kumparan
29 Oktober 2019 13:02

Suhu Capai 48 Celsius, Qatar Pasang Pendingin Udara di Luar Ruangan

Ilustrasi suhu panas (potrait)
Ilustrasi temperatur tinggi. Foto: geralt via Pixabay.
Tak hanya di Jakarta, cuaca panas juga sedang melanda Qatar. Suhu udara di sana bahkan mencapai 48 derajat Celsius ketika siang hari. Sebentar saja orang berjalan kaki di tengah terik matahari, niscaya keringat mereka akan keluar bercucuran.
ADVERTISEMENT
Selain musim kemarau, cuaca panas di Qatar juga disebabkan oleh perubahan iklim, saat Bumi bagian Timur mengalami cuaca yang lebih panas dari tahun-tahun sebelumnya. Menyusul masalah ini, Qatar akhirnya memiliki solusi tersendiri yang mungkin bagi sebagian orang menilai solusi ini terdengar aneh.
Qatar mulai memasang sejumlah pendingin udara (AC) di banyak ruang terbuka, termasuk pasar, stadion olahraga, dan jalan umum. Dari sekian banyak AC yang dipasang di ruang terbuka, salah satu proyek paling ambisius Qatar adalah memasangnya di Stadion Al Janoub, gelanggang olahraga yang baru dibangun untuk gelaran sepak bola Piala Dunia FIFA pada 2022 mendatang.
“Jika kamu mematikan pendingin udara, itu akan sangat tidak tertahankan. Kamu tidak dapat beraktivitas secara efektif,” ujar Yousef al-Horr, pendiri Organisasi Penelitian dan Pengembangan Teluk, seperti dikutip The Washington Post.
ADVERTISEMENT
Dalam beberapa tahun terakhir, Qatar telah merasakan dampak nyata dari perubahan iklim. Suhu udara di negara tersebut menjadi lebih panas rata-rata 2 derajat Celsius, sementara kenaikan suhu secara global rata-rata 0,8 derajat Celsius.
Namun dalam masalah ini, AC bukanlah solusi karena kenyataannya dampak yang ditimbulkan akan jauh mengerikan. Sebagai contoh, AC akan bekerja sangat efektif di ruangan terbatas, dengan jendela dan pintu ditutup rapat-rapat. Jika AC ditempatkan di sebuah kebun, maka hal itu ibarat setetes air tawar di lautan. Dan yang paling penting, AC telah memainkan peran penting dalam kerusakan lingkungan.
Sedikit fakta yang mesti diketahui mengenai AC adalah benda ini justru menjadi faktor kenaikan suhu di Bumi. Ini tak lain karena AC membutuhkan energi yang relatif tinggi. Diperkirakan 20 persen total konsumsi listrik di gedung-gedung bertingkat di seluruh dunia dipakai untuk keperluan AC dan kipas angin.
Gedung-gedung tinggi di Doha, Qatar
Gedung-gedung tinggi di Doha, Qatar Foto: Reuters/Naseem Zeitoon
Sedangkan sebagian besar negara di dunia masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil untuk menghasilkan energi domestik. Ini berarti AC bertanggung jawab atas banyaknya emisi gas rumah kaca.
ADVERTISEMENT
Selain itu, salah satu pendingin udara yang cukup tinggi memiliki dampak negatif pada lingkungan adalah AC jenis hydrofluorocarbon (HFC). Polutan iklim yang dihasilkan dari pendingin HFC berkali-kali lipat lebih kuat ketimbang karbon dioksida.
Bagaimanapun, permintaan AC diprediksi akan terus meningkat seiring dengan meningkatnya suhu udara di Bumi. The International Energy Agency percaya bahwa permintaan AC secara global akan meningkat tiga kali lipat pada tahun 2050.
Sementara itu, pemerintah Qatar berpendapat bahwa Piala Dunia yang digelar pada 2022 nanti akan memompa lebih sedikit emisi karbon. Mereka beralasan karena tempat pertandingan yang relatif berdekatan. Namun, pada kenyataannya, saat ini Qatar telah menjadi salah satu penghasil karbon per kapita tertinggi di dunia.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan