Peneliti: Kemampuan Manusia Hadapi Gelombang Panas Ada Batasnya

Bumi semakin panas. Baru-baru ini, Prancis merasakan suhu udara yang mencapai 46 derajat Celsius, rekor tertinggi di negara tersebut. Yang lebih parah di tahun 2019, pada awal Juni, India merasakan temperatur 50 derajat Celsius.
Peneliti memperingatkan bahwa tubuh manusia semakin mendekati titik batas kemampuannya menahan gelombang panas. Tom Matthews, lektor Ilmu Iklim di Loughborough University, menjelaskan ketika batas itu dilewati, anak-anak, orang tua, dan mereka dengan kondisi medis tertentu, bisa terancam mengalami kematian.
"Ketika temperatur udara (normal) melewati 35 derajat Celsius, tubuh bergantung pada penguapan air, terutama melalui keringat, untuk menjaga temperatur inti tubuh pada tingkat yang aman," jelas Matthews dalam tulisannya di The Conversation.
"Sistem ini bekerja dengan baik sampai temperatur 'wet bulb' mencapai 35 derajat Celcius," lanjut dia.
Matthews menjelaskan bahwa temperatur wet bulb normalnya lebih rendah dibanding temperatur normal atau dry bulb. Sebab, temperatur wet bulb juga memperhitungkan efek pendinginan uap air di udara.
Menurut Matthews, begitu temperatur wet bulb lewat dari 35 derajat Celsius, udara telah dipenuhi oleh uap air. Hal itu membuat keringat tak lagi menguap.
Akibatnya, tanpa adanya jalan untuk menghilangkan panas, temperatur inti tubuh jadi meningkat. Hal itu terjadi tanpa memedulikan berapa banyak air yang kita minum, bagaimana kita berlindung dari sinar Matahari, atau seberapa banyak kita beristirahat, jelas Matthews.
"Temperatur wet bulb 35 derajat Celcius belum dilaporkan terjadi secara umum. Tapi, ada beberapa bukti kondisi itu mulai terjadi di Asia Barat Daya," papar Matthews mengutip laporan hasil risetnya sendiri yang telah dipublikasikan di jurnal SAGE Juni 2018 lalu.
"Perubahan iklim memberikan prospek bagi beberapa daerah populasi terpadat di Bumi untuk melewati batas itu pada akhir abad ini," tambahnya. Daerah-daerah yang Matthews maksud adalah Teluk Persia, Asia Selatan, dan Dataran China Utara.
Matthews mengatakan bahwa pendingin ruangan atau AC bisa membantu mengatasi hal ini. Tapi, menurut Matthews, cara ini tidak begitu efektif mengatasi masalah tersebut. Sebab, ini menyebabkan ketergantungan pada AC yang nantinya akan meningkatkan kebutuhan atas listrik sehingga meningkatkan penggunaan energi yang bisa semakin mendorong terjadinya perubahan iklim..
Selain itu, Matthews mengatakan solusi itu juga menyebabkan kombinasi mematikan lainnya. "Dalam simulasi, kami menemukan bahwa semakin iklim memanas maka semakin mungkin siklon-siklon besar diikuti dengan panas berbahaya," kata Matthews.
"Jadi, selama masa tanggap darurat terhadap kondisi siklon tropis, menjaga agar orang-orang tetap dingin harus mendapat prioritas yang sama seperti menyediakan air minum bersih," imbuh dia.
