Kumparan Logo

Mengenal Pneumonia, Penyakit yang Dikaitkan Wabah Misterius di China

kumparanSAINSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Seorang wanita mengenakan masker di ruang tunggu di Stasiun Kereta Api Barat Beijing. Foto: REUTERS/Stringer
zoom-in-whitePerbesar
Seorang wanita mengenakan masker di ruang tunggu di Stasiun Kereta Api Barat Beijing. Foto: REUTERS/Stringer

Wabah penyakit pernapasan misterius yang muncul pertama kali pada 31 Desember 2019 di Wuhan, China, selalu dikaitkan dengan kasus-kasus pneumonia berat. Pneumonia merupakan infeksi atau peradangan akut di jaringan paru yang disebabkan oleh berbagai mikroorganisme, seperti bakteri, virus, parasit, jamur, pajanan bahan kimia, atau kerusakan fisik paru.

Pneumonia dapat menyerang semua kalangan, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, anak muda, hingga lanjut usia (lansia). Namun populasi yang paling rentan terserang penyakit ini adalah balita dan lansia.

Gejala yang muncul akibat pneumonia di antaranya demam, lemas, batuk kering dan sesak atau kesulitan bernapas. Beberapa kondisi ditemukan lebih berat. Pada lansia atau memiliki penyakit lain, risikonya lebih tinggi untuk memperberat kondisi.

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), dalam rilisnya, menjelaskan ada tiga jenis pneumonia yang dibedakan berdasarkan dari mana sumber infeksinya. Pertama yaitu community acquired pneumonia (CAP) atau pneumonia komunitas, hospital acquired pneumonia (HAP), dan ventilator associated pneumonia (VAP).

Staf medis memindahkan barang dari Rumah Sakit Jinyintan,di Wuhan, China. Foto: REUTERS/Stringer

“Pneumonia yang sering terjadi dan dapat bersifat serius bahkan kematian yaitu pneumonia komunitas. Angka kejadian pneumonia lebih sering terjadi di negara berkembang,” tulis PDPI, dalam rilisnya.

Setiap tahunnya, pneumonia bahkan bisa menyerang sekitar 450 juta orang. Berdasarkan data RISKESDAS tahun 2018, prevalensi pneumonia berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan yaitu sekitar 2 persen sedangkan tahun 2013 adalah 1,8 persen.

Sementara itu dari data Kemenkes 2014, jumlah penderita pneumonia di Indonesia pada tahun 2013 berkisar antara 23 persen-27 persen dan kematian akibat pneumonia sebesar 1,19 persen. Pada 2010 di Indonesia, pneumonia termasuk dalam 10 besar penyakit rawat inap di rumah sakit dengan crude fatality rate (CFR) atau angka kematian penyakit tertentu pada periode waktu tertentu dibagi jumlah kasus adalah 7,6 persen.

Menurut Profil Kesehatan Indonesia, pneumonia menyebabkan 15 persen kematian balita yaitu sekitar 922.000 balita pada tahun 2015. Dari tahun 2015-2018, kasus pneumonia yang terkonfirmasi pada anak-anak di bawah 5 tahun meningkat sekitar 500.000 per tahun, tercatat mencapai 505.331 pasien dengan 425 pasien meninggal. Dinas Kesehatan DKI Jakarta memperkirakan 43.309 kasus pneumonia atau radang paru pada balita selama tahun 2019.

Dua orang warga usai menjalani perawatan di Pusat Perawatan Medis Wuhan, China. Foto: AFP/NOEL CELIS

Ada beberapa vaksin pneumonia yang ditujukan untuk mencegah pneumonia. Beberapa vaksin tersebut yaitu sebagai berikut.

-Vaksin Pneumokokus (atau PCV:Pneumococcal Conjugate Vaccine). Vaksin PCV13 (merek dagang Prevnar) memberikan kekebalan terhadap 13 strain bakteri Streptococcus pneumoniae, yang paling sering menyebabkan penyakit pneumokokus pada manusia. Masa perlindungan sekitar 3 tahun.

- Vaksin PCV13 utamanya ditujukan kepada bayi dan anak di bawah usia 2 tahun.

- Vaksin Pneumokokus PPSV23 Vaksin PPSV23 (nama dagang Pneumovax 23) memberikan proteksi terhadap 23 jaringan bakteri pneumokokus.

- Vaksin PPSV23 ditujukan kepada kelompok umur yang lebih dewasa. Mereka adalah orang dewasa usia 65 tahun ke atas, atau usia 2 hingga 64 tahun dengan kondisi khusus.

- Vaksin Hib. Di negara berkembang, bakteri Haemophilus influenzae type B (Hib) merupakan penyebab pneumonia dan radang otak (meningitis) yang utama. Di Indonesia, vaksinasi Hib telah masuk dalam program nasional imunisasi untuk bayi.

Terkait pencegahan penyakit pneumonia seperti yang terjadi di Wuhan, PDPI menjelaskan bahwa belum ada vaksin untuk mencegah kasus ini. Hal ini karena pneumonia pada kasus ini disebabkan oleh coronavirus jenis baru.