Kumparan Logo

Mungkinkah Israel Mencuri Awan Hujan dari Iran?

kumparanSAINSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tampak bendera Israel di atas sebuah bukit. (Foto: Pixabay)
zoom-in-whitePerbesar
Tampak bendera Israel di atas sebuah bukit. (Foto: Pixabay)

Baru-baru ini Komandan Garda Revolusi Iran, Brigadir Jenderal Gholam Ridha Jalali, menuduh Israel mencuri awan dari Iran sehingga negaranya mengalami kekeringan akibat hujan yang tidak kunjung turun. Pernyataan ini ia sampaikan dalam konferensi agrikultur di Teheran pekan ini, seperti diberitakan AFP.

Jalali mengatakan, bukti yang paling terlihat bahwa ada pencurian awal hujan dan salju yang dilakukan oleh Israel adalah seluruh pegunungan dengan tinggi lebih dari 2.200 meter antara Afghanistan dan Mediterania diselimuti salju, tapi tidak dengan gunung-gunung di Iran.

"Israel dan negara lain di kawasan telah bergabung untuk memastikan awan tidak masuk ke langit Iran sehingga tidak bisa menciptakan hujan," kata Jalali.

Pernyataan Jalali ini patut dipertanyakan. Apa memang benar ada teknologi yang memungkinkan sebuah negara untuk mencuri awan dan menyebabkan kekeringan di negara lain yang menjadi lawannya?

Iran (Ilustrasi) (Foto: Wikimedia Commons)
zoom-in-whitePerbesar
Iran (Ilustrasi) (Foto: Wikimedia Commons)

Robin G. Andrews, vulkanologis eksperimental dari University of Otago, Selandia Baru, yang juga penulis di IFL Science, menuliskan dalam artikelnya bahwa mencuri awan hujan dan salju tidaklah mungkin dan tidak ada teknologi yang memungkinkan hal tersebut.

Kalaupun ada mesin yang berhubungan dengan hujan, mesin tersebut adalah mesin pembuat hujan, bukan pencuri hujan, yang saat ini tengah dikembangkan di China karena negara tersebut membutuhkan lebih banyak air bersih.

Bukan hanya Andrews, namun kepala badan meteorologi Iran, Ahad Vazife, pun mengatakan bahwa hal tersebut tidak mungkin. “Tidak mungkin sebuah negara mencuri salju atau awan,” kata Vazife.

Beberapa saat kemudian, kantor berita swasta di Iran, Tasnim News Agency, kembali memberitakan bahwa sang jenderal mengatakan mungkin saja kekeringan di Iran terjadi karena negara-negara asing menyebabkan perubahan iklim sehingga terjadi kekeringan.

Kekeringan di Cape Town (Foto: REUTERS/Mike Hutchings)
zoom-in-whitePerbesar
Kekeringan di Cape Town (Foto: REUTERS/Mike Hutchings)

Andrews menuliskan, pernyataan terbaru Jalali lebih masuk akal. Iran, sebagaimana negara lain di dunia memang mengalami peningkatan suhu yang diakibatkan oleh perubahan iklim. Peningkatan suhu ini menyebabkan kekeringan panjang.

Berbagai studi sudah membuktikan bahwa Iran akan mengalami kekeringan lebih parah lagi, bahkan hingga mengalami kekurangan air mengingat Iran adalah wilayah gurun.

Kalau berbicara mengenai perubahan iklim, Iran bukanlah termasuk dalam 10 besar penyumbang emisi karbon dioksida terbesar di dunia.

Saat ini negara penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar adalah China yang berkontribusi terhadap 26,83 persen emisi di seluruh dunia. Kemudian berturut-turut ada Amerika Serikat, Uni Eropa, India, Rusia, Jepang, Brasil, Indonesia, Kanada, dan Meksiko. Ke 10 negara tersebut menyumbangkan total 73,01 persen emisi gas rumah kaca.

Walau Iran ‘hanya’ menyumbang 1,64 persen emisi gas rumah kaca, Iran tetap merupakan negara penyumbang gas rumah kaca terbesar ke-11 menurut data dari World Research Institute.

Mengenai pernyataan bahwa Israel mencuri awan dari Iran, ini bukan pertama kalinya ada pejabat Iran yang menuduh negara Barat dan sekutunya melakukan hal-hal 'aneh' untuk mengalahkan Iran.

Sebelumnya, penasihat pemimpin Iran juga pernah menuduh negara Barat menggunakan reptil untuk memata-matai negara mereka dan menyebut bahwa reptil memiliki kulit yang dapat mendeteksi gelombang atom dari proyek nuklir mereka.