Tak Seindah Negeri Dongeng, Orang Ini Ceritakan Ngerinya Terjebak di Dalam Awan
·waktu baca 4 menit

Jatuh ke awan ternyata enggak seenak yang dibayangkan. Sungguh tidak seindah yang digambarkan film fiksi, yang umumnya menceritakan orang bisa berbaring di gumpalan awan seperti kapas raksasa yang melayang.
Apalagi kalau kamu jatuh dan melewati awan cumulonimbus. Itu akan menjadi pengalaman paling buruk yang kamu rasakan.
Awan cumulonimbus adalah awan berbahaya. Awan ini ditandai dengan kolom-kolom yang menjulang tinggi dari lapisan awan yang bergelombang.
Formasi uap air yang mengancam ini adalah satu-satunya yang diketahui menghasilkan guntur, kilatm dan hujan es. Sementara banyak awan ketinggiannya tidak mencapai 2.000 meter, awan cumulonimbus berada di ketinggian hingga 20.000 meter.
Letnan Kolonel William Rankin adalah salah satu dari dua pilot yang pernah jatuh ke awan badai dan berhasil bertahan hidup untuk kemudian menceritakan kisahnya ke publik. Apa yang dialami Rankin adalah pengalaman luar biasa tapi menakutkan tentang apa yang terjadi jika kamu terjebak di dalam awan.
Rankin dan rekannya, Herbert Nolan, menerbangkan jet F-8 Crusader menuju South Carolina, AS, pada 26 Juli 1959. Saat di perjalanan, mereka dihadapkan dengan sejumlah awan badai yang menghadang. Rankin kemudian berinisiatif untuk menerbangkan pesawatnya lebih tinggi untuk menghindari gumpalan awan cumulonimbus, mendaki di atas ketinggian hingga 47.000 kaki (14.300 mdpl).
Ketika berada di atas badai, mesin pesawat tiba-tiba mengalami masalah dan mati. Awalnya Rankin berusaha untuk tetap di dalam pesawat karena suhu di luar mencapai -50 derajat Celcius dengan udara minim oksigen. Dia sadar tidak bisa berlama-lama di pesawat karena sama bahayanya.
Jam menunjukkan pukul 18.00, Rankin akhirnya menarik tuas pelontar di ketinggian 14.300 meter. Dia bersiap menghadapi yang terburuk.
Saat tubuhnya melesat dari kursi pilot, darah mulai mengalir dari mata. Telinga yang awalnya terlindungi kaca pesawat, dengan cepat terkena tekanan udara, sedangkan perutnya mulai membengkak. Tangan Rankin juga mulai mengalami radang akibat suhu dingin. Saat itu, dia berada di antara hidup dan mati.
Beberapa saat kemudian, Rankin mulai memasuki awan cumulonimbus dengan oksigen darurat dan parasut yang tidak dirancang untuk menghadapi badai petir. Saat itu dia belum berani menarik parasutnya. Rankin memilih untuk menahannya sampai ke ketinggian yang lebih aman, karena jika parasut dibuka di tengah awan cumulonimbus, itu hanya akan membuat nyawanya lebih cepat melayang.
Rankin kemudian mengerahkan barometer yang secara otomatis akan melepaskan parasut ketika di ketinggian sekitar 3.048 meter. Dia hanya berharap bisa keluar dan selamat dari awan badai sebelum mati lemas atau kedinginan.
Rankin bilang bahwa tubuhnya beberapa kali terlempar oleh angin kencang yang membentuk cuaca ekstrem selama di dalam awan. Menurut para ilmuwan, sangat sedikit yang diketahui tentang bagaimana cara kerja di dalam awan cumulonimbus. Udara panas yang naik sudah lebih dari cukup untuk melemparkan manusia, sedangkan hujan es dan kilat adalah ancaman lain yang bisa mengakhiri semuanya.
Ketika terombang-ambing dalam gumpalan awan, parasut yang menempel di tubuh Rankin tiba-tiba terbuka. Dia awalnya percaya bahwa tubuhnya sekarang berada di ketinggian 3.048 meter. Namun, ternyata tidak. Tekanan di dalam awan telah memicu barometernya bekerja dan sekarang Rankin menghadapi situasi yang lebih sulit karena parasutnya berkembang di dalam awan badai
Berulang kali arus udara yang bergerak ke atas mengangkat dan menjatuhkan Rankin, berulang kali pula Rankin berusaha menghindari pecahan es dan menahan napas saat udara menipis akibat air.
Setelah lama disiksa dalam awan cumulonimbus, badai akhirnya melepaskan tubuh Rankin. Dia terjun ke bawah menggunakan parasut. Rankin bertabrakan dengan pohon, kepalanya terbentur hingga tersungkur ke tanah. Dia langsung memeriksa arloji yang menunjukkan pukul 18.40 setelah mendarat. Artinya, Rankin telah berada di dalam awan selama sekitar 40 menit.
Rankin berhasil mencari bantuan dan beberapa orang langsung membawanya pergi ke rumah sakit terdekat. Dia menderita radang dingin, luka dekompresi dan luka ringan lainnya. Hasil pemeriksaan lebih lanjut menyatakan dia tidak cedera parah.
Rankin meninggal dunia di usia 88 tahun pada 2009 lalu, sekitar 50 tahun setelah melewati pengalaman mengerikan di udara. Selama sisa hidupnya, dia sempat kembali bekerja dan menulis buku “The Man Who Rode The Thunder”.
Hingga detik ini, Rankin adalah salah satu manusia yang pernah selamat dari cengkraman awan berbahaya. Entah itu keberuntungan atau diselamatkan Tuhan.
