Kumparan Logo

Ramai di Medsos Bakal Ada Hujan Meteor, Benarkah Bisa Membahayakan?

kumparanSAINSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi hujan meteor Foto: NASA/JPL
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi hujan meteor Foto: NASA/JPL

Baru-baru ini ramai di media sosial bakal ada hujan meteor yang menyambangi Indonesia. Beberapa netizen bahkan sudah pesimistis duluan sebelum mengetahui informasi sebenarnya.

Ada yang beranggapan hujan meteor kali ini bisa membahayakan Bumi. Ada juga yang mengaitkannya dengan mitos.

“Guys ini benaran gak sih, di tt (tiktok) pada ceritain tanggal 14 katanya bakalan turun hujan meteor dari langit huhhf moga-mogahan gak terjadi yahh,” tulis @Racheln38721837

“Serem bngt besok hujan meteor? kek kaget ya allah, untung solat isya,” ungkap @daffarayhand.

X post embed

Desas-desus adanya hujan meteor pada 14 Desember 2021 memang benar adanya. Dijelaskan oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), pada 14-15 Desember 2021, akan menjadi momen puncak dari hujan meteor Geminid.

Geminid adalah hujan meteor utama yang titik radiannya (titik asal kemunculan meteor) berada di dekat bintang Alfa Geminorum (Castor) konstelasi Gemini. Hujan meteor ini bersumber dari sisa debu asteroid 3200 Phaethon (1983 TB) yang mengorbit Matahari dengan periode 523,6 hari.

Adapun hujan meteor Geminid dapat disaksikan dari pukul 20.30 WIB hingga keesokan harinya saat akhir fajar bahari (25 menit sebelum terbenam Matahari) dari arah Timur Laut hingga Barat Laut.

Di Indonesia, intensitas meteor Geminid berkisar 86 meteor/jam di Sabang hingga 107 meteor/jam di Pulau Rote. Hal ini dikarenakan titik radian berkulminasi pada ketinggian 46-63 derajat arah utara, sedangkan intensitas meteor saat di zenit sebesar 120 meteor/jam.

instagram embed

Lantas, apakah hujan meteor ini membahayakan?

Ditegaskan oleh Peneliti Pusat Riset Antariksa LAPAN Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Andi Pangerang, bahwa hujan meteor Geminid kali ini sama sekali tidak akan membahayakan. Ini tak lain karena hujan meteor secara umum bersumber dari sisa debu, baik itu komet maupun asteroid yang berpotongan dengan orbit bumi mengelilingi matahari.

“Ukuran dari sisa debu komet maupun asteroid ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan asteroid terkecil,” kata Andi saat dihubungi kumparanSAINS, Selasa (14/12).

Lebih lanjut Andi menjelaskan, Asteroid sendiri adalah batu yang ada di langit atau di luar angkasa yang ukurannya lebih dari 12 meter. Sementara untuk sisa debu komet maupun asteroid yang menjadi sumber meteor, itu berukuran lebih kecil dari 12 meter.

Benda langit ini kemudian disebut meteoroid. Meteoroid yang tertarik dengan gravitasidan jatuh menuju atmosfer bumi akan habis terbakar, dan tidak menyisakan residu atau sisa batuan apapun di permukaan Bumi, sehingga masyarakat tidak perlu menanggapinya dengan panik.

“Asteroid akan menjadi meteorid atau batu meteor di permukaan bumi dengan ukuran sekitar 10 centimeter jika ukurannya lebih besar dari 120 meter, sehingga meskipun hujan meteor Geminid ini berintensitas tinggi, tetapi meteor yang masuk atmosfer akan habis terbakar oleh atmosfer Bumi,” papar Andi.

Alih-alih menyeramkan dan membahayakan, hujan meteor Geminid justru akan menjadi pertunjukkan yang menakjubkan dan spektakuler. Dengan begitu, masyarakat diminta untuk tidak panik dan tidak perlu khawatir karena hujan meteor ini sama sekali tidak berdampak bagi kehidupan manusia.

Kami pastikan hujan meteor Geminid itu aman. Jadi kami imbau juga, agar masyarakat tidak mudah terhasut oleh berta-berita yang sifatnya menyesatkan ataupun hoaks, khususnya terkait hujan meteor geminid ini,”

- Andi Pangerang, Peneliti Pusat Riset Antariksa LAPAN Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) -

Untuk menyaksikan hujan meteor Geminid, pastikan cuaca di tempatmu cerah dan bebas dari penghalang maupun polusi cahaya di sekitar medan pandang. Hal ini dikarenakan intensitas hujan meteor Geminid berbanding lurus dengan 100% minus persentase tutupan awan dan berbanding terbalik dengan skala Bortle--skala yang menunjukkan tingkat polusi cahaya, semakin besar skalanya maka semakin besar polusi cahaya yang timbul.

Intensitas hujan meteor Geminid juga akan sedikit berkurang karena Bulan berada di dekat Zenit saat titik radian sedang terbit.