Kumparan Logo

Kisah Warga Soviet Terakhir Terdampar di Angkasa: Negara Runtuh, Tak Bisa Pulang

kumparanSAINSverified-green

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sergei Krikalev. Foto: ROBERT SULLIVAN / AFP
zoom-in-whitePerbesar
Sergei Krikalev. Foto: ROBERT SULLIVAN / AFP

Pada 18 Mei 1991 pukul 12.51 siang, seorang kosmonaut Uni Soviet bernama Sergei Krikalev baru saja meninggalkan Bumi untuk bertugas di luar angkasa. Dia berangkat bersama koleganya sesama kosmonaut Uni Soviet, Anatoly Artsebarsky, dan seorang astronaut pertama asal Inggris, Helen Sharman.

Ketiganya, yang dikenal sebagai awak Mir-9, berangkat dari bandar antariksa Baikonur yang saat ini terletak di Kazakhstan. Mereka meluncur menggunakan roket Soyuz-TM dengan tujuan menggantikan awak Mir-8 yang bertugas di stasiun ruang angkasa Mir.

Publik Uni Soviet tak terlalu memperhatikan keberangkatan awak Mir-9. Kala itu, perjalanan ke luar angkasa sudah menjadi lumrah dalam 3 dekade terakhir. Namun, keberangkatan yang biasa-biasa saja itu ternyata merupakan awal dari drama terdamparnya seorang manusia di luar angkasa berkat runtuhnya Uni Soviet.

Menjelang berlabuh di stasiun Mir, pesawat ruang angkasa yang dipakai ketiga awak mengalami kegagalan sistem penargetan. Gangguan ini bisa fatal dan membuat pesawat luar angkasa perlu berlabuh secara manual tanpa dipandu oleh mesin.

Meski demikian, ketiga awak Mir-9 berhasil berlabuh dengan selamat pada 20 Mei 1991 berkat ketenangan Krikalev, yang merupakan seorang insinyur mesin. Ketenangan Krikalev tak mengherankan sebab ini merupakan penerbangan keduanya ke Mir. Ia lebih berpengalaman ketimbang Artsebarsky dan Sharman yang baru sekali ke sana.

Stasiun ruang angkasa Mir sendiri punya reputasi yang buruk sebagai tempat yang bau dan bising. Tapi bagi Krikalev, semua itu tidak penting. Mir terasa seperti rumah baginya. "Dia selalu berkata ketika dia masuk ke stasiun luar angkasa, dia merasa seperti akan pulang," kata Sharman dalam sebuah wawancara, dikutip dari Discover Magazine.

Setelah hampir delapan hari mengorbit Bumi dengan Mir, Sharman pulang bersama awak Mir-8 pada 26 Mei 1991, meninggalkan Krikalev dan Artsebarsky. Kedua kosmonaut itu pun memiliki misi lima bulan yang dikemas dengan enam perjalanan ruang angkasa di luar stasiun untuk peningkatan dan perbaikan Mir.

Sergei Krikalev. Foto: Bruce WEAVER/AFP

Ketika menjalankan tugas mereka, Krikalev dan Artsebarsky tak mengetahui bahwa sebuah kudeta tengah meletus di negeri komunis mereka. Tepat pada musim panas 1991, negara-negara satelit Uni Soviet mendorong kemerdekaan seiring kebijakan Presiden Uni Soviet Mikhail Gorbachev untuk melonggarkan kendalinya.

"Bagi kami, ini benar-benar kejutan," kenang Krikalev, seperti yang dilaporkan Russian Beyond. "Kami tidak mengerti apa yang terjadi. Saat kami mendiskusikannya, kami mencoba memahami bagaimana hal itu akan memengaruhi industri luar angkasa."

Krisis politik di Uni Soviet saat itu memang berdampak bagi industri luar angkasa. Krikalev diberi tahu bahwa tidak ada uang untuk membawanya kembali. Sebulan kemudian, dia masih mendapat jawaban yang sama: kendali misi memintanya untuk tinggal di Mir lebih lama. Sebulan lagi berlalu, tapi masih ada jawaban yang sama lagi.

Menurut catatan Space Fact, stasiun Mir kemudian kedatangan awak Mir-10 pada 4 Oktober 1991 untuk menggantikan awak Mir-9. Tim awak baru ini terdiri dari seorang kosmonaut Austria bernama Franz Viehböck, kosmonaut Khazakhstan Toktar Aubakirov, dan komandan kosmonaut Rusia Aleksandr Volkov.

Apa kemudian Krikalev pulang? Tidak. Ketiga awak Mir-10 bukan seorang insinyur mesin, peran yang menjadi tugas Krikalev, menurut catatan Space Fact.

Baik Viehböck dan Aubakirov adalah seorang ilmuwan. Mereka berdua hanya menghabiskan 7 hari di Mir, “memotret negara masing-masing dari orbit dan melakukan berbagai pemrosesan bahan dan eksperimen medis yang biasa,” sebelum akhirnya pulang bersama Artsebarsky yang bertukar shift dengan Volkov.

Mir-10 sendiri sebenarnya direncanakan meluncur dengan membawa seorang insinyur mesin sekaligus kosmonaut bernama Aleksandr Kaleri. Ia yang seharusnya menggantikan posisi Krikalev. Namun, Kaleri tak pernah berangkat bersama Mir-10 berkat kesepakatan politik antara Kazakhstan yang baru merdeka dan Uni Soviet, membuat posisinya digantikan oleh Aubakirov.

Uni Soviet sendiri tak mampu menerbangkan insinyur mesin lain sebagai awak Mir-10. Posisi Viehböck diamankan pemerintah Austria dengan mahar 7 juta dolar AS. Sedangkan posisi Volkov penting karena ia adalah satu-satunya kosmonaut berpengalaman di tim Mir-10.

Krikalev sekarang menjadi satu-satunya awak Mir-9 yang masih tersisa. Ia terdampar di luar angkasa dengan jarak sejauh 350 km dari Bumi, rumahnya.

“Apakah saya memiliki kekuatan yang cukup? Apakah saya dapat menyesuaikan kembali untuk masa tinggal yang lebih lama ini untuk menyelesaikan program?" tanya Krikalev dalam sebuah wawancara dengan media Rusia, HistoryNet. "Secara alami, pada satu titik saya memiliki keraguan.”

Bubarnya Uni Soviet dan Nasib Krikalev

Pada 25 Desember 1991, Uni Soviet akhirnya runtuh. Bubarnya Uni Soviet semakin membuat masa depan Krikalev makin tidak menentu. Tak ada lagi uang, dan bahkan tak ada lagi negara, yang bisa menjamin kepulangannya dari misi yang ia jalankan.

Krikalev sebenarnya bisa kembali ke Bumi bersama Volkov, kalau mereka mau. Di stasiun Mir, terdapat kapsul bernama Raduga yang dirancang khusus untuk para kosmonaut kembali ke Bumi. Namun, kalau opsi ini mereka ambil, stasiun Mir akan mati karena tidak ada orang yang menjaganya.

"Mereka mengatakan itu sulit bagi saya - tidak terlalu baik untuk kesehatan saya. Tetapi sekarang negara ini dalam kesulitan seperti itu, kesempatan untuk menghemat uang harus menjadi prioritas utama," kata Krikalev.

Seorang pria yang mengenakan baju tentara tua membawa bendera Soviet saat memperingati 30 tahun Tembok Berlin Runtuh (9/11/2019) Foto: AFP/John MACDOUGALL

Setelah Uni Soviet bubar, kesepakatan antara Amerika Serikat dan Rusia terjadi untuk menciptakan dana yang dibutuhkan agar mengirim lebih banyak kosmonaut dan astronaut ke orbit.

Tiga bulan kemudian, setelah 10 bulan terdampar, Krikalev akhirnya punya harapan kembali ke Bumi. Tugasnya digantikan oleh Kaleri, yang bersama kosmonaut Rusia Aleksandr Viktorenko dan astronaut Jerman Klaus-Dietrich Flade berlabuh sebagai awak tim Mir-11 pada 19 Maret 1992, menurut laporan Space Fact.

Pada tanggal 25 Maret 1992, setelah menghabiskan 311 hari berturut-turut di luar angkasa, Krikalev akhirnya pulang ke Bumi. Dalam perjalan pulang, ia ditemani Volkov dan Flade. Space Flight mencatat, selama 10 bulan terdampar di luar angkasa, Krikalev telah mengorbit Bumi sebanyak 4.934 kali.

Begitu kembali ke Bumi, empat orang pria membantu Krikalev keluar dari kapsul Soyuz-TM yang membawanya pulang. Dia pucat seperti tepung dan berkeringat. Seorang pria mengipasi wajahnya dengan sapu tangan, sedangkan yang lain memberinya sup panas.

“Sangat menyenangkan terlepas dari gravitasi yang harus kami hadapi,” kenang Krikalev beberapa tahun kemudian dalam sebuah dokumenter, dikutip dari Discovery Magazine.

“Tapi secara psikologis, beban itu terangkat. Ada saatnya. Anda tidak bisa menyebutnya euforia, tapi itu sangat bagus.”

Ketika dia pulang, Krikalev merupakan warga negara dari sebuah negara yang sudah punah. Media massa kemudian memberinya julukan 'warga Soviet terakhir.'

Meskipun menghabiskan lebih banyak waktu di luar angkasa daripada yang dia inginkan, Krikalev langsung kembali ke pelatihan kosmonaut dan terbang ke luar angkasa 4 kali lagi. Total, Krikalev telah mencatat 803 hari di luar angkasa. Dia saat ini berada di urutan ketiga setelah Gennady Padalka dan Yuri Malenchenko dalam rekor manusia yang paling banyak menghabiskan waktu di luar angkasa.

***

Saksikan video menarik di bawah ini.