Rumah yang Disebut Paling Berhantu di Inggris Dijual Rp 4,3 Miliar

Sebuah bangunan kecil di St. Osyth, Essex, Inggris, yang dulunya adalah sebuah penjara bagi orang-orang yang dituduh sebagai penyihir pada abad pertengahan, kini telah berubah menjadi sebuah rumah yang sangat nyaman serta membutuhkan seseorang yang berniat untuk membeli dan tinggal di sana.
Tapi, calon pembeli harus siap dengan sejarah kelam yang pada bangunan yang dikenal sebagai “The Cage” (“Kerangkeng”) ini. Sebab, banyak orang mengklaim bahwa rumah ini kini dihuni oleh banyak hantu. Beberapa orang bahkan menyebutnya sebagai rumah paling berhantu di Inggris.
“Dengan reputasi yang menarik perhatian kru-kru TV di seluruh dunia, rumah unik dengan 2 kamar tidur ini terdapat banyak hantu di dalamnya,” kata perwakilan Home Domus 360, sebuah agen real estate Inggris, di akun Facebook miliknya, seperti diberitakan Live Science.
Menurut berita lokal The Clacton and Frinton Gazette, bangunan ini dimiliki oleh Vanessa Mitchell, dan untuk ketiga kalinya Mitchell mencoba menjual The Cage sejak pindah pada 2008. “Aku meninggalkan rumah itu pada tahun 2004 dan pindah ke tempat lain setelah melihat percikan darah misterius dan diserang secara fisik oleh hantu jahat, salah satunya adalah kambing yang tampak seperti setan,” ujar Vanessa Mitchell, pemilik rumah kepada The Gazette.
Berdasarkan laporan East Anglian Times, selama persidangan penyihir di St, Osyth pada tahun 1584, ada 14 wanita yang dituduh melakukan kejahatan terkait sihir. Di mana tiga di antaranya dieksekusi mati.
Selama persidangan berlangsung, para wanita itu ditempatkan di The Cage. Salah satu tersangka bernama Ursula Kemp yang merupakan tabib setempat dijatuhi hukuman mati dengan cara digantung. Kemp dituduh membuat mantra yang menyebabkan bayi tetangganya meninggal saat baru dilahirkan. Usai kematiannya, dia kemudian diperingati dalam sebuah plakat yang tergantung di salah satu sudut dinding bekas penjara.
Essex dilaporkan merupakan tempat persidangan sihir selama abad ke-16 dan 17. Tercatat, dari 112 penyihir yang dihukum mati di Inggris pada tahun 1640-an, 82 di antaranya dieksekusi di Essex.
Pada tahun 1921, dua kerangka wanita yang dianggap sebagai sisa-sisa penyihir yang dieksekusi mati ditemukan di taman St. Osyth selama proyek konstruksi berlangsung. Beberapa tulang tampak ditusuk oleh paku. Ini merupakan ritual yang umum dilakukan terhadap orang-orang yang diduga sebagai penyihir agar mereka tidak menghantui orang-orang yang masih hidup.
Adapun harga yang ditawarkan untuk bangunan bekas penjara yang diduga berhantu itu adalah 240.000 pound atau sekitar Rp 4,3 miliar.
Soal keberadaan hantu, sampai saat ini para ilmuwan masih merasa kesulitan karena tidak adanya definisi yang pasti mengenai hantu. Ada yang mendefinisikan hantu sebagai jiwa-jiwa yang tidak tenang dan tersesat ketika menuju ke alam baka. Ada juga yang mengatakan bahwa hantu muncul dari pikiran kita ke dunia melalui telepati.
Selain itu, rupa hantu atau makhluk gaib pun digambarkan sangat beragam. Ada poltergeist (hantu yang mengacak-acak rumah), arwah, ataupun bayangan manusia dan macam-macam lagi bentuknya, tergantung pada kepercayaan masing-masing orang.
Fisikawan Albert Einstein dipercaya pernah memberikan penjelasan ilmiah mengenai hantu dengan menggunakan hukum termodinamika pertama: Jika energi tidak bisa diciptakan dan tidak bisa dimusnahkan, tapi hanya berubah wujud, apa yang terjadi pada energi di tubuh kita ketika kita mati? Mungkinkah energi tubuh kita berubah menjadi hantu?
Jawaban yang paling masuk akal adalah ketika kita mati, energi kita akan menyatu dengan alam. Energi yang kita lepaskan di dalam kuburan antara lain akan masuk ke hewan lain yang ada di dalam tanah, misalnya cacing-cacing yang memakan tubuh kita.
Yang jelas, sampai saat ini tidak ada satu pun ilmuwan yang pernah berhasil “menangkap” energi hantu untuk kemudian mengamati keberadaannya melalui eksperimen yang terkontrol. Dalam sains, suatu hal baru bisa dianggap benar apabila dapat dibuktikan secara empirik.
Jadi, sampai saat ini hantu belum bisa dianggap suatu hal yang benar-benar ada.
