Kumparan Logo

Solusi Sehat dan Umur Panjang Menurut Riset: Olahraga Lari

kumparanSAINSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi lari. Foto: Curtis Mac Newton/Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi lari. Foto: Curtis Mac Newton/Unsplash

Belum lama ini, Journal of Sports Medicine menerbitkan sebuah penelitian yang bisa jadi kabar gembira bagi seluruh pencinta olahraga lari. Sebabnya, dalam temuan studi tersebut disebutkan bahwa lari mampu menurunkan risiko kematian dini secara signifikan.

Berlari yang dimaksud pun tidak harus dalam intensitas yang sering atau jarak yang cukup jauh. Jika olahraga ini dilakukan, terbuka peluang untuk meningkatkan kebugaran tubuh sekaligus berpotensi membuat si pelari memiliki umur panjang, demikian penjelasan peneliti.

Masih belum jelas seberapa berpengaruhnya lari untuk mencegah risiko kematian dari hal apa pun, terutama yang disebabkan penyakit kardiovaskular dan kanker. Belum diketahui pula seberapa sering olahraga lari yang harus dilakukan untuk mendapat manfaat kesehatan dari aktivitas ini. Hal ini terkait frekuensi, durasi, dan kecepatan idealnya.

Untuk itulah peneliti mencoba mencari jawabannya dengan meninjau kembali penelitian sebelumnya yang relevan. Mereka lantas mendapati hubungan antara berlari atau jogging dan risiko kematian dari semua penyebab, seperti penyakit kardiovaskular dan kanker.

Ilustrasi sakit jantung Foto: Shutterstock

Mereka menemukan 14 studi yang cocok, yang melibatkan 232.149 orang, yang kesehatannya telah dilacak antara 5,5 dan 35 tahun. Selama waktu ini, 25.951 peserta penelitian dinyatakan sudah meninggal.

Ketika data penelitian dikumpulkan, jumlah lari dikaitkan dengan risiko kematian yang 27 persen lebih rendah dari semua penyebab untuk laki-laki dan perempuan, dibandingkan dengan tidak berlari.

Hasil tersebut juga dikaitkan dengan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular 30 persen lebih rendah, dan risiko kematian akibat kanker lebih rendah 23 persen.

Ilustrasi berlari untuk menjaga kesehatan. Foto: pixabay

Meski dilakukan sesekali, misalnya hanya sekali dalam sepekan, olahraga lari yang dilakukan kurang dari 50 menit dengan kecepatan 8 kilometer/jam tetap mendatangkan sejumlah manfaat kesehatan dan umur panjang.

Jika disimpulkan, berlari selama kurang dari 25 menit dalam sepekan bisa mengurangi risiko kematian. Keuntungan ini mendorong kita yang beralasan sibuk dan tak punya waktu berolahraga untuk memilih opsi tersebut.

Peneliti menegaskan bahwa banyaknya frekuensi berlari tak terlalu berpengaruh signifikan terhadap penurunan risiko kematian. Namun begitu, mereka tetap menyarankan agar olahraga ini tetap dilakukan meski tidak sering, dibandingkan tidak lari sama sekali.

embed from external kumparan