Kisah Tragis Ilmuwan Pelopor Cuci Tangan: Dikucilkan dan Meninggal di RSJ

Di tengah pandemi virus corona, seluruh orang di dunia semakin rajin cuci tangan. Gerakan cuci tangan terbukti secara ilmiah mampu menurunkan risiko terinfeksi berbagai penyakit akibat virus dan bakteri.
Namun ternyata, tidak selamanya dunia sepakat bahwa cuci tangan adalah hal yang baik. Bahkan, ilmuwan yang mempelopori gerakan cuci tangan justru mendapatkan perlakuan buruk dan hidupnya berakhir dengan tragis.
Ia adalah Ignaz Semmelweis, seorang dokter muda asal Hungaria. Ia menemukan ampuhnya cuci tangan untuk menurunkan risiko terinfeksi penyakit pada 1846.
Berawal dari Ibu yang Meninggal Setelah Melahirkan
Pada saat itu, Semmelweis tengah meneliti mengapa banyak ibu yang meninggal setelah melahirkan. Ia sadar bahwa kebanyakan ibu yang meninggal terinfeksi penyakit seperti demam.
Tak lama Semmelweis memperoleh data yang dibutuhkan. Ia mengamati bahwa kasus kematian ibu pascamelahirkan yang dibantu oleh dokter lima kali lebih tinggi dibandingkan kasus yang menimpa ibu yang melahirkan dengan bantuan bidan.
Atas penemuan ini, ia mulai mencari penyebabnya. Awal ia mengira bahwa hal tersebut diakibatkan perbedaan posisi melahirkan yang digunakan. Bidan menggunakan posisi miring, sementara dokter menggunakan posisi tengkurap.
Menurut laporan NPR, ia pun meminta dokter mengganti posisi melahirkan yang digunakan menjadi miring. Namun ternyata hal tersebut tidak memiliki dampak apa-apa. Hipotesis lain kemudian coba dibuat, salah satunya berkaitan dengan pendeta yang sering lalu-lalang.
Semmelweis mengira bahwa pendeta dengan loncengnya dapat mengganggu proses melahirkan hingga menyebabkan kematian. Ia pun meminta pendeta mengubah rute perjalanan di dalam rumah sakit. Namun hasilnya juga nihil.
Frustasi hingga Solusi Cuci Tangan
Semmelweis merasa frustrasi dan mengambil cuti. Ketika Semmelweis liburan, ternyata seorang koleganya yang juga seorang dokter meninggal karena penyakit semacam demam.
Dokter muda tersebut kemudian meneliti kematian rekannya tersebut. Ia menemukan bahwa koleganya meninggal karena penyakit yang sama seperti ibu-ibu yang telah melahirkan. Hal ini pun membuatnya memperoleh ide yang amat cemerlang.
Ia akhirnya sadar bahwa yang membuat ibu-ibu tersebut tertular adalah dokter. Kemudian ia juga menyadari bahwa yang membedakan dokter dengan bidan adalah dokter melakukan autopsi, sementara bidan tidak.
Semmelweis yakin bahwa terdapat partikel-partikel yang menempel dari mayat ke tangan dokter saat melakukan autopsi. Partikel tersebut kemudian ditularkan ke ibu-ibu saat melahirkan.
Seluruh dokter akhirnya diminta mencuci tangannya menggunakan cairan klorida. Hasilnya luar biasa. Jumlah kematian ibu yang melahirkan dengan bantuan dokter turun drastis.
Berakhir Tragis
Sayangnya, penemuan luar biasa yang dilakukan Semmelweis malah menjadi bumerang bagi dirinya. Para dokter tidak percaya atas penemuan tersebut dan merasa tersinggung.
Para dokter dan tenaga kesehatan lainnya kesal karena dituduh menjadi biang penyebaran penyakit mematikan. Semmelweis pun diminta menjelaskan hasil penelitiannya itu secara ilmiah.
Sayangnya, Semmelweis tidak dapat memberikan penjelasan. Pada masa tersebut belum ada penemuan ihwal bakteri sehingga Semmelweis juga tidak memahami partikel apa yang sebenarnya ada pada tangan para dokter itu.
Kesal karena tidak dihargai, Semmelweis berang dan marah. Ia malah merendahkan dan menjadikan dokter-dokter yang mempertanyakan penelitiannya sebagai musuh.
Sikap yang tidak bersahabat dari Semmelweis membuat orang-orang semakin tidak percaya atas penemuannya. Gerakan cuci tangan akhirnya tidak dipercaya keampuhannya dan ditinggalkan.
Ignaz Semmelweis tak mampu mengontrol emosinya ketika tak ada lagi orang yang mempercayai penemuannya. Ia dimasukkan ke rumah sakit jiwa dan mendekam di sana hingga akhir hayatnya.
Hampir dua abad berselang, dunia sepakat kepada Semmelweis. Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) bahkan sudah menyarankan ke seluruh warga dunia untuk mencuci tangan selama minimal 20 detik agar terhindar dari berbagai penyakit, salah satunya COVID-19 yang tengah mewabah di dunia.
Google pun sempat memperingati jasa Ignaz Semmelweis lewat Google doodle. Hal itu dilakukan sebagai kampanye gerakan rajin cuci tangan untuk mencegah penyakit COVID-19.
(EDR)
***
Saksikan video menarik di bawah ini.
