Iran Uji Obat Virus Corona, Bisa Redakan Gejala dalam 48 Jam

Iran menjadi negara ketiga di dunia dengan kasus positif virus corona terbanyak. Ironisnya, virus mematikan yang pertama kali muncul di Wuhan, China, itu tak hanya menyerang warga sipil, tapi juga sejumlah pejabat negara.
Per 12 Maret 2020, angka kematian akibat COVID-19 di Iran mencapai 354 orang dari 9.000 warganya yang terjangkit. Namun di tengah kondisi genting itu, pemerintah mengumumkan ada beberapa pasien yang kondisinya dinyatakan membaik berkat obat imunomodulator bernama Actemra.
Kabar ini disampaikan oleh juru bicara Kementerian Kesehatan, Kianoush Jahanpour, pada Rabu (12/3), sebagaimana diberitakan Tehran Times. Menurut Jahanpour, Actemra telah diuji coba pada pasien positif corona yang menghuni rumah sakit di kota Isfahan.
Memang masih terlalu dini menyebut Actemra sebagai obat antivirus yang ampuh menangkal virus corona. Saat diuji coba, obat itu terbukti bisa menurunkan gejala klinis yang dialami pasien virus corona dalam waktu 48 jam.
Karena hasil yang memuaskan ini, uji coba pun akan dilanjutkan terhadap beberapa pasien lain untuk beberapa hari ke depan. Jika hasilnya relatif sama, kemungkinan Actemra akan terdaftar dalam farmasi nasional.
Selain di Iran, Actemra juga disebut mujarab atasi korban terjangkit virus corona di China. Bahkan, obat ini juga digunakan untuk mengobati para pasien kasus COVID-19 yang parah.
Sayangnya, produksi massal obat ini terhambat karena kendala teknis. Dengan begitu, Actemra kemungkinan baru bisa dipasarkan dalam tiga pekan mendatang.
Di saat yang bersamaan, Jahanpour mengungkapkan manfaat potensial dari obat biosimilar lainnya yang tengah dipersiapkan pemerintah Iran untuk mengobati pasien COVID-19. Obat yang dimaksud adalah interferon alfa dan interferon beta. Menurut Jahanpour, tidak ada kendala berarti dalam produksi kedua obat tersebut karena Iran telah memiliki produsennya.
Sementara itu ada satu obat lagi, yakni Tocilizumab, yang belum masuk dalam daftar obat resmi dalam penanganan kasus virus corona negara itu. Diperlukan riset lebih lanjut untuk membuktikan khasiat Tocilizumab, imbuh Jahanpour.
