Studi: Tempat Tinggal Bisa Pengaruhi Seberapa Cepat Kamu Menua
·waktu baca 4 menit

Tempat tinggal ternyata bisa berdampak besar terhadap seberapa cepat manusia menua. Tim ilmuwan internasional yang dipimpin Stanford University menemukan bahwa etnis dan lokasi geografis memengaruhi tubuh manusia, mulai dari metabolisme, sistem imun, mikrobiota usus, hingga proses penuaan biologis.
Hasil studi ini mengungkap hubungan kompleks antara faktor genetik dan lingkungan, sekaligus membuka peluang baru bagi dunia medis untuk memahami layanan kesehatan yang lebih tepat bagi berbagai populasi manusia.
Manusia memiliki keragaman fenotip, yakni variasi karakteristik yang dapat diamati secara langsung. Berkat kemajuan riset molekuler, ilmuwan kini mampu membuat kumpulan data yang sangat detail melalui pendekatan bernama “multiomics”.
Metode ini memungkinkan peneliti mengukur berbagai aspek biologis, mulai dari gen, protein, bakteri usus, hingga aktivitas metabolisme, guna melihat bagaimana manusia berbeda satu sama lain pada tingkat molekuler.
Namun, sebagian besar studi sebelumnya hanya berfokus pada kelompok dengan latar belakang serupa atau pasien dengan penyakit tertentu. Akibatnya, pemahaman tentang bagaimana faktor keturunan dan lingkungan geografis memengaruhi kesehatan manusia sehat masih terbatas.
Dalam studi terbaru yang terbit di jurnal Cell, para peneliti menggunakan metode multiomics untuk meneliti 322 orang sehat dari Eropa, Asia Timur, dan Asia Selatan. Penelitian tersebut menghasilkan gambaran paling rinci sejauh ini mengenai bagaimana keturunan genetik dan lingkungan membentuk biologi manusia.
Dengan membandingkan orang-orang yang memiliki nenek moyang genetik sama tetapi tinggal di benua berbeda, tim peneliti mampu memisahkan pengaruh DNA dan lingkungan dengan tingkat ketelitian yang belum pernah dicapai sebelumnya.
“Untuk pertama kalinya, kami memprofilkan manusia dari berbagai belahan dunia secara mendalam,” kata Michael Snyder, profesor genetika Stanford University. “Ini memungkinkan kami melihat faktor-faktor seperti metabolit dan mikroba mana yang berkaitan dengan etnis, dan mana yang dipengaruhi lokasi geografis.”
Hasil penelitian menemukan sejumlah ciri molekuler yang terkait dengan etnis tertentu. Misalnya, peserta asal Asia Selatan memiliki tingkat paparan patogen lebih tinggi. Sementara itu, peserta keturunan Eropa menunjukkan keragaman mikroba usus yang lebih kaya serta kadar metabolit yang berkaitan dengan penyakit kardiovaskular lebih tinggi.
Pola tersebut tetap terlihat meski para peserta tinggal di lokasi berbeda, sehingga menunjukkan adanya pengaruh genetik yang kuat dalam membentuk identitas molekuler manusia.
Di sisi lain, tempat tinggal juga meninggalkan jejak biologis yang signifikan. Perpindahan geografis—yakni ketika seseorang tinggal di luar benua asal leluhurnya—dikaitkan dengan perubahan penting pada jaringan metabolisme, lipid, serta mikrobioma usus.
Temuan paling mengejutkan berkaitan dengan penuaan biologis. Orang Asia Timur yang tinggal di luar Asia ditemukan memiliki usia biologis lebih tua dibanding mereka yang tetap tinggal di Asia. Sebaliknya, orang Eropa justru tampak lebih muda secara biologis ketika tinggal di luar Eropa.
Hasil ini menunjukkan bahwa lingkungan dan keturunan genetik dapat berinteraksi dengan cara yang tak terduga, yang bisa mempercepat atau memperlambat proses penuaan.
Tim peneliti juga menemukan hubungan baru yang belum pernah diketahui sebelumnya antara gen telomerase—gen yang berperan dalam penuaan sel—dengan mikroba usus tertentu melalui molekul lipid bernama sphingomyelin.
Koneksi tiga arah tersebut mengindikasikan adanya reaksi berantai molekuler yang memungkinkan bakteri usus memengaruhi seberapa cepat sel manusia menua.
Penelitian ini dinilai penting untuk pengembangan precision medicine atau pengobatan presisi, yakni pendekatan medis yang disesuaikan dengan latar belakang genetik dan lingkungan tiap individu. Temuan tersebut sekaligus memperkuat dorongan agar dunia medis meninggalkan model layanan kesehatan yang seragam untuk semua orang.
Seluruh dataset penelitian ini juga dibuka secara bebas bagi peneliti dan tenaga medis lain. Harapannya, data tersebut dapat membantu pengembangan diagnosis, pengobatan, dan strategi pencegahan penyakit yang lebih akurat dan personal.
“Apa yang ditunjukkan studi ini dengan sangat jelas adalah bahwa biologi manusia dibentuk oleh kombinasi keturunan genetik dan tempat tinggal kita,” kata profesor Richard Unwin dari University of Manchester.
“Kami terkejut melihat betapa konsistennya pengaruh etnis terhadap sistem imun, metabolisme, dan mikrobioma, bahkan ketika seseorang pindah ribuan kilometer jauhnya,” ujarnya.
“Namun, sama jelasnya bahwa tempat tinggal dapat memberikan dampak besar terhadap jalur molekuler penting—bahkan terhadap cara sel-sel kita menua—dengan arah yang berbeda tergantung siapa diri kita. Ini membuktikan bahwa precision medicine harus mencerminkan keragaman global yang nyata, bukan hanya satu populasi saja.”
