Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Seperti julukannya, Acanthaspis Petax membunuh serangga lain untuk makan. Umumnya, mereka memangsa semut dan juga berbagai serangga kecil seperti lalat, belalang kecil, dan kumbang.
Ketika memangsa serangga lain, ia menggunakan belalai yang panjang untuk menembus tubuh sang korban, sebelum nantinya menyuntikkan air liur dan enzim yang dapat melumpuhkan dan melarutkan jaringan. Serangga pembunuh kemudian menghisap isi mangsanya hingga yang tersisa hanyalah kerangka berlubang.
Meski teknik mangsanya menyeramkan, sebenarnya bukan hal itu yang membuat serangga pembunuh menarik perhatian ilmuwan. Seperti tak mau mubazir, ia kemudian mengubah sisa mayat korban menjadi semacam tas ransel di punggung.
Serangga pembunuh dapat berjalan-jalan dengan 20 mayat semut mati di punggungnya. Aksesori mayat tersebut ia bundel menjadi gumpalan-gumpalan , disatukan dengan air liur-nya, dan terkadang lebih besar dari tubuh serangga pembunuh itu sendiri.
ADVERTISEMENT
Maksud dan tujuan dari praktik mengerikan ini sempat menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan selama bertahun-tahun. Akhirnya, pada tahun 2007, sekelompok ilmuwan Selandia Baru berhasil menemukan alasan semut pembunuh mengangkut mayat-mayat korbannya di punggung.
Dalam studi tersebut, para peneliti meninggalkan serangga pembunuh di kandang kaca bersama dengan beberapa spesies laba-laba pelompat (Salticidae). Laba-laba pelompat sendiri merupakan predator alami bagi serangga pembunuh.
Serangga pembunuh kemudian dibagi dua kelompok oleh para peneliti. Sebagian diberikan bola bangkai semut di punggung mereka (yang mereka sebut ‘bertopeng’), sementara yang lain dibiarkan ‘telanjang’ tanpa membawa mayat.
Peneliti menjelaskan, laba-laba pelompat memiliki penglihatan yang sangat baik, namun indra penciumannya buruk. Laba-laba ini berburu dengan menggunakan indra penglihatannya yang tajam untuk melakukan lompatan yang terukur dan tepat di atas mangsanya. Dengan demikian, eksperimen tersebut akan menunjukkan apakah tubuh semut berfungsi sebagai kamuflase visual dari serangan predator atau tidak.
ADVERTISEMENT
Hasilnya, ternyata laba-laba pelompat menyerang serangga pembunuh tanpa ransel mayat kira-kira sepuluh kali lebih sering daripada serangga yang pakai ransel mayat. Para peneliti bahkan mengulangi percobaan mereka dengan serangga pembunuh yang mati dan diawetkan, untuk mengontrol efek gerakan dan perilaku. Hasilnya tetap sama.
Membawa ransel dari mayat korban ternyata adalah cara serangga pembunuh untuk bertahan hidup, menurut penafsiran ilmuwan. Mereka berspekulasi bahwa gundukan besar bangkai di punggung berhasil mengubah bentuk visual serangga pembunuh hingga laba-laba tidak dapat mengenalnya sebagai mangsa.
“Salticid membuat respons predator terhadap serangga telanjang secara signifikan lebih sering daripada serangga bertopeng. Temuan ini menunjukkan bahwa salticid dengan mudah mengidentifikasi bug telanjang sebagai mangsa, tetapi gagal mengidentifikasi bug bertopeng sebagai mangsa,” kata peneliti dalam laporan yang dipublikasikan Journal of Zoology itu.
ADVERTISEMENT