Obat Klorokuin yang Dipakai Indonesia Belum Teruji untuk COVID-19

Presiden Jokowi resmi mengumumkan penggunaan klorokuin sebagai salah satu 'obat' untuk pasien COVID-19, penyakit yang diakibatkan oleh virus corona SARS-CoV-2. Dia menyebut bahwa pemerintah telah memesan 3 juta klorokuin sebagau upaya menyembuhkan pasien terinfeksi corona.
Selain klorokuin, pemerintah juga memesan avigan dari Jepang, yang selama ini dimanfaatkan pemerintah China untuk upaya mengobati pasien COVID-19.
Jokowi mengklaim bahwa penggunaan obat klorokuin telah dianjurkan di beberapa negara. "Obat ini sudah dicoba di satu, dua, tiga negara dan memberi kesembuhan," kata Jokowi dalam sebuah konferensi pers di Istana Negara, Jakarta, Jumat (20/3).
Pada kesempatan yang sama, Jokowi juga menegaskan bahwa sampai sekarang ini belum ditemukan vaksin atau antivirus untuk melawan virus corona SARS-CoV-2.
Di sisi lain, pengumuman yang diberikan Jokowi bisa jadi menimbulkan kebingungan publik karena sebelumnya, penggunaan klorokuin sebagai obat COVID-19 disebut hoaks oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) pada 15 Maret 2020.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menjadi salah satu sosok yang mendukung penggunaan klorokuin dalam perawatan pasien COVID-19. Ia mengumumkan penggunaan tersebut pada Kamis (19/3), sembari menyebut bahwa klorokuin telah disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA) atau Badan Pengawas Obat dan Makanan AS.
Kendati demikian, FDA sendiri mengaku mereka belum menyetujui penggunaan obat tersebut. Menurut mereka, belum ada obat apapun yang teruji sebagai obat COVID-19.
"Tidak ada terapi atau obat yang disetujui FDA untuk mengobati, menyembuhkan atau mencegah COVID-19," kata FDA dalam situs resmi mereka. FDA menyebut, sejauh ini mereka baru hanya menyetujui beberapa perawatan yang yang dapat membantu meringankan gejala COVID-19.
Senada dengan FDA, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menyebut bahwa klorokuin belum teruji secara klinis. Menurut WHO, penanganan pasien virus corona dan COVID-19 mestinya dibawah terapi yang telah disepakati secara etis.
"Untuk klorokuin, tidak ada bukti bahwa itu adalah pengobatan yang efektif saat ini," kata Janet Diaz, kepala perawatan klinis Program Kedaruratan WHO, dikutip dari Wired.
"Kami merekomendasikan agar terapi diuji di bawah uji klinis yang disetujui secara etis untuk menunjukkan kemanjuran dan keamanan."
Klorokuin sendiri dikenal sebagai obat malaria. Obat ini telah berusia 85 tahun dan telah digunakan manusia sejak Perang Dunia II.
Menurut laporan Wired, sebuah tim penelitian yang dipimpin oleh Stuart Nichol, kepala Unit Patogen Khusus di Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) di AS, pernah menerbitkan sebuah artikel pada 2005 yang mengatakan bahwa klorokuin efektif melawan sel primata yang terinfeksi SARS, coronavirus pertama yang mempengaruhi manusia.
Meski demikian, penelitian tersebut berbasis pada tes in vitro, yakni pengujian melalui sel makhluk hidup, dan bukan melalui makhluk hidup itu sendiri.
Apa yang menjadi masalah besar adalah SARS-CoV-2 merupakan jenis baru dari coronavirus, yang sebelumnya oleh para peneliti disebut sebagai novel coronavirus. Peradaban manusia baru pertama kali mengenal virus ini, dan belum memiliki vaksin maupun obat dari COVID-19.
Kini, sejumlah rumah sakit di AS dilaporkan tengah menguji obat ini untuk meredakan gejala atau untuk mengobati COVID-19.
"Semua pasien kami memakai klorokuin, serta antiretroviral. Kami menggunakan Kaletra. Tempat yang berbeda menggunakan antiretroviral yang berbeda,” kata Liise-anne Pirofski, kepala penyakit menular di Albert Einstein College of Medicine and Montefiore, dikutip dari Wired. "Semua orang mendapatkannya, kecuali mereka memiliki kontraindikasi."
Lantas, apa yang bakal terjadi bila seorang pasien COVID-19 meminum klorokuin? Belum ada yang tahu.
Yang pasti, pengujian memang diperlukan guna mencari obat yang tepat dalam menangani COVID-19. Beberapa obat mungkin berhasil, tapi tak sedikit yang tidak efektif.
"Banyak obat, termasuk klorokuin atau hydroxychloroquine, bekerja dalam sel di laboratorium melawan coronavirus," kata Matthew Frieman, seorang ahli mikrobiologi dari University of Maryland, yang mempelajari terapi melawan virus corona. "Sedikit obat yang telah terbukti bekerja dalam model binatang hidup."
