kumparan
28 Oktober 2019 12:30

Seorang Peneliti Tak Sengaja Suntik Jarinya dengan Virus Mirip Cacar

Ilustrasi ilmuwan di laboratorium (POTRAIT).
Ilustrasi ilmuwan di laboratorium. Foto: Pixabay.
Seorang peneliti di sebuah laboratorium di San Diego, California, Amerika Serikat, jadi terinfeksi dengan virus mirip cacar bernama virus vaccinia. Ini terjadi setelah ia tak sengaja menyuntikkan jarum dengan virus itu ke salah satu jarinya.
ADVERTISEMENT
Infeksi ini membuat ujung jari ilmuwan perempuan yang namanya dirahasiakan itu jadi membengkak dan menghitam. Kejadian ini telah dilaporkan para dokter di jurnal Morbidity and Mortality Weekly Report yang terbit pada 25 Oktober 2019.
Kasus yang menimpa peneliti berusia 26 tahun ini terbilang unik. Sebab, ini menjadi kali pertama dokter menggunakan tecovirimat, obat cacar yang baru disetujui penggunaannya, untuk menangani infeksi akibat kecelakaan di laboratorium.
Virus vaccinia memang bukan virus cacar. Tapi, ia memiliki karakteristik yang sangat mirip dengan virus tersebut. Virus vaccinia lebih tidak berbahaya dan tidak menyebabkan cacar. Virus ini digunakan untuk menciptakan vaksin cacar.
Vaksin cacar memang tidak banyak digunakan sekarang ini. Dokter hanya memberikannya kepada mereka yang punya risiko terinfeksi cacar, misalnya, peneliti yang bekerja dengan virus vaccinia.
ADVERTISEMENT
Dalam kasus ini, ilmuwan itu tak sengaja menyuntik dirinya dengan virus vaccinia saat melakukan eksperimen dengan tikus. Setelah kejadian ia langsung mencuci tangannya selama 15 menit, melaporkan kejadian itu pada atasannya, dan pergi ke rumah sakit.
Periset itu sempat ditawarkan vaksin cacar sebelum memulai kerjanya dengan virus vaccinia. Tapi, ia menolak tawaran itu.
Live Science melaporkan, bahwa vaksin cacar ini memiliki sejumlah efek samping, karena vaksin ini tidak menggunakan virus yang telah dilemahkan atau dimatikan. Vakin cacar menggunakan virus vaccinia hidup.
Ilustrasi vaksin
Ilustrasi vaksin untuk imunisasi Foto: Shutterstock
Beberapa hari setelah disuntik vaksin, orang akan mengalami bentol luka kemerahan yang terasa gatal di tempat suntikan vaksin. Setelahnya, luka akan menggembung berisi nanah.
Proses penyembuhan bisa berlangsung selama tiga minggu. Tempat suntikan itu harus selalu ditutup dengan perban. Perbannya juga harus diganti setiap tiga hari sekali.
ADVERTISEMENT
Meski efek sampingnya lumayan mengganggu, vaksin ini memiliki risiko rendah menyebabkan komplikasi. Ini berbeda dengan kejadian tak sengaja tersuntik ini yang bisa menyebabkan infeksi serius dan membutuhkan perawatan di rumah sakit.
10 hari setelah kecelakaan itu, si peneliti mengalami pembengkakan dan luka di jari yang tersuntik itu. Kondisinya diikuti dengan demam. Pembengkakan yang dialami sang ilmuwan makin parah hingga membuat dokter khawatir ia mengalami sindrom kompartemen, sebuah kondisi serius di mana ada tekanan berlebih di dalam otot.
Dua hari kemudian, para dokter memutuskan untuk memberinya tecovirimat dan satu dosis vaccinia immune globulin. Peneliti ini juga diberi antibiotik untuk mencegah infeksi bakteri di lukanya.
Untitled Image
Kondisi jari si peneliti. Foto: Whitehouse ER, Rao AK, Yu YC, et al. Novel Treatment of a Vaccinia Virus Infection from an Occupational Needlestick — San Diego, California, 2019.
48 jam setelah pemberian obat-obat tersebut, demam si peneliti menghilang. Hal ini diikuti dengan penurunan rasa sakit serta pembengkakan di jarinya.
ADVERTISEMENT
Meski begitu, bagian jari yang mengalami mati jaringan memerlukan waktu hingga tiga bulan sebelum sembuh sepenuhnya. Situasi ini membuat si peneliti tidak bisa bekerja di laboratorium.
Laporan para dokter mengungkap bahwa pada kasus ini penggunaan tecovirimat bisa mengobati infeksi virus vaccinia. Tapi karena ini hanya satu kasus saja, belum diketahui pasti apakah obat ini ampuh atau tidak mengobati infeksi lain dari virus yang sama.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan