Kumparan Logo

Riset Ungkap Kemampuan Superior Manusia Berjari Tangan 6

kumparanSAINSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Jari-jari responden riset. Foto: Imperial College London.
zoom-in-whitePerbesar
Jari-jari responden riset. Foto: Imperial College London.

Sebenarnya tidak aneh bagi bayi manusia untuk lahir dengan jari tangan atau jari kaki ekstra. Kondisi adalah dikenal dengan nama polidaktili. Sekitar satu di antara 500 bayi terlahir dengan kondisi ini.

Kehadiran jari tangan atau jari kaki ekstra ini sering dianggap tidak berguna. Biasanya, jari ekstra ini diamputasi, tak lama setelah bayi lahir. Tapi, menurut hasil riset terbaru, memiliki jari tangan lebih banyak ternyata ada manfaatnya.

Laporan hasil riset ini telah dipublikasikan di jurnal Nature Communications pada 3 Juni 2019. Menurut laporan riset, orang-orang yang memiliki enam jari di masing-masing tangannya punya banyak kelebihan. Di antaranya, mereka bisa mengetik di ponsel, bermain video game yang rumit, dan bahkan mengikat tali sepatu dengan satu tangan saja. Omong-omong, bisakah kamu yang hanya punya lima jari tangan mengikat tali sepatu hanya dengan satu tangan?

"Jari tangan dan jari kaki ekstra sering dianggap sebagai cacat lahir. Ini membuat tidak ada orang yang memikirkan untuk mempelajari seberapa bermanfaatnya kelebihan jari tangan dan jari kaki ini," ujar Etienne Burdet, salah satu peneliti dalam riset, dilansir Science Alert.

Dalam beberapa kasus, anggapan bahwa jari tangan ekstra adalah sebuah kecacatan bisa dibilang benar. Sebab, jari tangan sering kali tidak berkembang sempurna. Meski begitu, prosedur untuk mengamputasinya tidaklah mudah.

Normalnya, manusia memiliki lima jari tangan Foto: SookyungAn/Pixabay

Setiap jari tangan ekstra memiliki struktur tulang, tendon, dan otot sendiri. Semua itu telah terhubung dengan semua struktur di tangan. Ini membuat dokter harus merestrukturisasi tangan ketika mengangkat jari ekstra tersebut.

Sementara itu, riset terbaru ini mempelajari skenario lain. Dalam riset, para peneliti mempelajari kasus seorang perempuan berusia 52 tahun dan anaknya yang berusia 17 tahun yang memiliki jari tangan ekstra yang berkembang sempurna. Keduanya terlahir dengan jari tangan ekstra antara ibu jari dan jari telunjuk di kedua tangannya.

X post embed

Hal ini memberi kesempatan bagi para peneliti untuk mencari jawaban atas beberapa pertanyaan penting. "Pertama, apakah pergerakan dari jari tambahan dibuat oleh otot jari lain atau apakah jari tambahan itu memiliki otot dan saraf sendiri?" tulis para peneliti dalam risetnya.

"Kedua, seberapa bebas bergeraknya jari ekstra dari jari lainnya? Apakah pergerakannya diikuti oleh gerakan jari lain atau apakah jari itu bisa bergerak dengan bebas?" lanjut mereka.

Para peneliti juga ingin menyelidiki apakah jari tambahan yang berfungsi membuat otak bekerja lebih keras. Untuk menyelidikinya, tim peneliti menyiapkan tes untuk mempelajari ketangkasan jari ekstra tersebut.

Beberapa alat yang disiapkan oleh para peneliti untuk sejumlah tes adalah keyboard komputer standar, tali sepatu, dan buku. Para responden riset kemudian dites, antara lain diminta bermain game dengan menggunakan keyboard tersebut dan mengikat tali sepatu.

video youtube embed

Kemampuan ibu dan anak itu lalu dibandingkan dengan 13 orang berjari lima yang diberi tes yang sama.

Dari tes itu, para peneliti menemukan bahwa kedua responden dengan kondisi polidaktili jauh lebih tangkas dibanding mereka yang berjari lima. Kedua responden polidaktili bisa menggerakkan jari ekstranya secara bebas, tak terpengaruh oleh jari lain, misalnya jempol.

Jari ekstra pada kedua orang itu memiliki tiga buku jari. Para peneliti juga melaporkan bahwa tiap jari ekstra memiliki otot, tendon, dan saraf tersendiri.

Hasil pemeriksaan fMRI menunjukkan bahwa otak bekerja lebih keras untuk menggerakkan jari ekstra. Tapi, menurut para peneliti, hal itu tidak menyebabkan kerugian kognitif secara keseluruhan.

"Otak individu dengan polidaktili telah beradaptasi dengan baik untuk mengontrol kerja ekstra. Bahkan memiliki area khusus bagi jari ekstra ini," kata Burdet. "Sangat luar biasa untuk mengetahui bahwa otak memiliki kapasitas untuk melakukan ini tanpa meminjam sumber daya dari tempat lain," sambungnya.

Meski begitu, riset ini masih memiliki banyak batasan. Jumlah responden polidaktili yang dipelajari dalam riset hanya dua orang, ibu dan anak. Selain itu, tidak semua bayi terlahir dengan jari ekstra yang terletak di antara ibu jari dan telunjuk, seperti kedua responden riset.

Jadi, kita belum mengetahui apakah posisi jari juga memiliki peran dalam meningkatkan ketangkasan. Kita juga belum mengetahui apakah ketangkasan itu hanya ada pada jari ekstra yang berkembang sempurna.

"Kemampuan superior yang para responden polidaktil riset kami tunjukan memberi sebuah pendapat baru atas pentingnya melakukan pemeriksaan mendalam atas fungsi jari ekstra pada bayi baru lahir sebelum memutuskan untuk mengamputasinya," simpul para peneliti.

embed from external kumparan