Kenapa Sejumlah Orang Tidak Suka Minum Bir?

Ada beberapa orang yang begitu suka minum bir, tapi tidak sedikit juga yang tidak suka, terutama di Indonesia. Dan ternyata, di luar sana pun ada banyak orang yang tidak suka minum bir.
Beberapa orang yang tidak suka ini merasa jika minuman bir itu pahit. Lalu, kenapa mereka yang senang minum bir merasa jika minumannya itu tidak pahit?
Ternyata, jawabannya terdapat pada unsur genetik, yang mempengaruhi bagaimana otak kita memproses rasa pahit pada minuman dingin.
Bahkan, pahit yang dirasakan ketika meminum bir juga ternyata menjadi pendorong agar manusia menjauhi makanan dan minuman yang membahayakan kesehatan.
Dalam indera pengecap manusia, ada empat pengecap rasa pada lidah. Keempat rasa itu adalah asin, manis, asam, dan pahit. Ketika salah satu bagian pengecap lidah merasakan rasa tertentu, maka data itu kana dikirim melalui saraf ke jaringan otak.
"Jika kamu pikir pengecap lidahmu telah terkunci ke rasa tertentu, maka ke mana pun rasa itu datang akan tetap kembali ke awal. Jaringan pada penerima rasa di lidahmu akan terus terhubung dengan pesan ke otak, 'Oh ini pahit!" ujar Dr. Virginia Utermohlen Lovelace, profesor ilmu nutrisi di Cornell University, New York, Amerika Serikat.

Dilansir LiveScience, Lovelace mengatakan ada 25 tipe penerima rasa pahit yang berbeda di tubuh manusia. Sebagai perbandingan, hanya ada dua penerima rasa asin yang berbeda. Sementara itu, rasa pahit pada bir berasal dari tanaman hop atau strobilus.
Asam alpha dan beta ditemukan di hop, juga konsentrasi rendah dari ethanol pada bir, yang terikat pada tiga dari 25 penerima rasa pahit pada lidah manusia. Oleh karena itu, rasa pahit lebih kuat dirasakan pada otak ketika kamu meminum bir.
Lalu, mengapa sulit sekali bagi sejumlah orang untuk menelan bir yang mereka rasakan pahit itu?
Pengecap rasa pahit bisa bisa melindungi dari racun
Ternyata, penerima rasa pahit pada manusia berevolusi untuk berfungsi sebagai 'pengaman', yang mampu mengidentifikasi makanan beracun yang berbahaya.
"Rasa pahit jadi seperti sistem peringatan untuk racun," ujar peneliti, dalam studi yang dilakukan pada tahun 2009 dan dipbulikasikan di jurnal Chemosensory Perception.

Meski begitu, rasa pahit bukan selalu berarti jika suatu makanan atau minuman itu beracun. Jadi, meski bir terasa pahit dan membuatmu tak mau meminumnya, bukan berarti bir itu akan membunuhmu.
Lovelace menjelaskan salah satu indikator termudah dari sensitivitas rasa pahit adalah ada berapa banyak pengecap rasa pada lidahmu. Semakin banyak pengecap ras, maka akan semakin pahit bir yang kamu minum.
