Kumparan Logo

Mengenal Hipertiroid yang Dialami Indra Bruggman

kumparanSAINSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Indra Bruggman saat ditemui di kawasan Kapten Tendean, Jakarta Selatan, Kamis (21/11). Foto: Maria Gabrielle Putrinda/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Indra Bruggman saat ditemui di kawasan Kapten Tendean, Jakarta Selatan, Kamis (21/11). Foto: Maria Gabrielle Putrinda/kumparan

Indra Bruggman, aktor sekaligus pembawa acara tanah air, melalui akun media sosial instagram miliknya memberikan konfirmasi bahwa dirinya menderita hipertiroid.

Kondisi itu membuat berat badannya turun secara drastis. Tak hanya itu, Indra juga sering merasa kelelahan, badan gemetar, hingga jantung berdegup lebih kencang dari biasanya.

Apa itu hipertiroid?

Kondisi yang dialami Indra, hipertiroid, merupakan kondisi kelainan atau penyakit tiroid, tepatnya pada kelenjar tiroid. Pada kondisi hipertiroid, hormon tiroid diproduksi dalam jumlah besar melebihi batas normal.

Perlu diketahui kelenjar tiroid menjadi salah satu kelenjar yang ada di dalam tubuh. Letaknya ada di leher bagian depan dengan bentuk seperti kupu-kupu yang ada di sebelah kiri dan kanan leher.

Ilustrasi gerakan senam leher. Foto: Dok. Freepik

Kelenjar itu berperan dalam memproduksi hormon tiroid–tiroksin (T4) dan triiodotironin (T3). Saat terjadi hipertiroid, kadar kedua hormon itu akan meningkat di dalam darah.

Hormon tiroid mempunyai peranan dalam mengatur metabolisme tubuh, menurunkan detak jantung, dan ikut mengatur suhu tubuh. Selain itu, hormon itu berfungsi dalam mengatur otot dalam berkontraksi, mempengaruhi perkembangan otak, serta membantu regenerasi kulit.

Gejala hipertiroid

Seperti halnya yang dirasakan oleh Indra, gejala hipertiroid dapat beragam. Beberapa gejala hipertiroid sebagai berikut seperti dilansir dari laman Mayo Clinic.

  • Penurunan berat badan, meski asupan makanan dalam jumlah tetap atau meningkat.

  • Takikardia–detak jantung lebih cepat dari normal. Penderita hipertiroid memiliki detak jantung lebih dari 100 detak per menit.

  • Aritmia–detak jantung tidak teratur.

  • Palpitasi atau jantung berdebar-debar.

  • Muncul perasaan gugup, cemas dan mudah tersinggung.

  • Sering mengalami tremor.

  • Perubahan pola menstruasi pada wanita.

  • Peningkatan kepekaan terhadap suhu panas serta mudah berkeringat.

  • Perubahan pola buang air besar menjadi lebih sering.

  • Kelelahan dan lemah otot.

  • Penipisan pada lapisan kulit dan rambut menjadi rapuh.

  • Sulit tidur.

  • Mengalami pembesaran kelenjar tiroid yang mungkin nampak atau terasa saat diraba.

Ilustrasi ibu hamil dengan jantung berdebar. Foto: Shutter Stock

Faktor risiko hipertiroid

Prevalensi kasus hipertiroid di Indonesia menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, 0,4 persen penduduk Indonesia berusia 15 tahun atau lebih menderita kondisi hipertiroid. Angka tersebut setara dengan lebih dari 700 ribu orang terdiagnosis hipertiroid.

Hipertiroid dapat terjadi pada beberapa orang yang memiliki risiko. Salah satu faktor yakni adanya anggota keluarga yang memiliki riwayat hipertiroid. Hal itu seperti yang terjadi pada kasus Indra, di mana diketahui almarhum ibundanya mempunyai riwayat penyakit yang sama.

Faktor risiko juga membayangi wanita untuk bisa terkena hipertiroid. Dijelaskan di Clinical Laboratory, wanita memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan dengan pria untuk terkena permasalahan tiroid, termasuk hipertiroid. Risiko itu berkaitan erat dengan hormon estrogen yang dimiliki oleh wanita.

Selain kedua faktor tadi, adanya penyakit penyerta kronis, seperti diabetes tipe 1, anemia pernisiosa–kekurangan sel darah merah akibat defisit vitamin B12, dan infusiensi adrenal primer– kondisi kelenjar adrenal tidak memproduksi hormon kortisol.

Tentu adanya ketiga faktor tadi, sudah seharusnya seseorang lebih peduli terhadap kondisi tubuhnya. Mudahnya dengan melakukan cek kondisi tubuh secara rutin untuk mengetahui fungsi tubuh bekerja dengan semestinya.