berusia 5 Juta Tahun di Samudra Hindia
·waktu baca 4 menit

Para ilmuwan menemukan kuburan paus raksasa di dasar Samudra Hindia yang membentang hingga ratusan kilometer. Sebagian fosil tulang paus di lokasi itu bahkan diperkirakan telah berusia lebih dari 5 juta tahun.
Lokasi laut dalam tersebut dijuluki Diamantina Zone necropolis dan disebut sebagai akumulasi bangkai serta fosil paus terbesar yang pernah ditemukan sejauh ini.
“Lokasinya membentang lebih dari 1.200 kilometer dan itu benar-benar sulit dipercaya,” kata Nick Pyenson, kurator mamalia laut fosil di Smithsonian National Museum of Natural History, Washington DC, yang tidak terlibat dalam penelitian sebagaimana dikutip Live Science.
Menurutnya, istilah megasite atau situs raksasa sangat tepat untuk menggambarkan temuan tersebut.
“Saya rasa mereka menemukan sesuatu yang benar-benar luar biasa,” ujarnya.
Penelitian ini dipimpin oleh Xiaotong Peng, peneliti laut dalam dari Institute of Deep-sea Science and Engineering, Chinese Academy of Sciences. Bersama timnya, mereka menggunakan kendaraan selam Fendouzhe untuk memetakan dasar laut di Zona Diamantina, kawasan patahan dan punggungan laut di tenggara Samudra Hindia.
Diterbitkan di jurnal Nature, awalnya tim hanya menemukan satu fosil. Namun setelah melakukan 32 kali penyelaman dan menyurvei area sekitar 0,64 kilometer persegi, mereka berhasil mengidentifikasi 476 fosil paus dan lima bangkai paus yang relatif baru, atau dikenal sebagai whale fall.
Seluruh temuan itu berada pada kedalaman antara 4.200 hingga 7.000 meter di bawah permukaan laut. Berdasarkan perhitungan tim, setiap satu kilometer persegi di area tersebut berpotensi menyimpan 7 hingga 8 bangkai paus dan sekitar 750 fosil paus.
Bangkai Paus Jadi Rumah Ekosistem Laut Dalam
Bangkai terbesar yang ditemukan merupakan kerangka sepanjang sekitar 5 meter dari paus minke Antartika (Balaenoptera bonaerensis). Namun sebagian besar sisa-sisa yang ditemukan berasal dari paus berparuh (beaked whale), kelompok mamalia laut yang masih minim dipahami karena hidup di laut lepas dan sering menyelam sangat dalam.
Lima bangkai paus aktif yang ditemukan ternyata menjadi rumah bagi komunitas organisme unik. Permukaan bangkai dipenuhi bakteri yang mampu hidup tanpa cahaya dan oksigen. Bakteri ini memecah minyak dalam tulang paus dan menghasilkan hidrogen sulfida sebagai sumber energi kimia.
Energi tersebut kemudian menopang kehidupan berbagai organisme seperti ubur-ubur, bintang ular laut, cacing pemakan tulang Osedax, hingga moluska bercangkang dua. Kepadatan organisme di sekitar bangkai bahkan mencapai 2.840 individu per meter persegi.
Yang lebih menarik, para peneliti menduga banyak organisme tersebut kemungkinan merupakan spesies baru yang belum pernah tercatat sebelumnya. Dari seluruh sampel yang dianalisis menggunakan DNA, hanya satu yang berhasil diidentifikasi hingga tingkat spesies, yakni kerang Abyssogena southwardae.
Stephen Godfrey, kurator paleontologi di Calvert Marine Museum, Maryland, menyebut kepadatan kehidupan di sana sangat mengejutkan.
“Setiap bangkai paus seperti restoran kecil baru yang dibuka di sepanjang koridor 1.200 kilometer,” katanya.
Fosil Berusia 5 Juta Tahun dan Spesies Baru
Komunitas whale fall yang ditemukan juga menjadi yang terdalam yang pernah tercatat. Salah satunya berada di kedalaman sekitar 6.700 meter, atau sekitar 2.500 meter lebih dalam dibanding komunitas bangkai paus terdalam yang sebelumnya diketahui.
Tim peneliti berhasil mengangkat 43 fosil dan menentukan usia 33 di antaranya melalui analisis isotop stronsium. Fosil tersebut berasal dari lima spesies paus berparuh dan satu spesies paus balin, kelompok paus yang mencakup paus kepala busur dan paus bungkuk.
Fosil tertua berasal dari genus paus berparuh yang telah punah, Pterocetus, dan diperkirakan hidup sekitar 5,3 juta tahun lalu pada awal era Pliosen. Selain itu, peneliti juga mengidentifikasi satu spesies baru yang diberi nama Pterocetus diamantina.
Mayoritas fosil yang ditemukan hanya menyisakan bagian rahang atas (rostrum). Bagian ini diketahui memiliki salah satu kepadatan dan kandungan mineral tulang tertinggi di antara vertebrata hidup.
Karena sangat padat, tulang tersebut mampu bertahan lama di dasar laut tanpa larut atau habis dimakan organisme lain. Seiring waktu, permukaannya dilapisi oksida ferromangan yang membuatnya seperti terbungkus sarkofagus alami.
“Ini seperti menyegel spesimen sehingga bisa bertahan selamanya, atau setidaknya selama 5 juta tahun,” kata Godfrey.
Kenapa Banyak Paus Mati di Sana?
Peneliti menduga Zona Diamantina merupakan area berburu ideal bagi paus berparuh karena banyak ditemukan cumi-cumi dan ikan selama penyelaman. Artinya, semakin banyak paus yang hidup dan mencari makan di wilayah tersebut, semakin besar pula kemungkinan mereka mati di area yang sama.
Dugaan lainnya, paus berparuh mungkin mengejar mangsa hingga melewati batas kedalaman menyelam normal mereka sekitar 3.000 meter yang dapat meningkatkan risiko paru-paru kolaps atau mengalami penyakit dekompresi.
Selain itu, bentuk topografi Zona Diamantina yang menyerupai huruf V diduga ikut mengarahkan bangkai paus yang tenggelam agar terkumpul di area yang lebih sempit.
Temuan ini juga menjadi unik karena tingkat sedimentasi di kawasan tersebut sangat rendah, hanya sekitar 0,05 hingga 0,55 sentimeter per 1.000 tahun. Akibatnya, fosil dan kerangka paus dapat tetap terekspos selama ratusan ribu hingga jutaan tahun.
Para peneliti menduga fenomena serupa mungkin juga ada di wilayah lain seperti lepas pantai Afrika Selatan, Semenanjung Iberia, hingga sekitar Kepulauan Crozet dan Kerguelen dekat Antartika.
