kumparan
5 Juli 2017 7:58

Mulyoto Pangestu, Penemu Teknik Murah Pengeringan Sperma

Mulyoto Pangestu
Mulyoto Pangestu (Foto: Dok. Mulyoto Pangestu )
Nama Mulyoto Pangestu pernah melambung saat ia menemukan teknik pengeringan sperma dengan cara evaporative drying. Inovasi Mulyoto ini dianggap terobosan spektakuler karena ia berhasil menemukan cara efisien untuk menyimpan sperma dengan menggunakan bahan-bahan sederhana berupa sedotan plastik khusus dan kantong aluminium foil khusus yang berbiaya hanya sekitar 50 sen dolar AS atau Rp 5 ribu.
ADVERTISEMENT
Penemuan brilian Mulyoto itu telah mengantarkannya meraih penghargaan tertinggi (Gold Award) dalam kompetisi Young Inventors Awards yang digelar majalah The Far Eastern Economic Review (FEER) dan Hewlett-Packard Asia Pasifik. Penelitian itu pula yang membuat namanya dikenal di seluruh dunia dan membawanya menjadi dosen di Monash University, Australia.
Rabu (28/6), kumparan menyapa Mulyoto melalui surat elektronik. “Alhamdulillah, baik,” jawabnya ketika ditanya bagaimana kabarnya kini.
Ayah satu anak itu kini punya kesibukan utama menjadi staf pengajar di Education Program in Reproduction and Development, Department Obstetrics and Gynaecology, Fakultas Kedokteran Monash University, Australia.
Selain menjadi pengajar, Mulyoto menjabat sebagai kepala laboratorium di departemen tempatnya mengajar tersebut.
“Program yang saya tangani adalah training untuk orang-orang yang tertarik dan akan bekerja sebagai embryologist di klinik bayi tabung. Mahasiswa saya berasal dari Australia dan luar Australia seperti India, Timur Tengah, China, Indochina, Amerika latin, juga Eropa dan Amerika Serikat,” kata Mulyono.
ADVERTISEMENT
Kini Mulyoto lebih banyak mengampu proyek penelitian yang dilakukan oleh mahasiswanya. Penelitian yang dipegang Mulyoto antara lain teknik simpan beku (kriopreservasi) embrio, sperma, dan sel telur; biopsi (pemeriksaan organisme) untuk preimplantation genetic diagnosis dan screening; teknologi reproduksi in vitro fertilization alias bayi tabung pada domba; hingga perbaikan teknik kultur embrio in vitro dan in vitro maturation sel telur.
Selain berpartisipasi dalam sejumlah penelitian dalam laboratorium yang dikepalainya itu, Mulyoto juga terlibat riset di luar kampus mengenai kuda dan konservasi satwa.
“Ada juga penelitian kerja sama untuk membuat model alat untuk mikroinjeksi sperma ke dalam sel telur menggunakan robot. Penelitian ini bekerja sama dengan Tim Robotik dari Deakin University di Geelong,” ujar Mulyoto.
ADVERTISEMENT
Bermula dari Mencari Obat untuk Istri?
Mulyoto Pangestu dan istri.
Mulyoto Pangestu dan istri. (Foto: Dok. Mulyoto Pangestu)
Seperti disebut di atas, nama Mulyoto melambung di Australia dan dikenal publik internasional berkat penemuan teknik pengeringan sperma yang sederhana dan murah. Fahd Pahdepie, seorang penulis yang pernah berkuliah di Monash University mengatakan pernah mendengar rumor yang diceritakan di antara warga Indonesia yang tinggal di wilayah Clayton, pinggiran Melbourne, Victoria.
Rumor itu menyebut, Mulyoto memulai semua penelitiannya untuk menemukan obat bagi istrinya, Lies Pangestu, yang sejak remaja mengidap penyakit spinal muscular atrophy --penyakit genetik otot-saraf (neumuscular genetic disorder) yang ditandai dengan kelumpuhan otot.
Waktu itu dokter memvonis usia Lies tak akan lebih dari 23 tahun. Namun Tuhan berkehendak lain. Pada usia 27 tahun, Mulyoto datang untuk menikahi Lies dan hingga kini terus mendampngi Lies dengan dan dalam segala keterbatasan yang ada.
ADVERTISEMENT
Namun saat berbincang dengan kumparan, Mulyoto membantah rumor tersebut. Istrinya memang memiliki penyakit spinal muscular atrophy, tapi penelitian yang dilakukannya bukan terkait penyakit itu.
Mulyoto Pangestu dan istri.
Mulyoto Pangestu dan istri. (Foto: Dok. Mulyoto Pangestu)
Mulyoto telah terlibat penelitian mengenai sperma sapi dan kambing sejak 1985-an, sebelum ia menikah dengan Lies, tepatnya saat masih kuliah di Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Adapun penemuan teknik pengeringan sperma dengan cara evaporative drying merupakan penelitiannya ketika menempuh pendidikan di Monash University.
Peraih gelar master dari School of Agricultural & Forestry di University of Melbourne itu menuturkan, “Awalnya saya akan melakukan penelitian menggunakan teknik freeze drying. Tetapi karena harga alat freeze drying sangat mahal dan departemen saya tidak sanggup membeli, maka saya dan supervisor saya melakukan telaah pustaka terhadap teknik-teknik yang ada dan kondisi material yang akan digunakan.”
ADVERTISEMENT
Mulyoto kemudian mempelajari kondisi DNA pada spermatozoa. “Sampai akhirnya berujung pada kesimpulan bahwa spermatozoa mencit dapat disimpan pada suhu ruang dalam kondisi kering bila tidak ada oksigen, dan kedap dari udara serta kelembapan. Itu adalah kesimpulan awal yang ditarik, yang kemudian diwujudkan dalam teknik evaporative drying.”
Mencit adalah tikus berukuran kecil yang paling sering dijadikan hewan percobaan oleh banyak ilmuwan, terutama ahli biologi. Dalam banyak hal, penelitian yang diujicobakan kepada mencit nantinya akan bermanfaat dan berdampak bagi kepentingan kemanusiaan.
Saat itu Mulyoto menemukan teknik pengeringan sperma evaporative drying dengan alat dan bahan yang amat sederhana, yakni sedotan atau “straw”, aluminium foil, dan gas.
“Saat itu untuk harga material straw dan aluminium foil serta gas yang digunakan sangat murah. Kurang dari 50 sen dolar Amerika Serikat atau sekarang setara dengan 5.000 rupiah,” katanya.
ADVERTISEMENT
Teknik yang ditemukan Mulyoto kini sudah berkembang lebih baik. “Tidak menggunakan straw lagi, tetapi menggunakan kotak khusus (chamber) dengan sistem sealing yang jauh lebih baik,” jelas Mulyoto.
Kini, teknik tersebut telah diterapkan sebagai teknik alternatif untuk penyimpanan (inventory) spermatozoa mencit. Salah satunya sudah diterapkan untuk penyimpanan sperma di Harvard Medical School yang merupakan kolaborator penelitian Mulyoto saat dirinya masih berstatus sebagai mahasiswa S3 di Monash University.
Manfaat Luas dan Jangka Panjang
Mulyoto Pangestu NOT COVER
Mulyoto Pangestu (Foto: Dok. Mulyoto Pangestu )
Teknik yang ditemukan Mulyoto memang belum bisa diterapkan untuk menyimpan sperma manusia. Akan tetapi, penggunaan teknik tersebut dapat digunakan untuk menyimpan sperma mencit.
Mengingat mencit merupakan hewan laboratorium yang banyak digunakan sebagai model penelitian bagi penyakit atau kondisi kesehatan manusia, Mulyoto menyatakan hal ini “merupakan loncatan cukup besar.”
ADVERTISEMENT
Lelaki yang lahir di Pekalongan dan besar di Tegal ini menjelaskan, “Dengan teknik ini maka penyimpanan jangka panjang tidak tergantung pada ketersediaan nitrogen cair yang mahal, juga mengurangi bahaya akibat nitrogen cair serta menghemat tempat penyimpanan.”
Penemuan Mulyoto juga dapat mengurangi ongkos transportasi. “Yang pada awalnya harus dikirim pada suhu minus 196 derajat Celcius menggunakan alat khusus dan makan tempat, xsekarang dapat dikirim menggunakan pos biasa.”
Kontribusi
Mulyoto Pangestu
Mulyoto Pangestu (Foto: Dok. Mulyoto Pangestu)
Mulyoto juga melakukan penelitian lain, misalnya penelitian di bidang ilmu sosial yang merupakan kolaborasi antara dia dan peneliti dari Melbourne University, Universitas Indonesia, Universitas Airlangga, dan Universitas Udayana.
“Penelitian itu merupakan suatu terobosan baru untuk melihat bagaimana sebenarnya keinginan masyarakat, khususnya yang mengalami infertilitas, serta bagaimana respons dari keluarga dan masyarakat sekitarnya,” kata llelaki kelahiran 11 November 1963 itu.
ADVERTISEMENT
Ia berusaha menyelidiki stigma apa saja yang dialami oleh pasangan suami-istri yang mengalami infertilitas, dan bagaimana mereka mencari jalan keluar.
“Ini merupakan penelitian awal yang menarik dan memberikan gambaran untuk melakukan penelitian lebih komprehensif di bidang pelayanan kesehatan bagi orang-orang yang mengalami infertilitas,” katanya.
Harapannya, masyarakat dan pemerintah dapat lebih memahami peran pelayanan kesehatan serta lingkungan sosial bagi orang yang mengalami infertilitas serta mengetahui efek sampingnya.
Sementara penelitian di bidang robotic yang dilakukan Mulyoto bersama Deakin University di Ausralia, menurutnya merupakan langkah awal untuk meningkatkan akurasi dan kesuksesan saat melakukan Intra-Cytoplasmic Sperm Injection (ICSI) alias penyuntikkan satu sel sperma ke dalam sel telur, yang merupakan salah satu teknik di bidang bayi tabung.
ADVERTISEMENT
“Saat ini hasil penelitian itu masih berbentuk model dan masih diperlukan beberapa tahap lagi sebelum mencapai prototype serta produksi,” kata dia.
Sampai sekarang Mulyono tinggal di Australia.
Tak kangenkah ia pulang ke Indoesia? Ikuti kelanjutan kisahnya pada artikel berikutnya.
Mulyoto Pangestu di Australia
Mulyoto Pangestu di Australia (Foto: Dok. Mulyoto Pangestu)
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan