Kumparan Logo

Sederet Fenomena Astronomi Akan Hiasi Langit Awal Oktober: Ada Hujan Meteor

kumparanSAINSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sebuah meteor melesat melewati bintang-bintang di langit, di atas batu nisan abad pertengahan saat hujan meteor Perseid di Radimlja dekat Stolac, Bosnia dan Herzegovina, Rabu (12/8). Foto: REUTERS / Dado Ruvic
zoom-in-whitePerbesar
Sebuah meteor melesat melewati bintang-bintang di langit, di atas batu nisan abad pertengahan saat hujan meteor Perseid di Radimlja dekat Stolac, Bosnia dan Herzegovina, Rabu (12/8). Foto: REUTERS / Dado Ruvic

Memasuki bulan Oktober 2020, sejumlah fenomena astronomi bakal menyambangi Bumi. Beberapa di antaranya bisa disaksikan dengan mata telanjang. Ada pula yang harus menggunakan alat bantu seperti teleskop atau bantuan optik lainnya.

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) baru-baru ini mengumumkan jadwal fenomena astronomi yang bakal terjadi di minggu pertama bulan Oktober 2020. Berikut daftarnya.

1-6 Oktober, Konjungsi Venus-Regulus

Selama satu pekan ke depan, mulai dari 30 September hingga 6 Oktober, Venus mengalami konjungsi dengan Regulus. Fenomena ini dapat disaksikan dari arah Timur-Timur laut mulai pukul 04.00 WIB hingga 05.15 WIB selama kondisi langit cerah, bebas dari cahaya polusi, dan penghalang di sekitar medan pandang.

Puncak konjungsi Venus-Regulus terjadi pada 3 Oktober 2020 pukul 06.04 WIB dengan sudut pisah hanya 5 menit busur.

2 Oktober Bulan Purnama Mikro

Puncak purnama kali ini akan terjadi pada pukul 04.05.10 WIB dengan jarak geosentris 405.146 km dan diameter sudut 29,5 menit busur. Purnama ini dinamakan purnama mikro karena jaraknya cukup berdekatan dengan titik apogee yang terjadi pada 4 Oktober.

Ilustrasi bulan purnama. Foto: pixabay

Pengamat di wilayah Indonesia bagian timur tidak dapat menyaksikan puncak purnama karena Bulan sudah terbenam lebih dulu dan Matahari terbit. Bulan purnama dapat diamati pada arah Timur hingga Barat dan terletak pada konstelasi Cetus.

3 Oktober Konjungsi Bulan-Mars

Puncak konjungsi Bulan-Mars kali ini terjadi pada 3 Oktober 2020 pukul 11.20 WIB dengan sudut pisah 0,53 derajat. Fenomena ini dapat disaksikan sejak tengah malam di dekat zenit arah Utara-Timur Laut hingga pukul 05.15 di arah Barat dengan nilai elongasi yang bervariasi antara 5,45 hingga 3,63 derajat.

Selain itu, fenomena ini juga dapat disaksikan ketika Bulan terbit di arah Timur pada pukul 19.00 WIB hingga tengah malam di dekat zenith arah Timur Laut dengan nilai elongasi yang bervariasi 4,99 hingga 6,89 derajat.

4 Oktober Bulan menjauh dari Bumi

Pada 4 Oktober bakal terjadi Apogee Bulan, artinya Bulan diprediksi akan berada pada titik terjauh Bumi pada pukul 00.09 WIB dengan jarak geosentris 406.306 km, iluminasi 96,87 persen dan lebar sudut 28,5 menit busur. Bulan terletak di konstelasi Pisces ketika Apogee. Ini bisa disaksikan mulai pukul 20.00 WIB di arah Timur-Timur Laut dan terbenam keesokan harinya pada pukul 07.30 WIB.

instagram embed

6 Oktober Fase Dikotomi Merkurius

Dikotomi atau fase perbani adalah konfigurasi Bumi, planet, dan Matahari yang membentuk sudut siku-siku 90 derajat. Hal ini membuat bagian planet, yakni Merkurius, yang teramati dari Bumi akan tampak bercahaya 50 persen dari luas seluruh piringan.

Berbeda dengan Venus yang fase dikotominya selalu bertepatan dengan elongasi maksimum. Merkurius mengalami fase dikotomi antara 1-6 hari sebelum atau sesudah elongasi maksimum. Hal ini dikarenakan bentuk orbit Merkurius yang lebih lonjong ketimbang Venus.

Fase dikotomi Merkurius terakhir terjadi pada 29 Mei dan 26 Juli 2020, dan akan terjadi lagi pada 8 November 2020 serta 25 Januari 2021.

8 Oktober Puncak Hujan Meteor Draconids

Hujan meteor Draconids akan mulai terjadi pada 6 hingga 10 Oktober 2020. Puncaknya, diperkirakan terjadi pada 8 Oktober 2020. Hujan meteor Draconid berasal dari sisa debu komet 21P/Giacobini-Zinner yang mengorbit Matahari setiap 6,6 tahun sekali.

Hujan meteor Draconids dapat disaksikan mulai pukul 18.15 WIB hingga 21.30 WIB dengan intensitas antara 4 (untuk daerah Kupang) hingga 6 meteor (Banda Aceh) per jam jika cuaca cerah dan bebas polusi cahaya. Bagi pengamat di area perkotaan, mereka hanya akan menyaksikan 1-2 meteor per jam. Hujan meteor Draconis akan tampak sangat jelas jika disaksikan di belahan Bumi Utara.