Kumparan Logo

Riset: Kecanduan Belanja Online Termasuk Masalah Kesehatan Mental

kumparanSAINSverified-green

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi kecanduan belanja online.  Foto: Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kecanduan belanja online. Foto: Foto: Shutter Stock

Para ahli percaya, kecanduan belanja online yang sedang menjangkiti kebanyakan orang saat ini merupakan salah satu masalah kesehatan mental yang harus dicarikan solusinya. Ini bukan klaim semata, sebab sebuah studi mengungkap ada 122 pasien yang mencari bantuan untuk mengatasi adiksi semacam ini.

Siapa sangka, kecanduan belanja online ternyata bisa berbuntut pada tingkat depresi dan kecemasan yang lebih tinggi. Ini berdasarkan riset yang dilakukan Astrid Müller, seorang psikoterapis dari Hannover Medical School di Jerman.

Ilustrasi kecanduan belanja online bikin depresi. Foto: Shutterstock

Müller bersama timnya menjelaskan, bahwa bentuk kecanduan yang disebut buying shopping disorder (BSD) ini merupakan hasrat ekstrem untuk membeli barang dan merasakan kepuasan ketika menghabiskan uang.

BSD diperparah dengan menjamurnya aplikasi ritel online dan pengiriman barang. Kemudahan akses internet selama 24 jam juga turut melahirkan semboyan belanja serba praktis. Kapan saja konsumen mau, mereka bisa belanja tanpa harus beranjak dari rumah.

Riset Müller dan rekannya yang dipublikasikan di jurnal Comprehensive Psychiatry ini juga menjabarkan trik menawarkan barang yang lebih murah melalui ritel online. Cara seperti ini terbukti berhasil memikat lebih banyak konsumen untuk belanja online dengan budget terbatas.

Ilustrasi belanja online Foto: Shutterstock

Soal BSD, Müller menegaskan bahwa persoalan ini tidak boleh lagi diabaikan, melainkan harus diberi perhatian lebih.

"Inilah benar-benar waktu yang tepat untuk mengenali BSD sebagai kondisi kesehatan mental yang terpisah sekaligus untuk mengumpulkan informasi lebih lanjut terkait bentuk masalah kesehatan mental ini di internet,” ujar Müller, sebagaimana diberitakan VT.

“Kami berharap, hasil riset kami yang menunjukkan prevalensi kecanduan belanja online di antara pasien BSD yang mencari pengobatan akan membuka jalan bagi penelitian selanjutnya di masa depan terkait karakteristik fenomenologis yang berbeda, latar belakang yang mendasari, komordibitas serta konsep perawatan khusus untuk mengatasi masalah tersebut,” pungkasnya.

Ilustrasi belanja Online Foto: Shutterstock