Ini Bedanya Rayap dan Laron: Kisah Hewan yang Harus Mati Jika Jomblo

23 Desember 2019 19:31 WIB
comment
14
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi laron.  Foto: wikimedia,org
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi laron. Foto: wikimedia,org
ADVERTISEMENT
Belakangan, kawanan rayap terbang atau lebih dikenal dengan sebutan laron, menyerbu rumah-rumah warga di Jakarta, Depok, Bekasi, hingga Bali. Kemunculan laron dinilai mengganggu karena mereka masuk ke dalam rumah, kemudian tubuh dan sayapnya berserakan, bercampur dengan becek air hujan.
ADVERTISEMENT
Di balik gangguan dari laron yang mencari sinar lampu dan sayap-sayapnya yang berserakan di pagi hari, ada hal menarik dari laron yang memiliki hidup amat menakjubkan.
Sebagaimana dijelaskan oleh Prof. Dr. Syaukani, Guru Besar Bidang Entomologi (Taksonomi Rayap), dari Universitas Syiah Kuala di Banda Aceh, laron merupakan rayap bersayap yang datang dari kasta reproduktif. Pada dasarnya, rayap merupakan salah satu binatang sosial yang paling maju dalam kelompok serangga. Mereka hidup dalam koloni dengan berbagai bentuk morfologi yang beragam dalam spesies maupun satu kasta.
Dalam segi ekologi, rayap dibagi menjadi dua kelompok, ada rayap tanah dan rayap kayu. Mereka yang di tanah akan menggali tanah tatkala ingin membangun koloni baru, begitupun dengan rayap kayu yang mencari kayu untuk koloni barunya.
ADVERTISEMENT
Dalam satu koloni rayap, terdiri dari ribuan individu yang semuanya hidup bersama. Jika dibandingkan dengan serangga lain, mereka cukup mudah untuk dibedakan karena memiliki morfologi yang sangat khas, dan berbeda-beda dalam setiap kasta.
Sarang rayap dari Genus Hospitalitermes terletak di tanah yang ditemukan di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah. Foto: dok. Prof. Dr. Syaukani
Setidaknya ada tiga kasta yang mereka anut, yakni kasta reproduktif (laron), kasta pekerja, dan kasta prajurit. Setiap kasta memiliki tugasnya masing-masing. Dalam hal ini, ada perbedaan yang cukup signifikasi antara laron dan rayap dari kasta lainnya.
Laron, rayap tanah kasta reproduktif
Menurut Syaukani, hal ini bisa terlihat jelas dari anatomi tubuhnya. Laron memiliki sayap yang digunakan untuk terbang. Mereka bisa berkembang biak, memiliki alat reproduksi yang berjalan dengan baik, dan memiliki indera penglihatan seperti serangga lainnya.
ADVERTISEMENT
Berbeda dengan rayap tanah dari kasta pekerja dan prajurit. Mereka tidak memiliki mata alias buta. Alat reproduksinya juga tidak berjalan dengan baik, alias mandul.
“Rayap prajurit dan pekerja punya alat kelamin, sama kaya laron, ada betina ada jantan. Pasangannya juga ada, tapi mereka ini mandul, alat genitalnya tidak berfungsi sebagaimana yang reproduktif, jadi dia tidak menghasilkan anak,” ujar Syaukani.
Dalam hal berkomunikasi, karena rayap pekerja dan prajurit buta, mereka mempunyai mekanisme komunikasi secara hormonal. Mereka mengandalkan antena dan feromon yang ada di dalam tubuhnya. Dengan sinyal sentuhan dan feromon mereka bisa saling mengerti satu sama lain, termasuk menemukan jalan untuk kembali ke sarangnya.
Sarang rayap jenis baru yang ditemukaan di Kalimantan Tengah, Hospitalitermes nigriantennalis. Rayap kasta prajurit mengelililingi dan berjaga di pintu masuk. Foto: dok. Prof. Dr. Syaukani
Hidup rayap pekerja dan prajurit didedikasikan untuk kelangsungan koloninya. Mereka tidak punya anak, tidak berkembang biak, dan mengabdi untuk selamanya.
ADVERTISEMENT
Berbeda dengan rayap reproduktif atau laron yang bisa memiliki keturunan dan membuat koloni baru.
Musim hujan, saatnya laron kawin atau mati karena jomblo
Musim kawin biasanya terjadi ketika musim hujan tiba. Tatkala hujan reda dan siang berganti malam, kawanan laron akan terbang keluar dari sarangnya. Mencari sumber cahaya untuk menghangatkan tubuh sekaligus mencari pasangan. Waktunya sangat singkat: hanya 1 malam.
Dalam proses mencari pasangan itu tidaklah mudah, butuh perjuangan dan kerja keras. Karena dari ratusan laron yang keluar, hanya 10 persen saja yang akan berhasil mendapatkan jodoh dalam semalam. Sementara yang jomblo, akan mati dan menjadi santapan berharga bagi para predator.
Bagi mereka yang gagal, pulang ke sarang juga bukan pilihan, karena akan dibunuh oleh koloninya. Jadi, untuk laron yang telah keluar dari sarang, tak ada pilihan lain selain mendapatkan jodoh dan membuat koloni baru.
ADVERTISEMENT
Dengan kata lain, laron dihadapkan pada dua pilihan, kawin atau mati.
“Ketika dia terbang keluar dari sarang, mereka tidak bisa kembali. Karena kalau dia kembali ke sarang awal, maka dia akan dibunuh, tidak boleh masuk. Jadi, sekali dia pergi, selamanya harus pergi. Karena sebelumnya laron ini memang sudah disiapkan untuk memulai hidup baru, diberi makan dan dirawat oleh rayap pekerja. Ketika keluar dan kembali ke sarang, tidak ada maaf baginya,” ujar Syaukani.
Sedangkan laron yang mendapat pasangan, mereka akan berjalan beriringan, mencari tempat untuk membuat koloni baru, menjadi calon raja dan ratu. Keduanya kemudian berbulan madu dan kawin di tempat baru.
Menghasilkan telur rayap dari kasta pekerja yang akan melayani semua kebutuhan si ratu, mulai dari mencari makan, merawat, hingga membuat sarang untuk rayap dari kasta baru.
ADVERTISEMENT
Setelah jumlah rayap pekerja dirasa telah cukup, ratu akan mulai menetaskan telur dari rayap kasta prajurit, untuk menjaga sarang dari serangan predator, dan lebih lanjut menetaskan rayap kasta reproduktif, atau laron.
Siklus itu terjadi lagi. Rayap pekerja akan merawat rayap dari kasta prajurit dan reproduktif. Rayap reproduktif akan keluar dari sarang, kemudian kawin dan membuat koloni baru saat musim hujan tiba.