Profesor Oxford Dituduh Menjual Potongan Alkitab Kuno

Museum Washington dan kelompok arkeologi di London melakukan penyelidikan terkait pencurian potongan teks dari Alkibat kuno. Hasilnya, mereka menuduh seorang profesor di Oxford University, yang bukan hanya dituduh mencuri tapi juga menjual potongan teks kuno itu ke perusahaan seni Hobby Lobby.
Potongan teks tersebut berasal dari Oxyrhynchus Papyri, yakni koleksi berharga berisi lebih dari setengah juta lembar papirus yang berasal dari abad ketiga hingga ketujuh Sebelum Masehi (SM). Ditemukan di Mesir oleh dua arkeolog di akhir abad ke-19. Koleksi ini kemudian disimpan di Oxford University dan diawasi oleh Kelompok Eksplorasi Mesir (Egypt Exploration Society) di London.
Kelompok Eksplorasi Mesir sendiri mulai melakukan penyelidikan pada Juni 2019, setelah pemimpin Museum of the Bible merilis salinan kontrak tahun 2013 yang telah dihapus antara Profesor Dr. Drik Obbink dengan toko Hobby Lobby untuk penjualan enam barang antik, termasuk empat barang yang diduga berasal dari koleksi Oxyrhynchus.
Setelah melakukan investigasi selama tiga bulan, 13 fragmen dari koleksi Oxyrhynchus ditemukan di Museum of the Bible. Mereka kemudian menuduh Profesor Obbink, anggota departemen klasik Oxford University, sebagai dalang di balik hilangnya beberapa bagian fragmen Alkitab kuno, dan diduga secara diam-diam menjualnya ke Hobby Lobby dalam transaksi yang terjadi pada 2010 hingga 2013.
Dalam sebuah pernyataan resminya, Kelompok Eksplorasi Mesir mengatakan bahwa Obbink diduga telah menjual 11 fragmen Alkitab kuno yang kemudian berakhir di Museum of the Bible.
Sedangkan dua barang koleksi lainnya diduga dijual oleh seorang pedagang barang antik di Israel kepada toko Hobby Lobby yang juga berakhir di Museum of the Bible.
“Keadaan pasti bagaimana barang-barang itu dipindahkan dari Oxford ke Israel tidak pernah diketahui,” ujar Heather Cirmo, seorang juru bicara museum tersebut.
Menurut Kelompok Eksplorasi Mesir, sebagian besar kartu katalog dan foto-foto dari 13 fragmen tersebut telah hilang.
“Tapi kami memiliki catatan cadangan yang memungkinkan kami untuk mengidentifikasi teks yang tidak dipublikasikan yang hilang,” papar kelompok tersebut, dalam sebuah pernyataan mereka seperti dikutip dari The New York Times.
Profesor Obbink sendiri merupakan ilmuwan yang berasal dari Amerika Serikat. Ia mendapat gelar Ph.D. dari Stanford University. Ia juga pernah menerima beasiswa MacArthur pada tahun 2011. Terkait tuduhan bahwa ia telah mencuri beberapa fragmen Oxyrhynchus Papyri, Obbink belum memberi tanggapan.
Tahun lalu, Profesor Obbink kepada The Daily Beast, juga pernah membantah tuduhan yang dialamatkan kepadanya, bahwa ia telah menjual sebagian isi dari bab pertama Injil Markus yang berasal dari abad kedua atau awal abad ketiga.
Imbas dari masalah ini, pada Juni 2019, Profesor Obbink diketahui tidak lagi mendapatkan akses pada koleksi Oxyrhynchus setelah kontrak jual beli antara dirinya dengan Hobby Lobby terungkap. Namun, menurut Stephen Rouse, seorang juru bicara Oxford mengatakan bahwa hingga kini Profesor Obbink masih bekerja di University Oxford.
Lebih lanjut Rouse mengatakan, Oxford University juga telah bekerja sama dengan Kelompok Eksplorasi Mesir untuk melakukan penyelidikan di internalnya sendiri.
Di sisi lain, Museum of the Bible berdalih bahwa mereka membeli artefak tersebut “dengan itikad baik”, dan sekarang mereka sedang mengatur untuk mengembalikan artefak-artefak tersebut.
Bukan kali ini saja perusahaan Hobby Lobby terlibat masalah terkait jual beli barang antik. Pada 2010, mereka diketahui membeli koleksi 5.500 tablet tanah liat kuno dari Irak seharga 1,6 juta dollar AS atau setara dengan Rp 23 miliar dari seorang kolektor yang tidak disebutkan namanya. Hobby Lobby kemudian dikenakan denda sekitar 3 juta dolar AS atau setara dengan Rp 42 miliar.
Kini, Kelompok Eksplorasi Mesir mengatakan akan menyelidiki apakah ada lagi teks Oxyrhynchus yang hilang atau dihapus secara ilegal. Walau begitu, mereka mengungkapkan bahwa dengan jumlah lebih dari 500.000 fragmen, pemeriksaan sistematis akan menjadi proses yang panjang.
