Membandingkan Virus Corona SARS, MERS, dan Novel Coronavirus

Merebaknya Novel Coronavirus/2019-nCoV (virus corona) telah menewaskan 106 orang hingga Selasa (28/1). Adapun 4.000 orang terjangkit virus ini di 16 negara.
Virus corona termasuk ke dalam keluarga besar virus yang pernah menyebabkan wabah seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Apa beda ketiganya?
SARS
Kasus pertama SARS muncul di Provinsi Guangdong, China, pada November 2002. Penyakit pernapasan akut berat ini kemudian menjadi perhatian dunia setelah WHO menetapkannya sebagai ancaman global 5 bulan setelahnya.
Gejala yang umum terjadi pada orang yang terpapar SARS mirip seperti orang yang terkena flu. Ia ditandai dengan demam, sakit kepala, diare, hingga perasaan menggigil.
Pada minggu pertama atau kedua, orang yang terpapar SARS juga akan mengalami batuk dan sesak napas. Kasus yang parah akan berevolusi cepat dan membuat gangguan pernapasan sehingga membutuhkan perawatan intensif.
Transmisi SARS mewabah karena penularan penyakit melalui kontak langsung dengan penderita SARS baik karena berbicara, terkena percikan batuk atau bersin. WHO melaporkan bahwa 30 % kasus SARS terjadi pada petugas kesehatan. Penularan SARS terjadi karena kontak pada saat merawat penderita.
WHO percaya SARS disebabkan virus dari hewan yang menular ke manusia. Ketika diselidiki, sejumlah satwa seperti musang bertopeng Himalaya, kucing domestik, hingga anjing rakun yang dikonsumsi di wilayah selatan China telah terbukti terjangkit virus ini.
Wabah SARS tersebar hingga 26 negara dan telah menewaskan 774 orang dari total 8.098 yang terjangkit. Epidemi ini dinyatakan berakhir pada 5 Juli 2003. Hingga kini vaksin terhadap virus penyebab SARS masih dalam tahap pengembangan.
MERS
MERS merupakan penyakit pernapasan yang disebabkan juga oleh virus corona (MERS-CoV). Virus ini pertama kali diidentifikasi di Arab Saudi pada tahun 2012.
Gejala orang yang terpapar MERS termasuk demam, batuk, serta sesak napas. Gejala pneumonia umum tampak meski tidak selalu terjadi. Beberapa kasus infeksi MERS-CoV bahkan tidak menunjukkan gejala klinis.
WHO menyebut bukti-bukti ilmiah virus MERS-CoV bersumber dari hewan unta dromedaris sebagai inang reservoir utama. Meskipun peran penularannya terhadap manusia tidak diketahui.
Virus ini menular dari manusia ke manusia lewat kontak yang sangat dekat. Misalnya, saat memberikan perawatan tanpa perlindungan.
Pada rentang April 2012 hingga November 2019, WHO telah menerima 2.494 kasus pasien yang terkonfirmasi MERS-CoV. Epidemi ini tersebar di 26 negara dan menyebabkan 858 orang tewas.
Virus MERS-CoV hingga kini masih menginfeksi manusia. WHO melaporkan tiga kasus terakhir yang terkonfirmasi MERS ada di Doha, Qatar, pada 5 Desember 2019.
Novel Coronavirus dari Wuhan
Pada 31 Desember 2019, WHO mendeteksi sejumlah kasus pneumonia di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China. Virus yang menyebabkannya adalah jenis baru.
Seminggu kemudian, pemerintah China mengkonfirmasi virus tersebut adalah coronavirus yang satu keluarga dengan penyebab penyakit MERS dan SARS. Ia sementara dinamai sebagai 2019-nCoV.
Orang yang terpapar Novel Coronavirus menunjukkan gejala pernapasan, batuk, demam, dan sesak napas. Pada kasus yang parah bisa menyebabkan pneumonia, sindrom pernapasan akut, gagal ginjal, bahkan kematian.
Coronavirus menyebar dari manusia ke manusia setelah melakukan kontak dengan mereka yang terinfeksi. Medianya melalui udara setelah batuk dan bersin. Bahkan, virus corona disebut bisa menular lewat mata.
Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit China, Gao Fu, mengatakan, virus tersebut berasal dari hewan liar yang dijual di Pasar Seafood Huanan, Wuhan. Pasar itu sudah ditutup sejak 1 Januari 2020 silam.
Belum ada vaksin untuk mengobati penyakit akibat virus corona dari Wuhan. Pencegahan bisa dilakukan dengan menjaga kebersihan tangan dan pernapasan dasar, serta menghindari kontak langsung dengan orang yang terinfeksi.
