Kumparan Logo

Musim Hujan Tiba, Kenali Perbedaan Penyakit Flu dan Pilek

kumparanSAINSverified-green

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suasana di Car Free Day (CFD) di Jalan Sudirman-Thamrin, Jakarta, Minggu (29/12).  Foto: Nugroho Sejati/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Suasana di Car Free Day (CFD) di Jalan Sudirman-Thamrin, Jakarta, Minggu (29/12). Foto: Nugroho Sejati/kumparan

Beberapa daerah di Indonesia kini sudah memasuki musim hujan, karenanya udara menjadi lebih lembab dan dingin. Kondisi cuaca seperti ini tentu dapat membuat orang terserang penyakit, terutama pilek dan flu.

Walau bukan penyakit parah, virus pilek dan flu mampu membuat kamu menderita selama beberapa hari. Bicara soal kedua virus itu, pilek dan flu ini ternyata hampir tidak mungkin muncul secara bersamaan dalam satu tubuh.

Riset terbaru dari University of Glasgow di Skotlandia menunjukkan, bahwa ternyata pilek dan flu merupakan jenis penyakit yang berbeda, walaupun efek yang ditimbulkan hampir sama. Jadi, mari kita telaah lebih dalam perbedaan antara pilek dan flu.

Perbedaan pilek dan flu

Pilek adalah infeksi saluran pernapasan bagian atas yang disebabkan oleh virus rhinovirus. Efek virus ini akan menyebabkan penderita mengalami sakit tenggorokan yang biasanya hilang dalam satu atau dua hari, kemudian hidung tersumbat atau hidung berair, bersin, batuk dengan dahak berwarna hijau atau kuning, terkadang sakit kepala, badan lemas, lesu, dan tidak bertenaga.

Ilustrasi orang sakit flu Foto: Shutter Stock

Kita bisa terkena pilek setiap saat, minimal dua sampai tiga kali dalam setahun. Namun, virus pilek paling sering menular ketika musim dingin atau musim hujan. Hal ini karena kebanyakan virus pilek mudah berkembang dalam suhu rendah atau dingin dan udara yang kering.

Sedangkan influenza atau flu adalah infeksi virus yang menyerang sistem pernapasan secara keseluruhan, mulai dari hidung, tenggorokan, dan paru-paru. Flu disebabkan oleh tiga macam virus influenza, yakni influenza A, influenza B, dan influenza C. Virus influenza tipe A dan B biasanya menyebabkan flu selama musim tertentu, sementara tipe C dapat terjadi sepanjang tahun.

Ketiga efek virus influenza ini akan menyebabkan penderita mengalami demam tinggi selama 3-5 hari, meski pada beberapa kasus orang mungkin tidak merasakan demam. Kemudian sering sakit kepala berat, batuk kering, sesekali sakit tenggorokan, badan gemetar dan menggigil, nyeri otot sekujur tubuh, kelelahan parah hingga 2 sampai 3 minggu, dan mual juga muntah yang biasanya terjadi pada anak-anak.

Penelitian yang dipimpin oleh Dr. Pablo Murcia, seorang dosen senior di MRC-Center for Virus Research di University of Glasgow, mencoba membuktikan interaksi dari virus pilek dan flu, seperti kemungkinan keduanya dapat hidup bersamaan dalam satu tubuh manusia dan bagaimana infeksi virus tertentu itu dapat mendukung atau menghambat satu sama lain.

Riset ini melibatkan 36.000 orang di Skotlandia yang bersedia tenggorokan dan hidungnya dites dalam pengujian pernapasan selama sembilan tahun. Mereka diuji dengan 11 jenis virus pernapasan, seperti rhinovirus yakni penyebab utama pilek, influenza A dan B, virus syncytial pernapasan, dan adenovirus.

ilustrasi anak pilek dan bersin-bersin Foto: Unsplash

Hasilnya, 35 persen peserta dinyatakan positif memiliki setidaknya satu virus dalam tubuhnya. 8 persen peserta lainnya dinyatakan positif koinfeksi atau infeksi simultan oleh dua virus. Data analisis komputer juga menunjukkan, ketika aktivitas flu meningkat, infeksi rhinovirus justru menurun.

"Satu pola yang sangat mencolok dalam data kami adalah penurunan kasus virus rhinovirus pernafasan yang terjadi selama musim dingin, ketika aktivitas flu meningkat," ujar Sema Nickbakhsh, penulis studi utama yang merupakan seorang rekan peneliti di Pusat Penelitian Virus.

Ketika para ilmuwan mengamati pasien secara individu, mereka menemukan bahwa orang yang terinfeksi virus influenza A ternyata 70 persen lebih kecil berkemungkinan untuk terinfeksi rhinovirus dibandingkan dengan pasien yang terinfeksi dengan jenis virus lain.

Sayangnya, penelitian ini belum dapat menemukan alasan yang menyebabkan efek penghambat antara virus flu dan rhinovirus. Tetapi, mereka menyimpulkan sebuah teori yang cukup logis di mana virus kemungkinan melakukan persaingan satu sama lain dalam upaya mereka untuk mereplikasi dan menyebabkan tubuh manusia menderita.

kumparan post embed

"Kami percaya virus pernapasan mungkin bersaing untuk menguasai sumber daya di saluran pernapasan. Mungkin virus-virus ini bersaing untuk menginfeksi sel-sel tertentu, atau bahwa respons kekebalan seseorang terhadap satu virus mempersulit virus lain untuk juga menyebabkan infeksi," tutur Nickbakhsh.

Atau bisa jadi hal ini berkaitan dengan lingkungan tempat si penderita itu tinggal. Mereka yang sedang terkena flu biasanya akan beristirahat di rumah, sehingga mengurangi kemungkinan tertular virus lain. Kendati begitu, riset ini masih memerlukan pendalaman lebih lanjut untuk dapat memahami mekanisme biologis dari tubuh manusia yang mendasari interaksi virus-virus tersebut.