Ini Dugaan Penyebab Christian Eriksen Kolaps di Laga Denmark vs Finlandia
ยทwaktu baca 2 menit

Christian Eriksen mendadak tumbang di tengah pertandingan Euro 2020 antara Denmark vs Finlandia pada Sabtu (12/6) malam. Pemain Denmark itu jatuh di atas lapangan pada babak pertama, tepatnya menit ke-43.
Beruntung tim medis bergerak cepat dengan melakukan CPR (Cardiopulmonary Resuscitation) atau RP (Resusitasi Jantung Paru). Eriksen sendiri dilaporkan telah dibawa ke rumah sakit dan saat ini berada dalam kondisi stabil.
Belum diketahui apa yang menyebabkan Eriksen kolaps di lapangan. Namun, serangan jantung mendadak umumnya menjadi penyebab di balik insiden itu terjadi.
Lalu, apa yang bisa memicu serangan jantung pada pria dan perempuan muda yang bugar dan sehat? Dr. Richard Till, konsultan elektrofisiologi jantung di Norfolk and Norwich Hospitals Trust di Inggris mengatakan, apa yang dialami Eriksen jarang terjadi dan kemungkinan penanganan CPR yang cepat membantu menyelamatkan nyawa sang pemain.
Dr. Till menambahkan, serangan jantung mendadak tidak sama dengan serangan jantung yang dipicu oleh penyakit jantung koroner. Kondisi yang terakhir disebut terjadi ketika timbunan lemak menyumbat arteri ke jantung menyebabkan otot mati yang dapat menghentikan detak jantung.
"Sangat tidak mungkin (penyakit jantung koroner) menjadi penyebab dalam kasusnya (Eriksen tumbang). Yang lebih mungkin dia memiliki kondisi bawaan yang belum diungkap sampai sekarang," kata Dr. Till, seperti dikutip The Independent.
Ia menambahkan, serangan jantung mendadak juga bisa disebabkan oleh kardiomiopati hipertrofi, sebuah kondisi yang dapat menyebabkan otot jantung menebal dan membuatnya semakin sulit memompa darah. Dugaan lain Eriksen mungkin memiliki infeksi virus yang menyebabkan miokarditis atau radang otot jantung.
Adanya gangguan sinyal aliran listrik pada jantung dalam memompa darah juga dapat memicu serangan jantung mendadak. Gangguan itu menyebabkan ritme tidak normal, mengurangi aliran darah keluar dari jantung ke organ seperti otak, dan membuat penderita pingsan.
Kondisi turunan sindrom Brugada dan sindrom QT panjang merupakan salah dua contoh yang gejalanya serupa. Kondisi tersebut berpotensi terlewatkan oleh alat rekam jantung elektrokardiogram (EKG) yang umum digunakan untuk menilai kesehatan jantung pesepakbola dan atlet profesional.
Dr. Till sendiri kagum dengan tim medis di lapangan. Mereka cukup sigap dan tanggap dalam menangani Eriksen yang tumbang.
"Kuncinya adalah menjaga oksigen dan darah mengalir ke otak melalui kompresi dada, dan saya mengerti Christian Eriksen menerima CPR sangat cepat di lapangan. Dia akan terhubung ke defibrillator yang akan memeriksa ritme jantungnya dan menyetrum jantung untuk mengembalikannya ke ritme normal," ujarnya.
CPR yang cepat disebutnya krusial dalam menangani insiden serupa, yang bisa dialami siapa pun dan terjadi kapan saja. Kemampuan ini harus dipahami oleh semua orang.
"(Insiden kolabs saat olahraga) seharusnya tidak membuat siapa pun berhenti berolahraga dan harus mendorong semua orang untuk belajar CPR. Itu benar-benar keterampilan yang menyelamatkan nyawa."
