Kumparan Logo

Riset Ungkap Bagaimana Gigitan Kutu Bisa Sebabkan Alergi Daging Merah

kumparanSAINSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kutu bintang tunggal yang bisa serang sistem kekebalan tubuh manusia. Foto: Elizabeth Nicodemush via flickr
zoom-in-whitePerbesar
Kutu bintang tunggal yang bisa serang sistem kekebalan tubuh manusia. Foto: Elizabeth Nicodemush via flickr

Bagaimana bisa satu gigitan dari kutu bintang tunggal pada manusia sanggup memicu alergi seumur hidup terhadap daging merah? Efek samping yang aneh ini telah sejak lama menjadi misteri serta memicu kesalahpahaman. Namun, sebuah penelitian terbaru membuka celah jawaban yang lebih rasional tentangnya.

Penelitian tersebut memberikan penjelasan cukup detail tentang mekanisme yang mendasar yang memungkinkan seekor kutu untuk mengubah para pecinta daging merah, seperti daging sapi dan domba, menjadi vegetarian.

Secara umum, kutu bintang tunggal (lone star tick) atau biasa disebut kutu kalkun, dapat ditemukan di sebagian besar wilayah Amerika Serikat bagian timur dan Meksiko. Kutu agresif ini perlu memakan darah manusia, rusa berekor putih, mamalia kecil, dan kalkun liar, untuk menyelesaikan setiap tahap dalam siklus hidupnya. Gigitannya tidak menimbulkan rasa sakit sehingga sering tidak diperhatikan.

Namun, kadang-kadang gigitan kutu bintang tunggal bisa meninggalkan infeksi bakteri ke inangnya. Infeksi ini dikenal dengan sebutan ehrlichiosis.

Ilustrasi makan daging merah. Foto: Shutterstock

Pada beberapa orang yang tidak beruntung, infeksi ini juga dapat memicu alergi terhadap alpha-gal atau karbohidrat yang terdapat pada sebagian besar membran sel mamalia. Akibatnya, sistem kekebalan tubuh akan selalu bereaksi terhadap zat ini.

Jika sudah alergi terhadap alpha-gal, maka si penderita infeksi tidak dapat lagi makan daging daging sapi, babi, domba, kambing, dan kuda, walaupun mereka masih dapat makan daging ayam dan ikan tanpa masalah. Intinya, mereka sudah tidak bisa lagi makan daging merah, meski masih bisa makan daging putih.

"Tidak ada cara untuk mencegah atau menyembuhkan alergi makanan ini, jadi kita harus terlebih dahulu memahami mekanisme dasar yang memicu alergi sehingga kita dapat menyusun terapi baru," ungkap Loren D. Erickson, penulis laporan penelitian ini, seperti dikutip dari IFL Science.

Dalam riset ini, Erickson dan rekan-rekannya dari Fakultas kedokteran University of Virginia merekayasa tikus sebagai hewan model percobaan terhadap alergi daging. Akan tetapi, karena tikus secara alami menghasilkan alpha-gal dalam tubuhnya, maka para peneliti pertama-tama harus memodifikasi genetik sekelompok tikus untuk membuatnya kekurangan alpha-gal.

Kemudian, setelah tikus tersebut terjangkit infeksi dari gigitan kutu bintang tunggal, para peneliti menemukan bahwa respons imun terhadap alpha-gal ternyata berkaitan dengan sejumlah besar sel B, yakni limfosit yang memainkan peran penting pada sistem kekebalan tubuh.

"Kita benar-benar dapat menggunakan model ini untuk mengidentifikasi penyebab alergi daging yang akan mendasari penelitian terhadap manusia," simpul Erickson.