Kumparan Logo

Naskah Kuno Ungkap Obat Asam Urat Abad Pertengahan: Pakai Burung Hantu

kumparanSAINSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Gambar botol air seni, yang mengilustrasikan warna-warna berbeda dari air seni pasien, dengan penyakit yang dijelaskan.   Foto:  Cambridge University Library
zoom-in-whitePerbesar
Gambar botol air seni, yang mengilustrasikan warna-warna berbeda dari air seni pasien, dengan penyakit yang dijelaskan. Foto: Cambridge University Library

Sakit bisa menjadi malapetaka yang mengancam jiwa di masa lalu. Ketiadaan obat dan keterbatasan sains membuat orang-orang yang dicap sebagai ahli kesehatan bisa semena-mena memberikan racikan kepada pasiennya.

Di Abad Pertengahan, misalnya, obat-obatan dibuat dengan bahan-bahan yang tidak wajar. Hal ini tertulis dari ceceran naskah tulisan tangan unik berusia ratusan tahun yang berhasil peneliti susun di Cambridge University Library, Inggris. Naskah itu berisi ribuan resep dan teks medis dari dokter pada Abad Pertengahan.

“Manuskrip-manuskrip ini memberikan wawasan brilian tentang budaya medis abad pertengahan, dan resep yang dikandungnya membawa kita dekat dengan interaksi antara pasien dan praktisi yang terjadi berabad-abad yang lalu,” kata James Freeman, Spesialis Manuskrip Abad Pertengahan di Cambridge University Library, dalam sebuah pertanyaan sebagaimana dikutip IFL Science.

Resep-resep ini adalah pengingat akan rasa sakit dan bahaya kehidupan abad pertengahan: sebelum ada antibiotik, sebelum ada antiseptik, dan sebelum ada analgesik seperti yang kita kenal sekarang."

- James Freeman, Spesialis Manuskrip Abad Pertengahan di Cambridge University Library -

Diagram tubuh manusia, menunjukkan pembuluh darah. Foto: Cambridge University Library

Salah satu resep yang ditulis adalah obat untuk asam urat, jenis radang sendi yang bisa menimbulkan rasa sakit, yang sekarang dapat diobati oleh ibuprofen dan menjaga pola makan.

Sementara di masa lampau, obat asam urat melibatkan burung hantu yang digiling dan dipanggang, lalu diubah menjadi bubuk dan mencampurkannya dengan lemak babi hutan untuk dijadikan salep. Salep itu kemudian digosokkan pada daerah nyeri.

Selain pakai burung hantu, obat lainnya adalah dibuat dari anak anjing yang dipanggang, kemudian dicampur dengan siput dan dipanaskan, lalu diolah dengan lemak dari Fido untuk dijadikan salep.

Dari manuskrip tersebut, ahli medis abad pertengahan juga sering melibatkan bahan-bahan ngeri lainnya, seperti lintah penghisap darah. Mereka juga kerap menggunakan bahan-bahan yang sekarang banyak dijual di supermarket, seperti rosemary, merica, dan susu.

Teks kuno menjelaskan resep obat untuk menyembuhkan luka. Foto: Cambridge University Library

“Di balik setiap resep, betapapun jauhnya, ada cerita manusia: pengalaman sakit dan kesakitan, tetapi juga keinginan untuk hidup dan sehat,” kata Freeman.

“Beberapa yang paling mengharukan adalah obat yang berbicara tentang harapan atau kekecewaan tragis orang abad pertengahan: resep 'untuk membuat pria dan wanita mendapatkan anak', untuk mengetahui apakah seorang wanita hamil anak laki-laki atau perempuan, dan 'untuk melahirkan seorang wanita dari anak yang sudah mati'.”

Rencananya, peneliti akan terus mempelajari naskah-naskah kuno tersebut dan mengambil pengobatan tradisional untuk diimplementasikan ke dunia modern. Ada lebih dari 180 manuskrip medis yang tersedia dan akan didigitalisasi sehingga bisa diakses secara online serta gratis di Cambridge Digital Library.

Tidak hanya itu, teks kuno juga bakal diterjemahkan dan diberi konteks tambahan agar orang awam mengerti saat membacanya.

“Setiap manuskrip akan disertai dengan pengenalan yang dapat diakses khalayak umum: Ini akan menjelaskan isi buku, menempatkannya dalam konteks yang lebih luas, menggambarkan siapa yang memilikinya atau memilih sesuatu yang signifikan tentang sejarahnya,” kata Freeman. “Tujuannya adalah untuk membantu peneliti dan publik memahami, mempelajari, dan menghargai artefak unik dan tak tergantikan ini.”