Orang yang Percaya Teori Konspirasi Cenderung Lakukan Kejahatan Kecil

Sebuah hasil riset terbaru mengungkap hal buruk dari mereka yang percaya teori konspirasi. Ternyata mereka dianggap lebih mungkin melakukan kejahatan kecil.
Riset ini dilakukan oleh para peneliti di University of Kent dan Staffordshire University, Inggris. Terbit di British Journal of Social Psychology, hasil riset ini menunjukkan adanya hubungan antara tipe pemikiran yang menyukai teori konspirasi dengan bagaimana seseorang untuk berperilaku sedikit melawan hukum.
"Riset kami telah menunjukkan untuk pertama kalinya bahwa teori-teori konspirasi punya peran dalam menentukan perilaku seseorang terhadap tindakan kriminal ringan," ujar salah satu anggota tim peneliti Karen Douglas.
"Hal ini menunjukkan bahwa orang-orang yang mengikuti pandangan bahwa orang lain melakukan konspirasi cenderung melakukan aksi tidak etis," tambah dia kepada Science Alert.
Tindakan kriminal yang dimaksud memang ringan. Misalnya, hal-hal seperti menyeberang sembarangan atau memilih untuk tidak membayar pajak kalau tidak ketahuan.
Dalam riset ini, para peneliti melakukan dua studi. Yang pertama adalah untuk mempelajari fenomena ini dalam cara cross-sectional atau penelitian yang dilakukan pada satu waktu dan satu kali. Lalu dalam studi kedua dilakukan eksperimen terkontrol untuk mengelaborasi hasil temuan mereka.
Dalam studi pertama, tim peneliti mempelajari pendapat 253 orang mengenai teori-teori konspirasi, dan apakah mereka mempercayai salah satunya. Orang-orang itu juga diberikan pertanyaan atas seberapa mungkin mereka melakukan tindakan kriminal ringan, seperti melakukan klaim barang yang bukan miliknya.
Dan hasilnya, para peneliti menemukan hubungan tersebut.
"Seperti yang kita duga, percaya terhadap teori-teori konspirasi secara signifikan memiliki korelasi positif dengan perilaku kriminal harian," tulis para peneliti di makalah hasil riset mereka.
Ini bukan berarti bahwa mereka yang percaya teori konspirasi memang melakukan tindakan kriminal itu. Yang para peneliti temukan adalah bahwa kedua hal tersebut memiliki hubungan atau korelasi.
Selanjutnya, para peneliti melakukan riset di internet. Mereka mempelajari 120 peserta lain untuk ikut dalam eksperimen selanjutnya.
Para peserta diberi pertanyaan serupa dengan studi pertama. Tapi sebagian dari mereka diminta membaca artikel berisi teori konspirasi.
Kemudian para peserta diminta untuk menilai rasa percaya mereka terhadap teori konspirasi dan seberapa mungkin mereka melakukan aksi kriminal kecil-kecilan di masa depan.
"Terpapar artikel konspirasi mempengaruhi tingkat keinginan seseorang melakukan aksi kriminal kecil di masa depan," beber tim peneliti.
"Secara spesifik, keinginan untuk melakukan kriminal kecil secara signifikan lebih tinggi pada mereka yang diberi artikel teori konspirasi dibanding yang tidak," tambah mereka.
Para peneliti menduga bahwa hal ini berhubungan dengan bagaimana mempercayai suatu teori konspirasi mempengaruhi perasaan seseorang.
"Riset ini menggarisbawahi bahwa perilaku kriminal ringan adalah suatu respons dinamis dan fleksibel terhadap konteks sosial. Khususnya terhadap bagaimana norma sosial dipersepsikan untuk harus diikuti oleh kelompok-kelompok kuat di masyarakat," jelas para peneliti.
"Melakukan perilaku kriminal harian mungkin terasa memberdayakan bagi orang-orang yang menganggap bahwa dunia ini penuh dengan elit-elit yang berkonspirasi dan harus dilawan."
Patut kita pahami bahwa ukuran riset ini terbilang kecil. Para peneliti menekankan bahwa ini bukanlah satu-satunya alasan di balik perilaku negatif mereka yang percaya teori konspirasi.
Faktor lain, seperti kepribadian orang yang bersangkutan misalnya, juga bisa menjadi prediktor yang lebih baik atas dorongan seseorang terhadap perilaku kriminal ringan.
