Kumparan Logo

Salah Satu Menu Makanan Inggris Terancam Hilang akibat Perubahan Iklim

kumparanSAINSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Fish and Chips Kopibar Foto: dok. Iqbal Firdaus/ kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Fish and Chips Kopibar Foto: dok. Iqbal Firdaus/ kumparan

Hasil sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa salah satu menu makanan tradisional di Inggris terancam hilang akibat dampak perubahan iklim. Menu makanan yang dimaksud adalah fish and chips, yang terbuat dari ikan laut dan keripik.

Laporan hasil penelitian yang telah dipublikasikan di jurnal Philosophical Transactions of the Royal Society B ini menyoroti ancaman menurunnya jumlah populasi ikan-ikan yang berukuran lebih besar di lautan. Termasuk di antaranya adalah ikan kod dan haddock yang biasa dijadikan bahan makanan fish and chips.

Para ilmuwan dalam riset mengatakan jumlah populasi spesies-spesies laut yang berukuran lebih besar seperti ikan kod dan haddock terancam mengalami penyusutan lebih besar akibat kenaikan suhu yang menyebabkan berkurangnya oksigen di lautan. Temuan ini berdasarkan hasil analisis pada hewan-hewan krustasea di Antartika, yang mengungkap bahwa makhluk laut dengan ukuran besar ternyata lebih rentan terhadap dampak perubahan iklim.

Ilustrasi ikan kod. Foto: August Linnman via Wikimedia Commons (CC BY-SA 2.0)

John Spicer, ahli zoologi kelautan di University of Plymouth di Inggris yang telah meneliti efek perubahan iklim pada organisme laut selama lebih dari 30 tahun, menjadi salah peneliti dalam riset ini. Menurutnya, selama 50 tahun terakhir ini oksigen di laut telah berkurang sebanyak dua hingga lima persen, dan menimbulkan efek pada kemampuan spesies dalam bertahan hidup.

"Banyak invertebrata laut dalam ukuran yang lebih besar akan menyusut hingga menghadapi kepunahan, yang tentunya akan berdampak negatif pada ekosistem. Hal ini tentu sangat mengkhawatirkan," kata Spicer, sebagaimana dilansir The Independent.

Penelitian oleh Spicer dan para koleganya ini dilakukan dengan mengamati empat jenis hewan krustasea yang banyak ditemukan di pantai semenanjung Antartika barat. Hasilnya menunjukkan bahwa hewan laut yang berukuran lebih besar lebih rentan menderita gangguan pernapasan ketika oksigen di dalam laut berkurang dibandingkan dengan hewan laut yang berukuran lebih kecil.

Ilustrasi ikan kod. Foto: Hans-Petter Fjeld via Wikimedia Commons (CC BY-SA 2.5)

Menurut Simon Morley, ahli ekofisiologi yang juga menjadi peneliti dalam riset, kondisi hewan-hewan laut di daerah kutub ini bisa mencerminkankan kondisi satwa-satwa laut di lautan dunia. Dalam hasil penelitian lain sebelumnya tercatat, kenaikan suhu air laut akibat perubahan iklim telah menyebabkan stok ikan global berkurang sebanyak hampir 5 persen dalam selang waktu 80 tahun, dan bahkan hingga 35 persen untuk di wilayah-wilayah utama penangkapan ikan seperti di Laut Utara.

"Memahami dampak ini tidak hanya akan membantu kita untuk memprediksi nasib keanekaragaman hayati laut di kutub, tetapi juga akan mengajarkan kita banyak tentang mekanisme yang akan menentukan kelangsungan hidup spesies di lautan dunia," kata Morley.