kumparan

Peneliti Ungkap Misteri Kuburan ‘Vampir’ Polandia

Mayat 'Vampir' Diberi Besi Penahan
Mayat 'Vampir' Diberi Besi Penahan (Foto: Amy Scott/PLOS ONE, 2014)
Pada abad ke-17 dan 18, ada suatu kebiasaan unik di Polandia dalam menguburkan seseorang. Mulai dari meletakkan batu besar di bawah dagu mayat, hingga adanya batangan besi penahan berbentuk arit di atas dada mereka.
ADVERTISEMENT
Konon, hal ini dilakukan sebagai bentuk pencegahan agar mayat-mayat itu tidak bangkit lagi menjadi ‘vampir’.
Dilansir Science Alert, para ahli sejarah cukup kebingungan untuk memahami kebiasaan aneh di masa itu. Para sejarawan sudah lama penasaran mengapa masyarakat pada saat itu begitu ketakutan dan mempercayai bahwa orang-orang yang mereka kuburkan itu adalah vampir.
Namun baru pada 2014 kemarin dilakukanlah sebuah studi untuk membuktikan apakah ada hal yang berbeda dari mereka yang dikuburkan sebagai vampir. Studi tersebut, yang dipimpin oleh University of Alabama dan dipublikasikan di jurnal PLOS ONE, adalah studi pertama yang mempelajari ritual penguburan unik itu.
Mayat 'Vampir' Ditindih Batu NOTCOVER
Mayat 'Vampir' Ditindih Batu (Foto: Gregoricka et al. PLOS ONE, 2014)
Dalam studi tersebut para peneliti mempelajari tulang belulang dari enam orang, yang dikuburkan dengan ritual anti vampir itu, dari suatu pemakaman di Polandia Utara.
ADVERTISEMENT
Untuk menginvestigasi asal dari enam orang itu, tim peneliti menghitung rasio strontium dari bagian gigi geraham mereka dan kemudian membandingkannya dengan geraham dari 54 orang lain yang dimakamkan secara normal di pemakaman yang sama.
Stontium sendiri adalah suatu elemen yang biasa ditemukan di banyak batuan, tapi rasionya berbeda-beda tergantung asalnya. Jadi dengan menilai strontium dari suatu spesimen, bisa ditemukan asalnya.
Selain mencari rasio strontium dari gigi tulang-belulang manusia, para peneliti juga mempelajari rasio strontium dari hewan-hewan lokal untuk memperkuat temuan mereka.
Dari hasil temuan rasio strontium ini, para peneliti menemukan bahwa mereka yang diduga vampir adalah orang-orang lokal di daerah tersebut. Selain itu, mereka juga dapat menduga penyebab kematian dan ataupun identitas sosial orang-orang tersebut.
ADVERTISEMENT
Dalam studi tersebut para peneliti juga memberikan suatu teori yang menjelaskan bahwa waktu kematian orang-orang dengan ritual penguburan yang unik itu bertepatan dengan menyebarnya kolera di Eropa Timur pada abad ke-17.
Ilustrasi Vampir
Ilustrasi Vampir (Foto: AhutterStock)
Para peneliti berpendapat, orang masa lampau menganggap orang yang mati akibat penyakit menular tersebut dapat hidup kembali sebagai vampir.
"Orang-orang dari periode pasca abad pertengahan tidak memahami bagaimana penyakit (kolera) menyebar, dan dibandingkan suatu penjelasan ilmiah untuk wabah itu, kolera dan kematiannya dijelaskan dengan pendekatan supernatural, dalam kasus ini, vampir," ujar pemimpin tim studi, Lesley Gregoricka.
Bagi para peneliti, hasil studi tersebut telah membuka jalan bagi analisis lebih lanjut terhadap para ‘vampir’ dan juga membawa pemahaman baru atas ritual penguburan unik vampir itu.
ADVERTISEMENT
Selain itu, studi ini juga telah memberikan sudut pandang baru dalam memahami kebudayaan serta praktik sosial dari komunitas masyarakat di zaman abad pertengahan kala itu.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan