Perubahan Iklim Ancam Keberadaan Pohon Pisang

Pisang adalah salah satu tumbuhan paling penting bagi manusia. Tapi dalam beberapa tahun terakhir, tumbuhan ini berada dalam ancaman penyakit jamur bernama Black Sigatoka.
Dan sekarang, keberadaan pohon pisang semakin terancam. Menurut hasil sebuah riset yang dipublikasikan di jurnal Philosophical Transactions of the Royal Society B, perubahan iklim telah meningkatkan risiko infeksi Black Sigatoka.
Para peneliti dalam riset menemukan bahwa risiko infeksi penyakit tersebut telah meningkat sebesar 44,2 persen jika dibandingkan sejak tahun 1960-an. Wilayah yang paling terdampak oleh peningkatan risiko infeksi penyakit tersebut adalah area yang menjadi tempat tumbuhnya pohon pisang di Amerika Latin dan Karibia.
"Black Sigatoka adalah penyakit jamur pisang, yang menginfeksi daun dan menurunkan produktivitas tumbuhan tersebut," jelas Daniel Bebber, pemimpin riset ini, kepada Newsweek.
“Penyakit ini sampai ke Honduras pada 1972. Asalnya dari Asia dan sekarang ditemukan mulai dari Amerika Latin sampai Karibia," sambung dia.
Bebber menjelaskan bahwa wilayah yang terinfeksi jamur ini harus melakukan penyemprotan obat anti jamur atau fungisida secara rutin. Menurutnya, hal ini memberatkan para pemilik kebun pisang.
"Pemilik kebun pisang di Kosta Rika menyemprot fungisida antara 40 sampai 80 kali setiap tahunnya. Ini memakan biaya 2.500 dolar AS (sekitar Rp 35 juta) per hektare tiap tahunnya. Jika dijumlahkan, bagi Kosta Rika saja angkanya bisa mencapai 100 juta dolar AS (sekitar Rp 1,4 triliun)," kata Bebber.
Bebber punya alasan tersendiri saat menginvestigasi isu ini. Menurutnya, dengan mempelajari infeksi jamur pada pisang, kita bisa memahami bagaimana hama tumbuhan dan penyakit dipengaruhi pola cuaca.
"Black Sigatoka adalah contoh yang baik dari patogen yang sangat dipengaruhi cuaca. Ini karena jamur itu memerlukan kelembapan dan kondisi temperatur tertentu untuk bisa menginfeksi tumbuhan," papar Bebber.
"Jadi Black Sigatoka adalah kandidat yang baik untuk mempelajari fenomena ini," kata dia lagi.
Pohon pisang rentan terhadap infeksi penyakit seperti ini karena kurangnya variasi pada jenis pisang yang diekspor ke seluruh dunia. Ada satu jenis pisang yang sangat terkenal dan diekspor ke seluruh dunia, yaitu pisang Cavendish yang secara genetik serupa satu sama lainnya.
Kesimpulan Bebber atas adanya peningkatan risiko infeksi pada pohon pisang ini datang setelah dia mempelajari dan menggabungkan data selama 60 tahun terakhir. Bebber mempelajari data infeksi Black Sigatoka yang disebabkan jamur Pseudocercospora fijiensis dan informasi iklim selama 60 tahun terakhir.
"Temuan kuncinya adalah risiko infeksi Black Sigatoka meningkat dengan rata-rata 44 persen di seluruh area tempat tumbuhnya pisang di Amerika Latin dan Karibia sejak 1960 karena adanya perubahan iklim," kata Bebber.
Bebber berpendapat bahwa faktor pendorong signifikan atas peningkatan risiko ini adalah temperatur. Ia mengatakan bahwa perubahan iklim telah menciptakan temperatur udara yang lebih nyaman bagi spora P. fijiensis untuk tumbuh.
Jamur P. fijiensis ini menyebar melalui spora yang lepas ke udara. Spora menginfeksi daun pisang dan menyebabkan munculnya lesi bergaris serta kematian sel pada pohon pisang.
Bebber memberi catatan, riset ini menemukan bahwa perubahan iklim bukanlah satu-satunya faktor yang meningkatkan penyebaran penyakit Black Sigatoka. Penyakit yang menurunkan produksi buah tiap pohon hingga 80 persen itu juga dipengaruhi faktor lain. Di antaranya adalah semakin meningkatkanya produksi pisang dan perdagangan internasional.
Di samping itu, riset menemukan bahwa meski ada peningkatan risiko infeksi di Amerika Latin dan Karibia akibat perubahan iklim, ada daerah yang mengalami hal sebaliknya. Di beberapa daerah di Meksiko dan Amerika Tengah, yang memiliki kondisi lebih kering, terjadi efek sebaliknya.
"Penyakit ini akan semakin parah di daerah yang menjadi semakin basah karena perubahan iklim," kata Bebber.
"Tapi, meski area yang menjadi lebih kering di masa depan mungkin tidak banyak mengalami infeksi penyakit, pisang tetap memerlukan banyak air untuk berkembang. Jadi kering adalah langkah baik untuk mengatasi Black Sigatoka, tapi akan membuat perkebunan pisang memerlukan manajemen air yang baik di masa depan" imbuh dia.
