Kumparan Logo

Minum Jus Buah Terlalu Banyak Bisa Memperpendek Usia

kumparanSAINSverified-green

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi aneka jus. Foto: dok.shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi aneka jus. Foto: dok.shutterstock

Banyak yang menganggap minum jus buah alami itu baik bagi kesehatan, dengan banyak manfaat. Tapi, menurut hasil sebuah riset terbaru, minum terlalu banyak jus malah bisa memperpendek usia karena kandungan gula dalam jus bisa meningkatkan risiko kematian dini.

Pernyataan ini adalah hasil penelitian yang dipublikasikan di Journal of the American Medical Association (JAMA). Riset mencatat, terlalu banyak mengonsumsi minuman mengandung gula, bahkan jus buah murni sekalipun, bisa meningkatkan risiko kematian dini.

Penelitian ini menyebut terlalu banyak minum jus buah meningkatkan kemungkinan kematian dini antara sembilan hingga 42 persen. Menurut riset, gula yang ditemukan di jus jeruk, meski gula alami, jumlahnya sama dengan gula yang digunakan pada minuman dengan gula buatan.

“Konsumsi minuman manis, baik itu minuman ringan atau jus buah, haruslah dibatasi,” ujar Jean A. Welsh, asisten profesor di Departemen Pediatri di Universitas Emory di Atlanta, dilansir CNN.

Jus jeruk Foto: Thinkstock

Dalam riset terbaru ini, minuman manis didefinisikan sebagai minuman dengan pemanis buatan, seperti soda, dan jus dari buah alami yang tidak ditambah gula.

“Riset sebelumnya telah menunjukkan bahwa konsumsi tinggi gula, seperti yang ada di dalam minuman ringan dan jus buah, punya hubungan dengan faktor risiko beberapa penyakit kardiovaskular,” ungkap Welsh.

Obesitas, diabetes, dan peningkatan kandungan trigliserida, sejenis lemak dalam darah, adalah beberapa faktor risiko penyakit kardiovaskular yang berhubungan dengan asupan gula berlebihan.

Welsh menjelaskan bahwa hanya ada sedikit riset yang mempelajari bagaimana konsumsi gula, baik pada minuman ringan maupun jus buah, berpengaruh pada risiko kematian.

embed from external kumparan

Jalannya riset

Dalam riset ini, Welsh dan tim mempelajari data dari studi Reasons for Geographic and Racial Differences in Stroke. Studi tersebut mempelajari alasan kenapa banyak orang Afrika-Amerika yang meninggal karena stroke dibanding ras lain. Studi juga mempelajari kenapa orang-orang di sebelah tenggara AS mengalami lebih banyak stroke dibanding di daerah lainnya di AS.

Welsh menganalisis data dari 13.440 orang dewasa berusia di atas 45 tahun. Dari angka itu, 60 persen di antara mereka adalah pria dan 71 persen di antaranya mengalami obesitas atau kelebihan berat badan.

Riset menemukan bahwa mereka yang mengonsumsi 10 persen atau lebih dari asupan kalori hariannya dalam bentuk minuman manis memiliki risiko kematian akibat penyakit jantung koroner 44 persen lebih tinggi. Ini jika dibandingkan dengan mereka yang hanya mengonsumsi lima persen dari asupan kalori hariannya dalam bentuk minuman manis.

embed from external kumparan

Selain itu, riset menemukan bahwa setiap tambahan 0,3 liter konsumsi jus buah harian per hari berhubungan dengan 24 persen risiko kematian yang lebih tinggi. Sedangkan bagi setiap tambahan 0,3 liter minuman manis per hari berhubungan dengan 11 persen risiko kematian yang lebih tinggi.

Hubungan serupa antara minuman manis dengan kematian akibat penyakit jantung koroner tidak ditemukan.

Welsh menjelaskan bahwa ia tidak terkejut dengan temuan ini. Ia dan tim mengatakan, ada beberapa mekanisme biologi yang bisa menjelaskan peningkatan risiko kematian ini.

Menurut mereka, minuman manis meningkatkan resistensi insulin. Sementara konsumsi fruktosa bisa menstimulasi hormon yang menyebabkan peningkatan berat badan, yang merupakan salah satu faktor risiko penyakit kardiovaskular.

Ilustrasi aneka jus. Foto: dok.shutterstock

Kritik atas riset

Marta Guasch-Ferré, peneliti di Department of Nutrition at Harvard T.H. Chan School of Public Health, dan Dr. Frank B. Hu, profesor ilmu medis di Harvard Medical School, mengatakan bahwa ini adalah riset pertama yang mempelajari hubungan antara minuman manis, termasuk jus buah alami, dengan kematian dini. Meski begitu kedua peneliti menjelaskan bahwa riset ini masih memiliki batasan.

Mereka berpendapat, karena sangat sedikit kematian yang berhubungan dengan penyakit jantung koroner, analisis dalam riset dianggap lemah. Selain itu, konsumsi minuman manis dari masing-masing peserta hanya dicatat pada awal riset saja dan berdasarkan pada laporan masing-masing. Ini membuat data pada riset dianggap tidak dapat diandalkan.

“Jadi, meski jus buah mungkin tidak seberbahaya minuman dengan pemanis buatan, konsumsinya harus dijaga pada anak-anak dan orang dewasa. Terutama mereka yang ingin mengontrol berat badannya,” saran Guasch-Ferré dan Hu.

Menurut American Academy of Pediatrics dan Dietary Guidelines for Americans, konsumsi jus buah bagi anak berusia antara satu sampai enam tahun adalah sekitar 200 mililiter per hari. Sementara anak berusia tujuh tahun ke atas bisa mengonsumsi sekitar 230 mililiter per hari.

“Perlu dilakukan riset lanjutan untuk mempelajari risiko kesehatan dan potensi manfaat dari jus buah-buahan,” kata Guasch-Ferré dan Hu.

Sementara itu, Welsh berpendapat bahwa kita harus memasukan jus buah dan minuman manis saat menghitung konsumsi gula harian. Ia tetap menyarankan sebaiknya orang-orang meminum jus buah.

“Melihat kandungan vitamin dan mineralnya, jus buah dalam jumlah kecil mungkin bisa memiliki efek bermanfaat yang tidak ada pada soda dan minuman manis lainnya,” imbuh Welsh.

embed from external kumparan