Kumparan Logo

Potret Menakjubkan Aurora di Atmosfer Bumi, Begini Penampakannya

kumparanSAINSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Potret aurora dari luar angkasa yang berhasil ditangkap astronaut NASA.  Foto: Josh Cassada/NASA
zoom-in-whitePerbesar
Potret aurora dari luar angkasa yang berhasil ditangkap astronaut NASA. Foto: Josh Cassada/NASA

Seorang astronaut bernama Josh Cassada yang berada di luar angkasa berhasil mengabadikan penampakan aurora di Bumi baru-baru ini. Dalam rekaman yang beredar di media sosial, aurora hijau itu tampak sangat indah menghiasi garis lengkung Bumi yang bulat.

Aurora adalah cahaya yang terbentuk akibat adanya interaksi antara medan magnetik Bumi dengan partikel yang dipancarkan oleh semburan Matahari. Partikel-partikel bermuatan itu berinteraksi dengan oksigen dan nitrogen, yang kemudian memancarkan warna hijau dan merah di atas Kutub.

Jika pancarannya kuat, partikel bermuatan dapat bergerak lebih jauh dari Kutub ke garis lintang tengah, bahkan hingga sampai Inggris selatan.

video youtube embed

Ya, aurora memang biasanya muncul di wilayah seperti Kutub Utara atau Selatan. Cahaya hijau ini bisa disaksikan oleh manusia dengan menggunakan mata telanjang. Aurora hadir dalam beragam warna, mulai dari hijau, merah, biru, hingga putih. Aurora akan semakin terlihat jelas ketika kita melihatnya di tempat yang sedikit polusi cahaya.

Faktanya, aurora juga bisa disaksikan oleh orang yang berada di luar angkasa. Ratusan kilometer di atas Bumi, para astronaut juga menikmati pemandangan langka aurora dari sudut pandang yang unik.

X post embed

Gambar yang diambil astronaut Cassada dari NASA dan rekannya Koichi Wasada dari Japan Aerospace Exploration Agency di atas Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) memperlihatkan cahaya aurora berwarna hijau keemasan menghiasi langit malam di Bumi.

X post embed

Aurora yang terlihat kali ini adalah hasil dari badai geomagnetik kelas G3 dari siklus Matahari 25. Aurora memang muncul sebagai respons terhadap siklus 11 tahunan Matahari.

Dikutip BBC, Matahari mengalami siklus 11 tahun yang diukur dari seberapa aktif medan magnetnya. Saat medan magnet ini berubah, jumlah aktivitas pada permukaan Matahari juga berubah.

Aktivitas minimumnya terakhir kali terjadi pada 2020 lalu. Sejak saat itu aktivitas di Matahari telah meningkat dan yang terjadi saat ini adalah yang paling aktif sejak 2014.

Adapun aktivitas maksimumnya diprediksi akan berlangsung pada 2025. Dengan begitu, kemungkinan besar aurora akan lebih sering muncul di tahun-tahun mendatang.