Kumparan Logo

Perlukah Konsumsi Vitamin D saat COVID-19 Telah Jadi Endemi?

kumparanSAINSverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi mengonsumsi vitamin. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi mengonsumsi vitamin. Foto: Shutterstock

Saat pandemi COVID-19 masuk ke Indonesia dua tahun lalu, beragam suplemen pun diburu. Tak terkecuali suplemen vitamin D yang dapat meningkatkan daya tahan tubuh.

Seiring berjalannya waktu, vitamin D seolah jadi 'kebutuhan wajib' yang harus dipenuhi. Sebab, banyak penelitian yang menunjukkan bahwa sinar matahari tidak cukup untuk mencukupi kebutuhan vitamin D harian.

Pentingnya konsumsi vitamin D saat endemi

Setelah mengalami gelombang ketiga pandemi, keadaan Tanah Air pun berangsur pulih. Kasus positif COVID-19 mulai turun dan tingkat kesembuhan semakin naik. Pemerintah juga terus menjalankan kebijakan transisi menuju endemi dengan melonggarkan aturan-aturan pembatasan yang berlaku.

Lantas, meski COVID-19 nantinya akan menjadi endemi, masih perlukah kita mengonsumsi vitamin D?

Ilustrasi vitamin D. Foto: Shutterstock

Sejatinya, vitamin D tetap diperlukan tubuh —terlepas dari situasi pandemi atau endemi. Dalam penelitian yang dilansir National Institutes of Health, nutrisi dari vitamin D dapat meningkatkan fungsi sel-sel kekebalan tubuh, seperti sel-T dan makrofag, yang akan melindungi tubuh dari patogen penyebab penyakit.

Tak hanya itu, dalam jurnal yang diterbitkan Universitas Harvard, Inggris, vitamin D dapat mengurangi pertumbuhan sel kanker, membantu mengendalikan infeksi, dan mengurangi peradangan.

Namun, ahli gizi Universitas Gadjah Mada, Dian Caturini Sulistyoningrum, B.Sc., M.Sc., justru menemukan bahwa angka defisiensi vitamin D di Indonesia masih cukup tinggi. Dalam penelitian pada anak-anak berusia 15-18 tahun di 10 sekolah Yogyakarta tahun 2018 itu, ditemukan bahwa hampir 100 persen dari sampel penelitian mengalami defisiensi vitamin D.

Di sisi lain, tim peneliti Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor (Fema IPB) menemukan, sebanyak 57,6 persen pekerja wanita berusia 35-45 tahun tidak memiliki asupan vitamin D yang cukup. Sementara itu, 30,5 persen di antara sampel mengalami defisiensi vitamin D.

Ilustrasi mengalami gejala defisiensi vitamin D. Foto: Shutterstock

Padahal, seseorang yang kekurangan vitamin D dapat mengalami gejala-gejala tertentu dalam kesehariannya. Tak hanya mudah sakit, namun juga mudah mengalami kelelahan tanpa sebab, nyeri tulang, otot, dan punggung, serta memiliki kecemasan berlebih.

Cara mencukupi kebutuhan vitamin D harian

Dengan banyaknya manfaat yang didapat, segala rentang usia pun dianjurkan untuk mencukupi kebutuhan vitamin D hingga mencapai kadar normal. Tak perlu khawatir soal risiko toksisitas akibat kelebihan vitamin D, sebab selama dikonsumsi sesuai anjuran, risiko tersebut dapat diminimalisir.

Menurut Angka Kecukupan Gizi (AKG) tahun 2019, kebutuhan harian vitamin D adalah 400 IU untuk bayi di bawah 1 tahun, 600 IU untuk anak usia ≥1 tahun, remaja, dewasa, ibu hamil dan menyusui, serta 800 IU untuk usia ≥65 tahun.

Sementara itu, untuk orang dengan paparan sinar matahari yang kurang, baik anak dan orang dewasa memerlukan dosis vitamin D 800-1000 IU/hari. Anda juga bisa melakukan pemeriksaan kadar vitamin D 25-OH total untuk mengukur kadar vitamin D dalam tubuh. Hasil pemeriksaan ini akan menunjukkan kadar vitamin D yang ada di dalam darah ada dalam batas rendah, normal, atau terlampau tinggi.

Ilustrasi mengonsumsi vitamin. Foto: Shutterstock

Selain rutin berjemur dan berolahraga, jangan lupa menambah Prove D3 dalam suplemen harian Anda agar kebutuhan vitamin D senantiasa tercukupi.

Mengandung vitamin D3 (cholecalciferol) yang disesuaikan dengan kebutuhan anak-anak maupun orang dewasa, Prove D3 dapat menjadi asupan suplemen harian maupun terapi defisiensi vitamin D. Suplemen ini juga bebas gluten, pewarna, alkohol, serta telah mendapatkan sertifikasi halal.

Terdapat tiga varian yang bisa Anda pilih. Prove D3 Drops dengan kandungan vitamin D3 400 IU di tiap tetesnya, Prove D3 1000 tablet salut selaput yang mengandung vitamin D3 1.000 IU per tablet, serta Prove D3 5000 tablet kunyah dengan vitamin D3 5000 IU per tablet.

Khusus varian Prove D3 Drops, produk dari Kalbe Farma ini hadir tanpa rasa. Bentuknya yang tetes (drops) juga memudahkan pemberian untuk bayi dan anak-anak yang sulit minum vitamin.

Prove D3 mengandung vitamin D3 (cholecalciferol) yang disesuaikan dengan kebutuhan anak-anak maupun orang dewasa. Foto: dok Prove D3

Selain diminum langsung, Prove D3 Drops dapat dicampur ke makanan atau minuman favorit keluarga. Setelah dibuka, jangan lupa simpan pada suhu kurang dari 25°C. Dikemas dalam botol tetes terstandar 12,5 ml yang setara dengan 450 tetes, suplemen ini tahan disimpan hingga 10 bulan. Jika dihitung dari sisi ekonomi, biaya vitamin D per tetes pada Prove D3 Drops kurang dari Rp 500 saja.

Dengan keunggulan-keunggulan tersebut, Prove D3 dapat dikonsumsi oleh seluruh anggota keluarga, mulai dari bayi hingga lansia. Apalagi, setiap pembelian Prove D3 di rumah sakit, apotek, ataupun toko online resmi Kalbe, Anda dapat mendapatkan harga khusus pemeriksaan vitamin D di Laboratorium Prodia di seluruh Indonesia.

Setelah membeli Prove D3, hubungi call center Kalbe di 087898894848 / 1500880 ext 2 untuk mendapatkan voucher harga khusus. Mulai sekarang, yuk cukupi kebutuhan vitamin D harian hingga batas normal dengan selalu sedia Prove D3 di rumah, untuk menjaga daya tahan tubuhmu sekeluarga #ProveComesFirst.

Artikel ini merupakan bentuk kerja sama dengan Prove D3